Pendakian pertama
inilah saat-saat awal sebelum aku mengenal arti dari kata mendaki. Semuanya adalah pemula tanpa dasar dan bekal yang cukup menjanjikan tapi aku tetap percaya walaupun ini mulai dari nol, Allah SWT akan selalu bersama di setiap perjalanan kami.
15 desember 2012
Pemberangkatan dimulai pukul 9.00 pagi dari Purwokerto, di kediaman kos masing-masing. Rencana awal jam 7.00 sudah berangkat tapi kebudayaan ngaret itu masih tertata rapi di lingkungan kami dan kini jadi penikmat setia.Petualang yang akan mencetak sejarah baru untuk tiap individu. kami yang berjumlah enam orang benar telah membulatkan tekad menjajari gunung tertinggi di jawa tengah, gunung Slamet. Hari sabtu siang telah sampai di tempat Ibadah, ternyata perjalanan menuju BaseCamp memakan waktu 100 menit. kami istirahat sejenak sebelum kaki-kaki dituntut berjalan beratus-ratus kilo nantinya.
Pukul 13.00 terlihat kabut tipis turun perlahan. kami bergegas mempersiapkan diri untuk jalan. sebelumnya, jika dipikir lebih dalam lagi yang namanya pemula sudah nekad bawa tas Carriel berisi tiga botol aqua besar dan perlengkapan lainnya, padahal belum tentu bakalan kuat. Yang jelas tetap optimis. Hmm, SB, jaket, perl. mandi, perl. sholat, perl.makan, survival kit, ponco, senter, piring, gelas, sendok dan logistik makanan sudah siap dibawa naik ke atas. Managemen perjalanan insya Allah terlaksana dengan baik. Pendakian pertama memang sangat sederhana. saking nekadnya kami tidak bawa tenda dan kompor. tapi seadanya kompor lapangan, maklumlah notaband-nya adalah anak pramuka semua.
Kaki berjalan selirih siput. Pemandangan yang sungguh luar biasa tertangkap oleh mata. kami melewati perkebunan panjang, hutan yang dipenuhi pohon pinus dan tanah dengan kemiringan lumayan. Kebanyakan dari kami memang belum menyesuaikan dengan keadaan, sehingga 20 langkah kami berhenti, kadang 10 langkah juga istirahat sejenak.
Pos I
Tiba pukul 15.00, disana tidak ada matahari terlihat mungkin memang lagi musim penghujan. semuanya tertutup kabut. kali ini cukup mencengang, jika nanti kami kehujanan sebelum sampai di pos tujuan pasti jalannya akan rusak kena hujan otomatis langkah kita bakalan mengenaskan, hehe takut jatuh ya pelan-pelan. inilah yang bikin buang waktu. Bergegas, kami melanjutkan perjalanan. Ya Allah,... medannya tinggi. jarak tanah satu dengan yang lain lumayan jauh, ini benar-benar medan berat yang harus dilalui. ingat, jangan mengeluh karena itu adalah sebuah pantangan. Nah, ketika sudah mencapai bangunan separuh tiang bertuliskan Perbatasan Purbalingga dan Pemalang rasanya melegakan. artinya pos II tinggal setengah perjalanan lagi. Ternyata disini dengan satu langkah saja aku sudah ada di Pemalang, hehe
Pos II
Dibawah pohon besar dan tanah datar, disinilah pos II didirikan. Rasa lelah capek semua ada. aku merasa tidak kuat membawa bebab seberat itu, akhirnya satu botol dikurangi dan dibawa temen yang lain. alhamdulillah..... Let's go!!!...... semangat bisa!!. oh ya, di pondok walang ini tidak ada semacam gubug beda kalau di pos I.
Pos III
Hujan gerimis mulai mengguyur perjalanan. inilah gunung sekali kebasahan air, suhu tubuh layaknya turun drastis, dingin sekali. Badan menggigil, bulu-bulu halus merinding, apalagi suasana sudah gelap gulita. Pukul 18.00 kami sampai di pos bayangan, istirahat sejenak untuk sholat Maghrib dan ngemil-ngemil sedikit biar tubuh bisa terbakar oleh makanan. Petualang dimulai lagi dibawah air hujan, kaki harus tetap berjalan dan tubuh hrus digerakkan supaya menahan hawa dingin di perjalanan.
Pos IV
Mata meredup bila tanpa penerangan. Gelap gulita suasana di gunung tepat pukul 19.30 kami berhenti bersenderan di reruntuhan pohon yang berjejaran, cocok untuk duduk-duduk bersama. Pos IV sama halnya pos II dan III, plang nama hanya di tempel di pohon saja. sedikit cerita saja karena sudah tidak sadar waktu itu.
Pos V
Terlihat sebuah gubug berdiri, didalamnya seperti ada gerakan manusia. Angin yang menyerbu jalan kami menjadi lelet kecapean. iya, ada perapian di dalam, berarti kami tidak sendiri ada di gunung ini. ada tanda-tanda kehidupan beberapa manusia disana. Kami segera ikut mendekat. Hmm, memang tidak pandang bulu, kami disambut dengan baik walau tidak saling mengenal. Hidup di gunung semuanya adalah keluarga. Kami disuguhi air hangat dan mereka berusaha menghibur biar kami tidak kedinginan. biasalah, isinya canda-canda saja.
Pos VI-VII
Perjalanan di atas kegelapan malam, sejujurnya aku berjalan sambil tertidur. sehingga situasi hati tidak menyenangkan, aku terus mengeluh dalam hati mau sampai kapan aku berjalan membawa Carriel. Pendakian tanpa persiapan fisik dan mental itulah yang saat ini kulalui.
Jadi kalau mau naik gunung jangan menyepelekan keadaan. ingat persiapan fisik harus diperhatikan dan bawalah perlengkapan yang memang benar-benar dibutuhkan.
Suasana di Puncak
Diatas ketinggian 3438 kudipertemukan keagungan-Nya. Berdiri diatas gerombolan awan adalah kebanggaan tersendiri.
Ketika kabut tipis turun perlahan, teringat aku teringat .. diperjalanan sebelum sampai puncak.
Kuterhenyak. pohon-pohon rindang berkelabut, akar-akanya yang panjang menemani langkah kaki di setiap jalur pendakian. Embun terjatuh meneduhkan suasana jalan. itulah kehijauan dihutan gunung.
Seketika pandanganku tertumbuk pada tanjakan gersang yang dipenuhi pepohonan tumbang. disanalah pernah terjadi kebakaran di gunung.
Setiba ditempat tanpa adanya tumbuhan yang bisa tertanam disini. aku menginjak diatas tumpukan batu dan pasir. tantangan yang sesungguhnya, terkadang aku merangkak melewatinya. Gerbang menuju puncak disinilah tanjakan berdiri diantara jurang. Pelawangan adalah medan terberat dalam mendaki.
Puncak kini ada didepan. akhirnya kakiku menjamah di dataran sempit dan tertinggi itu. Pemandangan yang melukiskan betapa kecilnya pulau jawa ini membuatku merinding.
Kutersadar kebesaran-Nya
ini adalah perjalanan. kini aku terbangkit untuk mengenal lebih dalam lagi alam indonesia.
pertama. menjelajahi dan berpetualang di gunung.
kedua. aku ingin melangkah di atas ketinggian tebing vertikal
ketiga. aku ingin masuk ke perut bumi, mencusur kedaman gua dibawah tanah
sehebat apapun orang, pasti tidak ada yang sempurna.
aku ingin terbitkan majalah tentang alam, agar setiap orang mencintai alamnya.
tahapan ini akan kulalui di perjalananku sebagai mahasiswa pecinta alam.
disinilah aku tau seluk-beluk yang ada di alam.
Menjelajah aneka ragam tanaman dengan konservasi
Menjelajahi arus waktu bagaikan arus air dengan arung jeram dan tubingan
Menjelajahi betapa berharganya jiwa dan raga orang lain dalam tim SAR
Menjelajahi tiap kaki dalam managemen perjalanan
tetaplah hidup alamku
inilah saat-saat awal sebelum aku mengenal arti dari kata mendaki. Semuanya adalah pemula tanpa dasar dan bekal yang cukup menjanjikan tapi aku tetap percaya walaupun ini mulai dari nol, Allah SWT akan selalu bersama di setiap perjalanan kami.
15 desember 2012
Pemberangkatan dimulai pukul 9.00 pagi dari Purwokerto, di kediaman kos masing-masing. Rencana awal jam 7.00 sudah berangkat tapi kebudayaan ngaret itu masih tertata rapi di lingkungan kami dan kini jadi penikmat setia.Petualang yang akan mencetak sejarah baru untuk tiap individu. kami yang berjumlah enam orang benar telah membulatkan tekad menjajari gunung tertinggi di jawa tengah, gunung Slamet. Hari sabtu siang telah sampai di tempat Ibadah, ternyata perjalanan menuju BaseCamp memakan waktu 100 menit. kami istirahat sejenak sebelum kaki-kaki dituntut berjalan beratus-ratus kilo nantinya.
Pukul 13.00 terlihat kabut tipis turun perlahan. kami bergegas mempersiapkan diri untuk jalan. sebelumnya, jika dipikir lebih dalam lagi yang namanya pemula sudah nekad bawa tas Carriel berisi tiga botol aqua besar dan perlengkapan lainnya, padahal belum tentu bakalan kuat. Yang jelas tetap optimis. Hmm, SB, jaket, perl. mandi, perl. sholat, perl.makan, survival kit, ponco, senter, piring, gelas, sendok dan logistik makanan sudah siap dibawa naik ke atas. Managemen perjalanan insya Allah terlaksana dengan baik. Pendakian pertama memang sangat sederhana. saking nekadnya kami tidak bawa tenda dan kompor. tapi seadanya kompor lapangan, maklumlah notaband-nya adalah anak pramuka semua.
Kaki berjalan selirih siput. Pemandangan yang sungguh luar biasa tertangkap oleh mata. kami melewati perkebunan panjang, hutan yang dipenuhi pohon pinus dan tanah dengan kemiringan lumayan. Kebanyakan dari kami memang belum menyesuaikan dengan keadaan, sehingga 20 langkah kami berhenti, kadang 10 langkah juga istirahat sejenak.
Pos I
Tiba pukul 15.00, disana tidak ada matahari terlihat mungkin memang lagi musim penghujan. semuanya tertutup kabut. kali ini cukup mencengang, jika nanti kami kehujanan sebelum sampai di pos tujuan pasti jalannya akan rusak kena hujan otomatis langkah kita bakalan mengenaskan, hehe takut jatuh ya pelan-pelan. inilah yang bikin buang waktu. Bergegas, kami melanjutkan perjalanan. Ya Allah,... medannya tinggi. jarak tanah satu dengan yang lain lumayan jauh, ini benar-benar medan berat yang harus dilalui. ingat, jangan mengeluh karena itu adalah sebuah pantangan. Nah, ketika sudah mencapai bangunan separuh tiang bertuliskan Perbatasan Purbalingga dan Pemalang rasanya melegakan. artinya pos II tinggal setengah perjalanan lagi. Ternyata disini dengan satu langkah saja aku sudah ada di Pemalang, hehe
Pos II
Dibawah pohon besar dan tanah datar, disinilah pos II didirikan. Rasa lelah capek semua ada. aku merasa tidak kuat membawa bebab seberat itu, akhirnya satu botol dikurangi dan dibawa temen yang lain. alhamdulillah..... Let's go!!!...... semangat bisa!!. oh ya, di pondok walang ini tidak ada semacam gubug beda kalau di pos I.
Pos III
Hujan gerimis mulai mengguyur perjalanan. inilah gunung sekali kebasahan air, suhu tubuh layaknya turun drastis, dingin sekali. Badan menggigil, bulu-bulu halus merinding, apalagi suasana sudah gelap gulita. Pukul 18.00 kami sampai di pos bayangan, istirahat sejenak untuk sholat Maghrib dan ngemil-ngemil sedikit biar tubuh bisa terbakar oleh makanan. Petualang dimulai lagi dibawah air hujan, kaki harus tetap berjalan dan tubuh hrus digerakkan supaya menahan hawa dingin di perjalanan.
Pos IV
Mata meredup bila tanpa penerangan. Gelap gulita suasana di gunung tepat pukul 19.30 kami berhenti bersenderan di reruntuhan pohon yang berjejaran, cocok untuk duduk-duduk bersama. Pos IV sama halnya pos II dan III, plang nama hanya di tempel di pohon saja. sedikit cerita saja karena sudah tidak sadar waktu itu.
Pos V
Terlihat sebuah gubug berdiri, didalamnya seperti ada gerakan manusia. Angin yang menyerbu jalan kami menjadi lelet kecapean. iya, ada perapian di dalam, berarti kami tidak sendiri ada di gunung ini. ada tanda-tanda kehidupan beberapa manusia disana. Kami segera ikut mendekat. Hmm, memang tidak pandang bulu, kami disambut dengan baik walau tidak saling mengenal. Hidup di gunung semuanya adalah keluarga. Kami disuguhi air hangat dan mereka berusaha menghibur biar kami tidak kedinginan. biasalah, isinya canda-canda saja.
Pos VI-VII
Perjalanan di atas kegelapan malam, sejujurnya aku berjalan sambil tertidur. sehingga situasi hati tidak menyenangkan, aku terus mengeluh dalam hati mau sampai kapan aku berjalan membawa Carriel. Pendakian tanpa persiapan fisik dan mental itulah yang saat ini kulalui.
Jadi kalau mau naik gunung jangan menyepelekan keadaan. ingat persiapan fisik harus diperhatikan dan bawalah perlengkapan yang memang benar-benar dibutuhkan.
Suasana di Puncak
Diatas ketinggian 3438 kudipertemukan keagungan-Nya. Berdiri diatas gerombolan awan adalah kebanggaan tersendiri.
Ketika kabut tipis turun perlahan, teringat aku teringat .. diperjalanan sebelum sampai puncak.
Kuterhenyak. pohon-pohon rindang berkelabut, akar-akanya yang panjang menemani langkah kaki di setiap jalur pendakian. Embun terjatuh meneduhkan suasana jalan. itulah kehijauan dihutan gunung.
Seketika pandanganku tertumbuk pada tanjakan gersang yang dipenuhi pepohonan tumbang. disanalah pernah terjadi kebakaran di gunung.
Setiba ditempat tanpa adanya tumbuhan yang bisa tertanam disini. aku menginjak diatas tumpukan batu dan pasir. tantangan yang sesungguhnya, terkadang aku merangkak melewatinya. Gerbang menuju puncak disinilah tanjakan berdiri diantara jurang. Pelawangan adalah medan terberat dalam mendaki.
Puncak kini ada didepan. akhirnya kakiku menjamah di dataran sempit dan tertinggi itu. Pemandangan yang melukiskan betapa kecilnya pulau jawa ini membuatku merinding.
Kutersadar kebesaran-Nya
ini adalah perjalanan. kini aku terbangkit untuk mengenal lebih dalam lagi alam indonesia.
pertama. menjelajahi dan berpetualang di gunung.
kedua. aku ingin melangkah di atas ketinggian tebing vertikal
ketiga. aku ingin masuk ke perut bumi, mencusur kedaman gua dibawah tanah
sehebat apapun orang, pasti tidak ada yang sempurna.
aku ingin terbitkan majalah tentang alam, agar setiap orang mencintai alamnya.
tahapan ini akan kulalui di perjalananku sebagai mahasiswa pecinta alam.
disinilah aku tau seluk-beluk yang ada di alam.
Menjelajah aneka ragam tanaman dengan konservasi
Menjelajahi arus waktu bagaikan arus air dengan arung jeram dan tubingan
Menjelajahi betapa berharganya jiwa dan raga orang lain dalam tim SAR
Menjelajahi tiap kaki dalam managemen perjalanan
tetaplah hidup alamku
Foto008.jpg)
