Social Bookmarking
Home » Archives for 04/22/14
9 Pillars Merapi Ruler
Unknown || Tuesday, April 22, 2014 || || Leave a comments7 Animals When Lost in the woods
Unknown || || || Leave a commentsPenjelajahan Gunung Merbabu
Unknown || || || Leave a comments5 cm Eating Lots of Trees
Unknown || || || Leave a commentsImam Hambali
Unknown || || || Leave a commentsImam Maliki
Unknown || || || Leave a comments
Imam Malik dilahirkan di sebuah perkampungan kecil yang bernama Ashbah, yang terletak di dekat Kota Himyar jajahan Yaman. Nama aslinya ialah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir Al-Ashabally. Beliau adalah seorang ulama besar yang lahir di Madinah serta mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap dunia Islam.
Ketika Imam Malik berusia 54 tahun, pemerintahan berada di tangan baginda Al-Mansur yang berpusat di Bagdad. Ketika itu di Madinah dipimpin oleh seorang gabenor bernama Jaafar bin Sulaiman Al-Hasymi. Sementara itu Imam Malik juga menjabat sebagai mufti di Madinah. Di saat timbulnya masalah penceraian atau talak, maka Imam Malik telah menyampaikan fatwanya, bahawa talak yang dipaksakan tidak sah, ertinya talak suami terhadap isteri tidak jatuh. Fatwa ini sungguh berlawanan dengan kehendak gabenor, kerana ia tidak mahu hadith yang disampaikan oleh Imam Malik tersebut diketahui oleh masyarakat, sehingga akhirnya Imam Malik dipanggil untuk mengadap kepada gabenor.
Kemudian gabenor meminta agar fatwa tersebut dicabut kembali, dan jangan sampai orang ramai mengetahui akan hal itu. Walaupun demikian Imam Malik tidak mahu mencabutnya. Fatwa tersebut tetap disiarkan kepada orang ramai. Talak yang dipaksanya tidak sah. Bahkan Imam Malik sengaja menyiarkan fatwanya itu ketika beliau mengadakan ceramah-ceramah agama, kerana fatwa tersebut berdasarkan hadith Rasulullah SAW yang harus diketahui oleh umat manusia.
Akhirnya Imam Malik ditangkap oleh pihak kerajaan, namun ia masih tetap dengan pendiriannya. Gabenor memberi peringatan keras supaya fatwa tersebut dicabut dengan segera Kemudian Imam Malik dihukum dengan dera dan diikat dengan tali dan dinaikkan ke atas punggung unta, lalu diarak keliling Kota Madinah. Kemudian Imam Malik dipaksa supaya menarik kembali fatwanya itu.
Mereka mengarak Imam Malik supaya Imam merasa malu dan hilang pendiriannya. Tetapi Imam Malik masih tetap dengan pendiriannya itu. Kerana ketegasannya itu, dia dihukum dengan sebat sebanyak 70 kali, yang menyebabkan tulang belakangnya hampir patah. Kemudian ia berkata kepada sahabat-sahabatnya:
“Aku dihukum dera begitu berat lantaran fatwa ku. Demikian Said Al-Musayyid, Muhamad Al-Munkadir dan Rabiah telah dijatuhi hukuman demikian lantaran fatwanya juga.”
Bagi Imam Malik hukuman semacam itu, bukanlah mengurangi pendiriannya, bahkan semakin bertambah teguh jiwanya. Ia tidak pernah takut menerima hukuman asalkan ia berada pada jalan kebenaran. Kerana memang setiap perjuangan itu memerlukan pengorbanan. Imam Al-Laits, seorang alim menjadi mufti Mesir ketika itu, saat mendengar bahawa Imam Malik dihukum lantaran fatwanya ia berkata: “Aku mengharap semoga Allah mengangkat darjat Imam Malik atas setiap pukulan yang dijatuhkan kepadanya, menjadikan satu tingkat baginya masuk ke syurga.”
Insya Allah.
Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/culture/2416128-imam-maliki/#ixzz2ze72kH3v
Larangan Ngalap Berkah
Unknown || || || Leave a comments
Ngalap Berkah adalah menjadi hal yang membudaya bahkan dianggap peribadatan yang sangat afdhal bahwa pada bulan-bulan atau hari-hari tertentu, misalnya bulan Mulud, menjelang Ramadhan atau bulan-bulan/hari-hari lain. Banyak orang Islam berbondong-bondong dari berbagai tempat ke petilasan-petilasan/ kuburan-kuburan kyai, orang-orang shaleh atau yang dianggap wali.
Mereka datang dari tempat yang cukup jauh dengan mencurahkan tenaga kiran dan
harta. Tidak peduli berapa banyak harta yang akan terbuang untuknya. Padahal orang yang paling suci dan paling terhormat, yaitu Rasulullah telah bersabda: Janganlah kamu mengharuskan berpergian (untuk ibadah / berziarah) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (musjid Nabawi) dan Masjidil Aqsha (Muttafaq 'Alaih)
Jadi, kecuali ketiga masjid yang disebutkan dalam hadits di atas, Rasulullah telah melarang umatnya untuk sengaja mengharuskan melakukan perjalanan dalam rangka
peribadatan.
Maka hanya dengan melakukan ziarah-ziarah ke kuburan-kuburan orang yang dianggap wall dari tempat-tempat yang jauh itu sudah merupakan pelanggaran terhadap larangan Rasulullah, di samping juga merupakan tindakan bid'ah karena Rasulullah dan para shahabatnya tidak pernah menjalankannya. Jika memang itu balk, apa lagi merupakan peribadatan tentu sudah dijalankan oleh Rasulullah dan para shahabatnya.
Sebab mereka adalah orang yang paling bersemangat mengejar kebaikan. Tidak ada satupun celah kebaikan yang ditinggalkan oleh Nabi dan para shahabatnya. Apalagi, ternyata bahwa ziarah-ziarah ke kuburan-kuburan / petilasan-petilasan para wall itu dimaksudkan untuk ngalap berkah, meminta-minta kepada orang yang telah mati dan mencari syafa'at. Jika demikian halnya, maka jelas bahwa itu adalah syirik akbar.
Apabila orang tidak bertaubat dari kegiatan ini dan mati dalam keadaan demikian, maka Allah tidak akan mengampuninya, kekal di dalam neraka,Wal 'iyadzu billah. Allah berfrrman: Sesungguhnya Allah tidak mengampuni perbuatan dosa syirik kepada-Nya, dan Allah mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. (an-Nisa': 48)
Mereka mestinya menyadari bahwa apa yang dilakukannya tidak berbeda dengan apa yang dilakukan kaum Musyrikin jahiliyah pada masa Nab, yaitu tentang apa yang dikisahkan oleh Allah dalam firman-Nya Tidakkah kamu memperhatikan Lata, Uzza dan yang ketiga adalah Manat? (an-Najm: 19-20)
Tiga berhala yang disembah oleh orang-orang jahiliyah dengan cars ngalap berkah, meminta-minta dan mencari syafa'at. Salah satu berhala itu yakni Lata, oleh sebagian ulama diantaranya Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan Humaid dibaca Latta dengan tasydid, artinya orang yang pada saat hidupnya terkenal sebagai tukang membikin makanan dari adonan gandum yang kemudian disajikan bagi para pendatang yang berthawaf dan beribadah di Baitullah. Maka ia dianggap sebagai orang berjasa yang ketika mati lain diabadikan menjadi berhala yang bernama Lata. Nah, mudah-mudahan orang dapat mengerti persamaan kasus di atas, kemudian menyadari dan meninggalkannya. Karena hal itu termasuk penyembahan kepada selain Allah.
Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/spirituality/2416132-pelarangan-ngalap-berkah/#ixzz2ze6ZsX00
Larangan Meminta Bantuan Kepada Arwah Rasul, Wali Atau Tokoh Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/spirituality/2416134-larangan-meminta-bantuan-kepada-arwah/#ixzz2ze37X0MW
Unknown || || || Leave a comments
Meminta bantuan kepada arwah Rasul, wali atau tokoh-tokoh, ini bukan hanya menjadi kebiasaan dan keyakinan yang membudaya, tetapi bahkan dihidup-hidupkan sebagai kesenian budaya. Sehingga kegiatan itu betul-betul menyatu dan mendarah daging dalam jiwa dan keyakinan sebagian besar masyarakat. Dapat disaksikan dibanyak tempat adanya upacara-upacara serta kesenian-kesenian ritual yang berisi kegiatan syaithani ini. Bahkan dalam nyanyian-nyanyian dan senandungnya sering terdengar ungkapanungkapan seperti: "Al-madad, al-madad ya Rasul". Artinya: "Bantuan, bantuan wahai Rasul." Maksudnya meminta bantuan kepada Rasul yang telah wafat. Tentu ini adalah syirik akbar. Dan peringatan-peringatan maulid Nabi merupakan media yang subur untuk kegiatan-kegiatan semacam ini. Pujian-pujian kepada nabi yang disenandungkan sarat dengan isi kemusyrikan, misalnya:
Wahai lmam para Rasul, wahai sandaranku, Engkau adalah pintu Allah dan gantunganku
Begitu pula bait-bait sesudahnya yang berisi pujian berlebihan hingga mendudukan Rasulullah seperti Tuhan. Subhanallah `amma Yusyrikun. Kadang ada pula masyarakat yang datang ke kuburan tokoh, lalu katanya dapat berdialog dengan arwah tekoh tersebut untuk meminta bantuan. Padahal yang bersuara adalah jin (setan) dengan memyerupai suara tokoh dimaksud agar manusia terperosok dalam kekafiran. Sebenarnya dalam rangka melakukan ziarah kubur kepada para wali itu sah-sah saja asal niatnya tidak menjerumuskan dalam kemusyrikan. Bertawasullah untuk berdo’a kepada Allah di tempat yang dekat dengan Tuhan.
Orang harus merasa takut terjerumus dalam kemusyrikan. Sebab orang terkadang menganggap baik terhadap sesuatu dan menyangka sebagai taqarrub kepada Allah, padahal sesuatu itu justru merupakan hal yang paling menjauhkan seseorang dari rahmat Allah, dan paling potensial mendatangkan murka Allah. Berdasarkan kisah di atas, juga dapat diambil kesimpulan bahwa istilah atau sebutan tidak membatasi hakikat suatu masalah. Sekalipun sekarang sebutan Dzatu anwath (sesuatu yang memiliki keramat) tidak dipakai misalnya, tetapi ternyata hakikat permasalahanya sama, maka tetap saja merupakan kemusyrikan. Orang yang musyrik tetap musyrik walaupun ia menamakan kemusyrikannya sebagai amalan wirid. Meminta-minta kepada orang mati, menyembelih untuk orang mati, bernadzar untuk orang mati dan sebagainya tetap syirik sekalipun kegiatan-kegiatan itu diistilahkan sebagai penghormatan atau sebagai ungkapan rasa cinta kepada nabi yang telah mati.
Rasulullah murka dan menganggap permintaan shahabat akan Dzatu anwath, sama dengan permintaan Bani Israil kepada Musa akan berhala. Jadi jelas yang menjadikan
ukuran bukan istilahnya, tetapi hakikatnya. Begitulah, hendaknya contoh-contoh tentang kemusyrikan di alas menjadi bahan kajian, bahwa bukan hanya itu saja bentuk kemusyrikan, tetapi bisa berkembang dalam berbagai bentuk lain. Yang jelas umat Islam harus berhati-hati dan berupaya keras untuk kembali mempelajari agamanya secara benar kemudian mengamalkannya secara benar supaya selamat dunia dan akhiratnya.
Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/spirituality/2416134-larangan-meminta-bantuan-kepada-arwah/#ixzz2ze321eFX
Larangan Akik, Sabuk, dan Qur’an Stambul Sebagai Jimat Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/spirituality/2416135-larangan-akik-sabuk-dan-qur/#ixzz2ze2o6oBc
Unknown || || || Leave a comments
Ketika akik diyakini memiliki daya magis, atau telah diisi dengan amalan-amatan mantera oleh dukun (atau oleh dukun yang bernama kyai bersorban) hingga akik tersebut diyakini berkekuatan magis. Maka orang masih berkelit dengan argument-argumen; "Bahkan number kekuatan sebenarnya adalah Allah, sedangkan akik tersebut
hanya wasilah raja." Karenanya orang beranggapan tidak syirik. Terlebih lagi yang menjadi pialang akik-akik tersebut adalah orang-orang yang dianggap ulama' atau ahli agama. Sehingga sempurnalah selubung syubhat yang menutupi kemusyrikan tersebut.
Begitu pula sabuk yang telah diisi dengan rajah-rajah, hijib-hijib atau mantera-mantera. Pelaku atau pemiliknya adalah pelaku kemusyrikan. Dan pengisi sabuk tersebut adalah dukun yang harus dijauhi, sekalipun berkedok orang yang bersorban. Tidak berbeda pula dengan Qur'an stambul, sebuah Qur'an (yang biasanya) berukuran kecil mungil dan huruf-hurufnya tidak terbaca kecuali (barangkali) dengan kaca pembesar. Buku yang dibikin menyerupai al-Qur'an dalam ukuran terlalu kecit ini diyakini bisa menolong pemiliknya dari marabahaya.
Mungkin benda yang meyerupai al-Qur'an itu sengaja dibuat untuk mengelabuhi manusia supaya mudah terjerumus dalam kemusyrikan. Orang akan berdalih: "Bukankah ini Qur'an? dan bukankah alQur'an merupakan obat?" Nah al-Qur'an sebagai obat disalah artikan maknanya untuk kepentingan jimat. Dan itu adalah syirik. Tamimah, menurut al-Mundziri artinya untaian kalung yang dipakai guna mengusir penyakit. (Keyakinan terhadap tamimah) ini adalah kejahilan dan kesesatan. Sebab tidak ada sesuatupun yang dapat menghalangi atau menolak apapun kecuali Allah.
Menurut Abu as-Sa'adaat:
Tamimah adalah untaian kalung yang dahulu oleh orang Arab dipakaikan kepada anak-
anaknya agar terlindungi dari ganguan setan. Tetapi hal ini kemudian diberantas oleh Islam. Berdasarkan hadits ini, memakai Tamimah atau kalung apa saja untuk tujuan perlindungan diri dari ganguan setan, ganguan roh jahat, penyembuhan penyakit atau tolak bala', adalah termasuk syirik yang harus diberantas.
Demikianlah beberapa contah kemusyrikan yang sangat membudaya di tengah masyarakat. Di sana masih banyak contoh-contoh lain yang sangat membelenggu don mencengkaram keyakinan masyarakat. Secara garis besar contoh-contoh itu antara lain: menyakini kesialan angka 13, keyakinan jika menabrak kucing maka akan celaka, keyakinan para sopir jika melewati jalan angker harus berpamitan terlebih dahulu kepada yang Mbau rekso tempat angker tersebut dengan membunyikan klakson, keyakinan bahwa tiap malam jum'at kliwon harus memberikan sesajian diperempatan-perempatan jalan, adat istiadat menginjak telor dan segala kegiatan yang mengiringi bagi pengantin, memasang dekorasi dengan tandanan pisang pada pinto masuk halaman dalam pests pengantin, brobosan (melewati bawah) jenazah yang akan diberangkatkan antak di kubur, menyakini kebenaran para dukun dan tiara normal, menyakini bahwa seekor kerbau dapat memberikan berkah, menyakini bahwa pusaka atau kereta keraton dapat memberikan berkah sehingga perlu dimandikan dan airnya dijadikan rebutan, dan berbagai contoh kemusyrikan lain yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.
Apabila hal-hal di atas masih membelenggu keyakinan masyarakat, menjadi budaya dan tidak ada upaya untuk memberantasnya, maka umat ini tidak dapat diharapkan akan keluar dari kesulitan-kesulitan dan bencana-bencana. Di dunia akan sengsara dan di akhirat akan binasa.
Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/spirituality/2416135-larangan-akik-sabuk-dan-qur/#ixzz2ze2fBeDU
Esq: Memadukan Kecerdasan Emosional dan Spiritual
Unknown || || || Leave a comments
Pada tahun 1995 Daniel Goleman berdasarkan berbagai temuan dan hasil riset para pakar psikologi dan neurology mempopulerkan istilah kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence) yang popular dengan nama EQ (Emotional Quotient). Ia menunjukkan bahwa unsur perasaan sama pentingnya dengan kecerdasan rasional, bahkan dalam kenyataannya, lebih berperan daripada IQ dalam menentukan karier dan pergaulan sosial. EQ pada dasarnya merupakan kesadaran atas perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain serta kemampuan untuk mengelola keduanya.
Tepat di awal milenium ini muncul ragam kecerdasan yang ketiga, yaitu kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) atau yang lebih dikenal dengan SQ (spiritual quotient). Temuan SQ ini melengkapi kecerdasan lainnya dalam memandang manusia lebih utuh. Tokohnya adalah Danah Zohar dan Ian Marshall dengan buku "SQ: Spiritual Intelligence, the ultimate Intelligence."
SQ menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki kesadaran dan kebebasan untuk mengembangkan diri secara bertanggungjawab dan mampu memiliki wawasan mengenai kehidupan serta memungkinkan untuk menciptakan secara kreatif karya-karya baru. Yang menarik adalah adanya "God Spot" pada otak manusia yang menunjukkan aktifitas baru yang intensif bila berbicara dan memikirkan hal-hal spiritual.
Kecerdasan spiritual tidak sama dengan beragama dan tidak perlu berkaitan dengan agama formal. Mungkin bagi sementara orang,SQ terungkap melalui agama formal yang dianutnya, tetapi beragama tidak selalu menjamin adanyaSQ yang tinggi.
ESQ: sinergi EQ dan SQ
Pada pertengehan 2001, Ary Ginanjar Agustian, seorang cendikiawan muda, CEO dan pebisnis sukses Indonesia meluncurkan buku ESQ: Emotional Spiritual Quotient berdasarkan 6 rukun iman dan 5 rukun islam.
ESQ secara komprehensif mengintegrasikan berbagai asas, sikap dan tuntutan untuk mengembangkan karakter tangguh baik secara pribadi, social, fisik dan mental. Menurut konsep ini, langkah-langkah pengembangan karakter manusia dimulai dari kesadaran terhadap fitrah manusia (God spot) yang perlu dibebaskan dulu dari berbagai belenggu kejiwaan yang disebut penjernihan emosi (Zero Mind Process), setelah itu memperkokoh dasar pembangunan mental (mental building), kemudian barulah meningkatkan ketangguhan pribadi (Mission Statement, Self Controlling) dan Ketangguhan sosial (Strategic Colaboration; Total Action). Dengan melakukan langkah-langkah itu diharapkan dapat mewujudkan sosok pribadi idaman pripurna yang disebut Insan Paripurna ESQ.
ESQ pada dasarnya menunjukkan adanya hati nurani dan sifat-sifat mulia serta potensi luar biasa yang terpendam dalam setiap diri manusia, antara lain bermanfaat untuk pengembangan pribadi dengan karakter sukses. Bagimana caranya? Dengan menyadari, menghargai dan mensyukuri berbagai potensi diri sebagai insan istimewa ciptaan Tuhan, kemudian mewujudkan dengan menerapkan asas-asas kesuksesan dan melaksanakan secara utuh, menyeluruh, sistematis dan berupaya mengarahkan diri pada karakteristik pribadi yang diidamkan. Secara sadar dan sengaja!
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2415957-esq-memadukan-kecerdasan-emosional-dan/#ixzz2ze2Ft5H9
Pendidikan ESQ
Unknown || || || Leave a comments
Dalam rangka mengisi kegiatan ekstra kurikuler (ekskul). siswa smu swasta dharmawangsa mengadakan pendidikan esq (emotional spiritual quotient). kegiatan ini merupakan "rahasia sukses membangun kecerdasan emosi dan spiritual berdasarkan 6 rukun iman dan 5 rukun islam"
Kegiatan dilaksanakan dalam dua tahap, tahap pertama untuk jurusan IPA yang dilaksanakan Minggu, 15 Februari pukul 08.00 - 11.00 WIB sedangkan tahap ke dua Minggu 22 Februari dengan waktu yang sama, dilaksanakan di gedung Aula SMU Dharmawangsa Medan, pesertanya khusus bagi siswa kelas tiga.
Kegiatan dibuka Wakasek Drs. Ahmad Syamsuri dan sebagai penyampai materi (tentor) Bapak Fuad. Selama berlangsungnya kegiatan, para siswa diberikan materi yang bernafaskan Islami seperti muhasabah, pengenalan diri secara Islam, mereka juga dianjurkan untuk sejenak merenungi perjalanan hidup mereka selama ini. Apakah umur yang diberikan telah dipergunakan untuk sesuatu yang berguna atau sebaliknya hanya digunakan untuk berbuat kezaliman.
Mereka juga diajarkan bagaimana cara hidup yang lebih bermanfaat bagi diri sendiri mupun orang lain. Hidup bukan untuk berfoya-foya menghabiskan usia tanpa arti. Tetapi hidup harus digunakan untuk mencari bekal akhirat (kita harus berbuat kebajikan, menjauhi segala larangan Allah dan mengerjakan perintah-Nya), karena ada hidup setelah mati.
Para siswa juga diajak untuk lebih mengenal diri, siapa sebenarnya kita, untuk apa kita diciptakan dan lain sebagainya. Hal ini tentunya akan membuat para siswa lebih menyadari tanggungjawab dan kewajibannya sebagai seorang siswa.
Selain itu yang membuat para peserta lebih haru dan meresapi segala materi yang disampaikan dalam kegiatan ini ialah, adanya iringan musik ilustrasi bernafaskan Islami yang alunannya meluluhkan suasana hati. Maka tidak pelak lagi suasanapun jadi lebih hening.
Menurut Wakasek Drs. Ahmad Syamsuri kegiatan ini merupakan upaya memotivasi siswa supaya lebih bertanggungjawab sebagai seorang pelajar untuk lebih bersungguh-sungguh belajar, sekaligus merubah sikap mereka yang mungkin selama ini suka berhura-hura untuk segera berbenah diri. "Apalagi mereka sebentar lagi akan menghadapi UAN, kalau para siswa khususnya kelas tiga tidak segera berbenah diri untuk meninggalkan sikap hura-huranya saya khawatir mereka sulit untuk mencapai keberhasilan (lulus) dalam menghadapi UAN nantinya. Apalagi ujian negara sudah di depan mata," ungkapnya kepada SMW.
Beliau juga menambahkan, sebenarnya para siswa sangat beruntung bisa mendapatkan kesempatan pendidikan seperti ini. Apalagi mereka tidak dipungut biaya, sementara pendidikan ESQ ini sebenarnya sangat mahal, tambahnya.
Pendidikan ESQ ini ternyata memang sangat dahsyat dalam mempengaruhi perubahan sikap menuju yang lebih baik lagi kepada para pesertanya. Sesuai pengakuan beberapa siswa di sana yang mengikuti pendidikan ESQ.
Menurut Afri Meliani, "Mengikuti pendidikan ESQ membuat saya benar-benar menjadi orang yang merasa paling bersalah. Saya jadi sadar bahwa pola hidup saya selama ini perlu dibenahi. Hura-hura, kesombongan, bangga diri dan sebagainya ternyata tidaklah ada artinya. Hanya saja harapan saya kegiatan seperti ini tidak cukup hanya sekali, maunya kegiatan seperti ini bisa dilakukan minimal seminggu sekali."
Hal senada juga diungkapkan Hangga Pranata yang juga peserta ESQ, "Pendidikan ESQ ini sangat baik dalam upaya merubah sikap dan meningkatkan emosional spiritual para siswa untuk lebih baik lagi sekaligus menyadari apa sebenarnya tanggungjawab seorang pelajar. Hanya saja yang saya sayangkan pendidikan seperti ini jarang sekali dan di sini baru kali ini, saya pikir ini belum cukup." Ketika ditanyakan kepada Wakasek Ahmad Syamsuri, memang kita punya rencana untuk mengadakan pendidikan ESQ ini secara berkesinambungan. Hanya saja segala sesuatunya itu kan perlu biaya. Apa mau siswa dipungut biaya, untuk membuat kegiatan seperti ini! "Yang pasti nanti kita akan cari jalan keluarnya lebih lanjut," ungkapnya mengakhiri
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2415959-pendidikan-esq/#ixzz2ze0pvUR8
Daerah Panas Bumi
Unknown || || || Leave a comments
Daerah Sumani adalah salah satu daerah panas bumi di Sumatera yang berada di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Indikasi keprospekan di daerah ini berupa mata air panas dengan suhu sekitar 35 – 72 oC dan batuan alterasi. Penyelidikan geofisika terpadu dengan metode gaya berat, magnet dan geolistrik dilakukan pada tahun 2011 untuk memperoleh data keprospekan seperti letak, delineasi dan dimensi sistem panas bumi. Kompilasi hasil geofisika menunjukkan zona prospek panas bumi berada di sekitar pemunculan air panas dengan luas sekitar 20 km2, dengan sumber panas berupa tubuh plutonik sedangkan kedalaman resevoir panas bumi belum terdeteksi.
Pada tahun 2011 Pusat Sumber Daya Geologi melakukan penyelidikan geofisika terpadu (gaya berat, magnet dan geolistrik) di daerah panas bumi Sumani.Penyelidikan ini bertujuan untuk memperoleh data keprospekan seperti letak, delineasi dan dimensi sistem yang berkaitan dengan panas bumi (resevoir, lapisan penudung dan sumber panas). Data ini kemudian menjadi data dukung untuk evaluasi keprospekan kepanasbumian secara terpadu dengan hasil survei geologi dan geokimia.
Daerah panas bumi Sumani berada di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat (Gambar 1). Keberadaan sistem panas bumi di daerah ini diindikasikan dengan adanya beberapa kelompok manifestasi mata air panas seperti mata air panas Sumani, Tangjung Bikuang dan Lubuk Jange dengan suhu sekitar 35 – 72 oC dengan pH netral (Dedi Kusnadi dkk, Survei Terpadu 2011). Pemetaan geologi yang dilakukan oleh Dudi dkk (Survei Terpadu 2011) menyebutkan litologi batuan daerah Sumani disusun oleh batuan malihan, batuan sedimen, batuan terobosan, batuan vulkanik, dan endapan permukaan.
Struktur sesar yang berkembang di wilayah ini umumnya mengikuti arah Sesar Sumatera yaitu baratlaut-tenggara dan ada pula struktur sesar berarah baratdaya-timurlaut yang merupakan struktur sekunder yang terbentuk setelah struktur berarah baratlaut-tenggara. Selain sesar tersebut terdapat pula struktur geologi berupa rim kaldera dan rim kawah yang teridentifikasi di bagian barat.
Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2416126-daerah-panas-bumi/#ixzz2zdzyIVMI
Fatwa Palsu NU
Unknown || || || Leave a comments
Menjelang Ramadhan 1427H dan bahkan di tengah umat Islam sedang menjalankan shaum Ramadhan 1427H, beredar berita ramai tentang Fatwa Ulama NU Jombang. Walaupun beritanya tidak muncul di koran-koran dan majalah atau bahkan televisi seperti fatwa NU tentang haramnya acara infotainmen yang bermuatan ghibah (bergunjing), namun fatwa yang berjudul Fatwa Ulama NU Jombang ini ramai di situs dan milis-milis. Bahkan di pergaulan kalangan muslimin perkotaan di Indonesia pun cukup ramai.
Bagaimana tidak ramai, ketika ada fatwa yang muncul atas nama para Ulama NU Jombang (kota tempat pendiri NU KH Hasyim Asy’ari berada dulunya, dan pesantrennya Tebu Ireng masih ada), namun fatwa itu berseberangan benar-benar dengan amaliah orang-orang NU. Misalnya saja tentang tidak perlunya doa qunut shubuh , memperingati orang mati 7 hari dan seterusnya, bahkan sampai menganjurkan imam sholat tidak usah membaca wirid dan do’a secara berjama’ah.
Dengan beredarnya fatwa itu, ada yang menulis di milis: “…bukan saja mencatut nama-nama ulama besar NU dimana nyaris semuanya sudah meninggal bahkan sebelum kemerdekaan RI tapi juga berpotensi merusak ukhuwah…”
Kegerahan pun menyeruak di tubuh NU, hingga Situs NU, menurunkan berita:
Ansor Diminta Segera Usut Penyebaran Fatwa Palsu
Sabtu, 30 September 2006 11:40 WIB
Lain lagi dengan Gus Mus (Mustafa Bisri), ketika dia ditanya tentang fatwa itu oleh Samsul Hadi (Samsul) pada 21 September 2006 14:34:33, dia menjawab:
Wa’alaikumussalam warahmatuLlahi wabarakatuH.
Tak usah bingung. Wong itu pasti berasal dari selebaran gelap. Jangan hiraukan. Atau jika Anda nganggur, bisa Anda cek saja ke nama-nama yang tercantum di situ. Wassalamu'alaikum. (GusMus.NET)
Ada Kejanggalan
Fatwa itu memang mengandung beberapa kejanggalan. Di antara kejanggalannya:
Tanggal penulisan fatwa itu tertera, Jombang, 1 Ramadhan 1423H, tetapi beredar dan ramai di masyarakat pada menjelang Ramadhan 1427H. Selang 4 tahun baru beredar?
Kalimat-kalimat dalam fatwa itu bukan model kalimatnya Ulama NU. Biasanya Ulama NU dalam berfatwa merujuk pada kitab-kitab fiqh yang disebut mu’tabaroh (disepakati sahnya) di kalangan NU. Di sini tidak tercantum itu. Dan juga bukan model apa yang yang disinggung oleh seorang netter yang menaruh dugaan terhadap apa yang dia sebut Salafy Solo (dugaan itu tanpa menunjukkan bukti-bukti konkret). Karena kalau model Salafy, pasti merujuk pada ayat dan hadits dalam berfatwa. Di dalam fatwa yang beredar itu tidak, hanya ungkapan tanpa landasan.
Ada kata-kata yang tidak umum digunakan, baik oleh orang NU maupun Salafy, di antaranya kata ‘peramalan’ dari kata amal. Biasanya dikatakan dengan pengamalan, sedang kata ‘peramalan’ akan lebih dekat kepada kata dasar ramal. Justru dari segi kata-kata yang digunakan dalam fatwa itu ada sedikit kemiripan dengan kelompok LDII, kelompok yang oleh Munas MUI 2005 dinyatakan sebagai aliran sesat. LDII memakai kata-kata yang kadang tidak dipakai di kalangan umum namun sangat terkenal di jamaah mereka, misalnya kata peramutan (ini bahasa Jawa Timur tempat asal golongan itu) dipaksakan untuk dipakai dalam bahasa Indonesia di makalah-makalah mereka. Peramutan itu maknanya kurang lebih adalah pemeliharaan. Juga kata menetapi (untuk menerjemahkan ilzam atau iltizam) dipakai di LDII, yang di kalangan umum kata itu tidak dipakai. Orang umum memakai kata mengikuti, bukan menetapi. Kalau orang umum mengatakan pengamalan, apakah golongan mereka mengatakan peramalan, saya belum tahu juga, tetapi ada kemiripannya. Hanya saja bukan berarti mesti ciptaan mereka. Ini hanya menyebut ciri-ciri apakah dekat ke NU, Salafy atau LDII atau golongan apa. Dan ciri ini pun hanya sebagai salah satu bukti kejanggalan kalau dikaitkan dengan NU ataupun Salafy.
Ada kalimat: “Kepada saudara-saudara yang menerima fatwa ini, agar memperbanyak fatwa ini dan disampaikan secara beranting ke semua umat Islam agar segera tersosialisasi dengan cepat.” Kalimat itu bukan semangat dari kaum Nahdliyin, dan bukan pula kaum Salafy. Apakah kalimat itu terimbas dari kebiasaan pembuatnya, yang mungkin terbiasa menyebarkan propagandanya dengan cara berantai (tetapi ini ditulisnya beranting?). Wallohu a’lam.
Kalau fatwa itu dari ulama NU, tentunya ketika menulis tentang NU, misalnya lafal Nahdliyin, biasanya tidak salah eja, mesti ditulis Nahdliyin. Tetapi dalam fatwa itu berkali-kali ditulis Nahdiyin.
Dari segi isi yang hampir semuanya “menyerang” amaliah orang NU, apakah benar difatwakan oleh Ulama NU. Di sinilah masalahnya.
Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/spirituality/2416130-fatwa-palsu-nu/#ixzz2zdyVk2wu
.jpg)

.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)