HARI LINGKUNGAN HIDUP
“Perlukah untuk mengkampanyekan Hari Lingkungan Hidup? Ini dunia kita, kalau nggak kita siapa lagi yang peduli?”
Manusia hidup karena bernapas. Paru-paru mensuplay oksigen dari tumbuhan jika tersedia oksigen di udara. Apabila tidak ada satu tumbuhan yang tumbuh di tanah bumi mungkinkah masih tercipta kehidupan manusia? Jawabannya “TIDAK!!!” karena mustahil manusia hidup tanpa bantuan tumbuhan. Dalam kodrat tumbuhan beda jauh dari manusia mulai dari asal-usul kejadian, bentuk (jenis dan warna), dan cara perawatan, tapi mereka berdua bisa disamakan dalam hal mencari makan. Seperti yang telah kita ketahui manusia dan tumbuhan memiliki system saling berputar. Perputaran alami ini berturut-turut seimbang.
Siklus kehidupan manusia secara kasat mata adalah bernapas dan makan. Dalam tubuh manusia Tuhan telah menciptakan sebuah system statis yang selamanya tidak akan dinamis. System itu memiliki dua organ sepasang yang sama-sama membutuhkan udara segar. Jika manusia berupa oksigen (O2) dan tumbuhan berupa Karbondioksida(CO2). Setiap detik perputaran dilakukan mulai dari pemasukan oksigen sampai pengeluaran karbondioksida hingga 360 derajat saling bersinkron, itulah manusia. Sedangkan bagi tumbuhan lebih memilih makan. Pengisian tenaga untuk bertahan hidup yaitu fotosintesis. Dengan bantuan sinar matahari beserta Karbondioksida tumbuhan menghasilkan oksigen. Lihatlah oksigen yang diperoleh dari tumbuhan akan dihirup oleh manusia untuk bernapas, sebaliknya karbondioksida yang dihasilkan manusia akan dimakan tumbuhan untuk fotosintesis. Perjalanan ini akan selalu berputar. Maka dari itu pentinglah tumbuhan itu hidup disekeliling kita. Jika tidak kita akan bersinkron sama siapa? Tidak ada makluk lagi yang memiliki keseimbangan dengan manusia selain tumbuhan.
Menanam satu pohon berarti menyelamatkan 99 nyawa,itu bahasa kasarnya. Ini lingkungan hidup kita jika memang masih ingin hidup maka tanamlah pohon cukup satu pohon untuk satu rumah. Mengenai hal fotosintesis terkait sinar matahari, andai matahari tidak menerangi bumi selama dua hari apa yang akan terjadi? Tidak usah lama, satu hari saja matahari mengumpat dari awan bumi akan menjadi gelap gulita. Bumi ini akan kembali ke zaman es ribuan tahun lalu lamanya.Sinar matahari mengandung berbagai macam sinar yang kadang merugikan makhluk hidup dan ada juga yang menguntungkan. Sekarang kita bahas yang merugikan dulu, sinar yang paling berbahaya adalah sinar UV (Ultraviolet). Sinar ini salah satu dari komponen terbesar dari matahari. Jika sampai terkena kulit, sengatannya saja akan memicu timbulnya penyakit kanker. Selain itu lapisan kulit menipis hingga pengrusakan pada jaringan akan menyebar ke organ dalam bahkan bisa meninggal. Terdengar miris, tapi untungnya kita memiliki benteng raksasa yang selalu standby. Banyak yang memanggilnya payung atmosfer si pelindung bumi. Sebenarnya lapisan atmosfer tidak selamanya memiliki tenaga untuk kelangsungan hidup bumi karena dia juga seperti manusia, ketika masih muda kekuatan tidak diragukan tapi semakin bertambahnya umur akan menjadi tua yang rapuh dari segala aktivitas. Tahu nggak umur atmosfer kita itu berapa? Sudah tua apa masih muda?
Menyedihkan karena atmosfer tidak beranak, tidak ada keturunan yang bisa menggantikannya jika sudah manula. Itulah kekhawatiran yang kini menjadi wacana dunia internasional. Atmosfer telah ditemukan terluka gores di bagian selatan Afrika. Lubang menganga besar menimbulkan kerusakan parah dihutan akibat sengatan sinar Ultraviolet. Lalu bagaimana cara menutup lubang itu? Jawabannya “TIDAK ADA!!!” sebagai manusia, inilah tugas kita menyelamatkan dunia dari kehancuran alam. Walau tidak ada lagi kesempatan untuk mengobati luka parah atmosfer tapi kita saatnya menjaga dan merawatnya. Jangan biarkan ada lagi lubang-lubang yang akan menyakiti atmosfer.
Penyebab dari lubang atmosfer adalah gas rumah kaca. Pemantulan sinar matahari terhadap bumi kemudian terperangkap dalam atmosfer sehingga dipantulkan dan dipantulkan lagi menyebabkan bumi ini semakin panas. Ditambah lagi setiap hari jutaan ton karbon monoksida dimuntahkan. Kendaraan dari berbagai macam jenis meramaikan jalan raya hingga polusi meningkat dari sebelumnya. Inilah yang sering dikatakan di kota penuh udara kotor. Berbeda jika di desa, walaupun banyak kendaraan yang bersimpangan tapi masih ada yang menyeimbangkan yaitu tanaman-tanaman tumbuh di area jalan hingga terlihat sejuk. Jadi apabila kita hidup di kota maka banyak-banyak menanam tumbuhan jangan bersaing membangun pabrik hingga memakan lahan. Marilah menanam pohon untuk anak cucu
Social Bookmarking
Home » Archives for 2013
Unknown || Sunday, June 2, 2013 || || 1
comments
AKU
Aku adalah cayaha
Yang menerangi kalbumu
Berlarian dalam gelapnya hitam
Aku adalah angin
Yang terus berhembus lembut
Hingga menyejukkan jiwamu
Aku adalah belati
Yang terkadang bisa menusukmu
Yang hidup berlapis dinding
keterpurukan
Aku adalah seorang manusia
Makhluk ciptaan Tuhan paling sempurna
Adiguna menyuburkan akar-akar
cengkraman otak
Untuk berfikir di masa kejam ini
Di kala peperangan maut itu tiba
Aku adalah pejuang
Yang akan berjuang sampai titik darah
penghabisan
Demi jiwa dan ragaku yang mungkin
ternodai
Oleh dosa-dosa rekaan
Oleh bisikan makhluk-makhluk neraka
Aku bagaikan sang Zahra
Yang kini tertanam di Sahara
Hingga kuhaus akan pahala kebaikan
Haus akan kasih saying dunia
Haus akan ucapan-ucapan kedamaian
Namun, aku adalah umat
Yang sedang berkelana ditaman
kebimbangan
Yang hidup mecari keselamatan
Yang bercita-cita luhur menaburkan aura
Di titik pengharapan
Cerpen II
Unknown || || Kumpulan Cerpen || Leave a comments
PERTEMUAN
Mentari
pagi menghangatkan belahan bumi di bagian selatan. Dalam sapaannya, Ibu sudah
pulang dari Pasar dengan membawa banyak belanjaan. Entah ada apa hari ini,
hingga Ibuku bergegas melawan kerumunan hanya untuk mendapatkan barang yang
biasanya tidak pernah dibelinya.
“Hari
ini ada pesta ya Bu?...”. tanyaku kepada Ibu. Ibu menggelengkan kepala itu
berarti tanggapanku salah. “… Emm, atau ada banyak pesanan makanan ya Bu?..”
lanjutku. Ibu tetap menggelengkan kepala. Tak ada satupun kata yang terlontar
dari mulutnya, akupun semakin penasaran. “Lantas ada apa Bu?” tanyaku sedikit
memaksa.
Ibu
menghela napas panjang. Dia menatapku tajam seolah kecewa tentang ingatanku
yang selalu kecil. “Eka, apa kamu lupa
hari ini tanggal berapa?” tanya balik Ibu dengan nada tinggi.
“Ini tanggal 25 agustus Bu” jawabku singkat.
Ibu menggelengkan kepalanya lagi seakan benar-benar kecewa dengan jawabanku. Ibu
masuk ke dapur. Jari jemariku menghitung waktu kebelakang dan kedepan berharap
mengetahui apa yang sedang terjadi hari ini.
Oh tidak!
Aku
berlari. “Ibu, aku ingat! Hari ini adalah hari Ulang tahun pernikahan Ibu dan
Ayah. Maaf Bu Aku sempat lupa”. Kuraih
tangan Ibu dan berada didekapannya. Aku memeluk erat Ibu sembari berkata. “Apa
Ayah akan datang?” Ibu terdiam. Memang
sudah menjadi adat dirumah ini. Setiap tanggal 25 Agustus ia selalu memasak
banyak makanan kesukaan keluarga, berharap Ayah akan menepati janjinya untuk
pulang dan berkumpul bersama kami seperti dulu. Tapi sudah 7 tahun Ayah pergi
dan 7 tahun itu pula Ibu selalu setia menunggunya. Seingatku, hari senin pagi tepatnya 7 tahun yang lalu ketika aku
menjelang berangkat sekolah Ayah berpamitan kepada kami untuk bekerja ke
Ibukota dan berjanji akan pulang di hari
ulang tahun perkawinannya. Tapi semua itu hanya angan kosong bagi kami. Apalagi
Eko, saudara tuaku. Dia sangat membenci Ayah, karena dia menganggap bahwa Ayah telah membohongi
dan meninggalkan keluarga kami. Maklumlah semenjak Ayah pergi dia harus putus
sekolah untuk bekerja menghidupi aku dan Ibu. Akupun juga demikian, tapi aku
tak mungkin membenci Ayahku.
“Eka?..
Eka?..”. terdengar suara Ibu memanggilku, dengan segera aku menghampirinya.
“Bantu
Ibu mengupas kentang?”. Ibu membeikan Aku pekerjaan. Bergegas kusegera
melaksanakan kewajiban sebagai seorang anak. “Kamu tahu tidak Eka? Kalau
sekarang Ibu sedang memasak makanan kesukaan Ayahmu dan pastinya kamu dan
kakakmu juga suka!!”. Aku hanya tersenyum pada Ibu. Dia begitu sayang sama
Ayahku, tapi kenapa keberadaan laki-laki itu tidak diketahui oleh kami.
“Hmm…
bau apa ini? Harum sekali, Ibu masak apa?” Tiba-tiba Eko masuk ke dapur. Dengan
iringan langkah lunglai bak tubuhnya berjejal kusut menghampiri sumber aroma
itu.
Aku
menatapnya lekat-lekat sembari menggelengkan kepala. “Oh, sudah bangun?”
sindirku kesal. Eko berbeda satu tahun lebih dulu keluar dari rahim Ibu.
Seharusnya dia kakakku, tapi Aku tidak nyaman memanggilnya kak Eko. Aku dan dia
memiliki tinggi yang sama malahan selisih 5 cm dari Aku.
“Kok
banyak sekali masakannya memang ada apa?” lanjut Eko penasaran.
“Kamu
lupa? Kan kamu mau dinikahkan!!...”. ledekku.
“Hehe…
amin.. justru aku yang akan lebih dulu menikahkanmu!..”. sahutnya sambil
memelet. Dia membalas ejekanku dengan sempurna, hingga Aku tidak lagi bisa
menepisnya.
“Sudah..
jangan bercanda terus!.. kamu tidak kerja Eko?”. Kata Ibu yang mendinginkan
suasana.
“Tidak, Bu… Hari inikan hari Ahad, Eka saja
libur masak Aku tidak?...”. Terkadang Ibu memang sering lupa, kalau Aku dan Eko
bekerja ditempat yang beda tapi hari liburnya pasti sama. Jadi kalau ada Aku
dirumah, Eko juga dirumah.
Rasa
penasaran Eko menjadi boomerang. “Memang ada apa Bu masak banyak?” tanya Eko
lagi. Dia lebih parah dari aku.
Sekian
kalinya Ibu menggelengkan kepala. “Kamu juga lupa ya, hari ini kan hari ulang
tahun perkawinan Ibu dan Ayah, dan Ayah pasti akan pulang”. Terang Ibu
meyakinkan tanggapannya.
Eko
mulai tersihir. “Cuiih!!!!....”. Dia memuntahkan dengan sengaja makanan yang
ada dimulutnya. “Ibu kenapa sih masih saja menunggu si pembohong itu?.. Dia
tidak akan pernah kembali lagi pada kita bu!!...” ucapan itu seakan waktu
terhenti sejenak.
“Jangan
pernah lagi Ibu mengingat pembohong itu! Dia yang menyebabkan Aku dan Eka putus
sekolah! Dia juga yang menyebabkan kehidupan kita seperti sekarang ini!!....” kemarahan
Eko berlanjut. “…dan aku tidak sudi memanggil dia ayahku!!” suasana jadi
hening. Airmata mulai bercucuran deras saling berjatuhan ke bawah.
“Eko,
sudahlah!!.. Kamu jangan membentak Ibu! Ibu tidak salah!!...”. Aku mencoba
menjadi benteng penghalang bara api yang membara di hati Eko.
“Tapi,
bagaimanapun dia tetap Ayahmu, nak?...”. jelas Ibu.
“Cukup
bu!!!... aku tidak mau lagi mendengar tentang dia!!...” braakk!!! Eko keluar
dari rumah dengan tendangan tangannya yang hampir merobohkan pintu depan.
“Ya
Allah kenapa anakku sangat membenci Ayahnya? Ampunilah Aku dan keluargaku!!..”
Ibu menitihkan cairan bening dipipinya.
“Sudahlah
bu.. Ibu kayak tidak tahu sifat Eko! Dia itu memang keras kepala bu!..” Ucapku
lirih berharap bisa menenangkan cuaca mendung dihati Ibu. Ini bukan pertama
kali, jadi aku punya bekal pengalaman untuk kasus seperti ini.
“Iya, Ibu paham. Tapi sampai kapan keluarga
kita seperti ini?...”. Aku hanya terdiam karena akupun tidak tahu kapan ini
akan berakhir. Setiap tanggal 24 Agustus pasti ada yang menangis dan marah, Aku
bosan melihat keadaan ini. Tapi apa yang bisa aku lakukan, aku tidak tahu
bagaimana dan dimana ayahku sekarang.
***
Tiga
tahun yang lalu waktu Eko dan Pak Joko berusaha mencari Ayah ke Jakarta dengan
bekal seadanya karena ketika itu Ibu sedang sakit parah, dengan membawa foto
Ayah yang sudah hamper tidak dikenal lagi oleh Eko dan Pak Joko menelusuri
Ibukota. Disaat sedang istirahat di warteg pinggir jalan, Pak Joko melihat
seorang pria turun dari mobil dengan seorang wanita yang berpenampilan seperti
orang kaya dan mobilnyapun mewah. Pak Joko sempat ragu kalau itu adalah Kharmin
Ayah Eko tapi walau bagaimanapun tetap saja Pak Joko mengenalinya karena dia
adalah teman Ayah Eko sejak kecil.
“Ko, Eko!!!....” sambil menepuk bahu Eko dan menunjuk rumah
mewah.
“Ada
apa Pak?...”. Eko memusatkan pandangan pada apa yang ditunjuk Pak Joko.
“Itu
Ayahmu, Ko!!!...”. kata Pak Joko sepintas
Eko
gelagapan. “Mana Pak?..” matanya celingukan mencari batang hidung seorang ayah.
“Itu yang keluar dari mobil!..” jelas Pak
Joko.
“Oh.. ya!!! Ayo cepat!!”. Sambil berlari
mereka menghampiri rumah berlantai tiga itu dengat cat pepohonan yang indah.
Langkah
kaki mereka dihadang oleh orang berseragam putih hitam yang berdiri tepat di
depan gerbang rumah itu. “Mau apa kalian?...”. cegat satpam yang sedang
berjaga.
“Kami mau bertemu Pak Kharmin, Pak?...”. jawab
Pak Joko. “Iya pak, saya ingin bertemu dengan Ayah saya”. Sahut Eko bahagia
karena sudah menemukan Ayahnya.
Mendengar
suara rebut itu, wanita yang tadinya bersama Pak Kharmin ingin tahu. “Pak
Satpam siapa mereka?...”.
Pria
botak berbadan tegap itu akhirnya menjelaskan maksud dari kedatangan dua
laki-laki berpakaian serba kusut itu kepada sang wanita. Kemudian dia
mempersilahkan Eko dan Pak Joko masuk ke rumah itu. Panorama yang mengindahkan
dinding-dinding bercat cerah tidak seterang ucapannya “Siapa kalian dan ada
apa?..” tanya wanita itu dengan sinis.
“Saya Joko dan ini Eko. Kami disini mau
mencari Kharmin, ayah dari Eko”. Jawab Pak Joko. “Iya bu saya mencari Ayah saya
yang sudah lama tidak pulang kerumah”. lanjut Eko.
Wanita
itu menyandarkan kepalanya di kursi. Dia terlihat santai dengan penjelasan ini.
“Tapi, disini tidak ada yang namanya Kharmin”. Jawabnya menahan ketawa seperti
menyaksikan kelucuan. Padahal tidak ada yang lucu.
Eko
dan Pak Joko terkejut. Mana mungkin yang tadi dilihatnya itu bukan Kharmin.
Tiba-tiba ada seorang Pria keluar dari rumah. Dengan cepat Eko memeluknya.
“Ayah.. akhirnya aku bertemu dengan Ayah, Ibu sakit dirumah yah.. Ibu ingin
bertemu dengan Ayah?..” Semakin erat pelukannya.
Sontak
kejadian aneh terjadi. “Lepaskan Aku!!..” Pria itu mendorong Eko hingga
terjatuh. “Aku bukan Ayahmu!! Dan aku tidak kenal Kalian!! Cepat keluar dari
rumahku!!” teriaknya keras tiba-tiba.
“Kharmin!!!
Ini aku Joko temanmu dan ini Eko anakmu!!” Sahut Pak Joko sambil berdiri.
“Ayah!!.. Ibu butuh Ayah!!...” Eko merengek-rengek seperti anak kecil, dia
tidak menyangka jika Pria itu adalah Ayahnya yang tidak mengenalnya.
“Pak, ini suami saya, namanya Romi. Mungkin
Bapak salah orang”. Sanggah wanita itu.
“Sekarang
kalian pergi dari rumah saya! Dasar gembel!!...”. Tak terduga bila kata-kata
kasar itu terucap langsung dari Kharmin.
Pak
Joko menarik Eko keluar pagar. “Ayo Ko kita pulang!” ajaknya memaksa. “Tidak,
Pak! Aku tidak akan pulang tanpa membawa Ayah untuk Ibu!”. Pak Joko semakin
keras menariknya. “Ayo Ko!!!!....”.
“Tidak…
Ayah, Ibu sakit dirumah! Pulanglah Yah kami merindukanmu!” keluh Eko yang masih
merangkak didepan pagar. Pak Joko membujuk Eko sekali lagi. “Ayo Ko ayo
pulang!!!” sambil menangis dalam hati. Akhirnya mereka pulang tanpa membawa
hasil. Sesampainya dirumah mereka tidak mengatakan hal itu pada Inah, Ibu Eko.
Tibalah
didepan sebuah rumah kayu yang beralaskan dinding bangunan. “Gimana Ko? Apa
kamu menemukan Ayah?” tanya Eka yang
kebetulan dia berdiri didepan jendela. Eko terdiam.
Eko
berjalan pelan menuju kamar Ibu. “Buk..”. Eko mencium tangan Ibunya. Airmata
berjatuhan.
“Gimana
nak? Apa kamu menemukan Ayahmu?...” Ibu terlihat lemah.
Wajah
Eko pucat dan tirus. Pelupuk matanya mengembang. “Ibu..”. dengan menangis Eko
memeluk erat Ibunya yang sedang berbaring diranjang.
“Gimana
Pak Joko?...” tanyanya lagi. Pak Joko menggelengkan kepala. “Kenapa nak? Apa
terjadi sesuatu?..” Ibu mengelus punggung Eko. Aku terbawa arus, airmata ini
menetes deras melihat keluargaku yang sedang dilanda kesedihan.
“Eko
cuma sedih karena kami tidak menemukan Kharmin”. Sahut Pak Joko. Tapi didalam
hati Eko menangis karena melihat kenyataan bahwa Ayah mengkhianati Ibunya dan
tidak mengakuinya sebagai anak. Sungguh ini sangat menyakitkan. Pak Joko sudah
sepakat untuk tidak memberitahu Ibunya tentang yang sebenarnya karena mereka
takut bila penyakit Ibunya emakin parah. Oleh sebab itu, Eko sangat membenci
Ayah, dimatanya Ayah sudah tidak ada.
Waktu
menunjukkan pukul 20.00 WIB, aku masih melihat Ibu didepan sambil melihat
jalan. “Ibu?”. sapaku dengan lembut.
Ibu
memalingkan wajahnya dari luar ke arahku. “Eh, Eka.. Ibu sedang menunggu
Ayahmu”. Matakupun berlinang ketika Ibu berkata seperti itu.
“Tapi bu inikan sudah malam, tidak baik untuk
kesehatan Ibu! Lagipula Eko bisa marah jika melihat Ibu diluar!”. Bujukku.
Ibu
tersenyum tipis. “Ibu mengerti, pasti kamu dan Eko membencinya, tapi walau
bagaimanapun dia tetap Ayahmu nak!”. Dan lagi mendengar kata itu hatiku sangat
sedih kenapa Ayah tega meninggalkan Ibu.
“Eko
mana Ka?..” tiba-tiba Ibu bertanya padaku.
“Katanya dia mau keluar sebentar, bu ayo kita
masuk!”
Perlahan
Ibu melangkahkan ke dalam, tapi sepertinya dia masih ragu dan berharap Ayah
akan datang malam ini. Tiba-tiba terdengar suara kaki yang berjalam dan ucapkan
salam. “Assalamu’alaikum…” sapa orang itu.
“Wa’alaikumsalam..” sahutku dan Ibu. “Ayahmu
nak?...” teriak Ibu mengagetkanku. Ibu langsung berlari keluar akupun penasaran
dan berlari mengejar Ibu. Kulihat Ibu sudah berhadapan dengan seorang pria yang
berpenampilan kumuh dan berambut putih. “Sudah lama aku menantimu dan akhirnya
kamu kembali juga Mas..”. tanpa kusadari Ibu berkata seperti itu layaknya bahwa
pria itu adalah suaminya. Terdiam, sunyi untuk sesaat.
Suasana
hening seketika berlalu. “Maafkan aku de, aku telah mengkhianatimu aku mungkin
sudah tidak pantas untuk dimaafkan tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku sayang
kamu dan anak kita”. Terang pria tua itu seakan dia tanpa menanggung dosa. Apa!!
dibenakku Dia adalah orang yang aku dan Eko benci yang juga dirindukan oleh
Ibu.
Perlahan
aku memicingkan telinga, dengan langkah lirih aku meraih lubang kecil
dibelakang pintu. Tapi ternyata tanganku usil, tanpa sadar aku menjatuhkan vas
bunga didekatku.“Eka? Benarkah itu kau nak?..” Aku hanya terdiam.
Selang
beberapa detik tiba-tiba terdengar suara keras Eko. “Assalamu’alaikum.. Eh, ada
tamu, siapa bu?...” Eko berjalan mendekati ruang tamu untuk mencium tangan
Ibunya. Eko tercengang saat menatap Pria itu. “Anda!!!...”. teriaknya. “Kenapa
Anda kesini! Belum puas anda menghancurkan masa depanku, Eka dan membuat susah
hidup kami!!..” Jelas Eko dengan nada marah.
“Eko!!!..” Ibu berteriak sambil berdiri.
Mendengar itu, aku berlari menghampiri Ibu. Aku memeluknya erat.
“Bu, dia tidak pernah menganggap kita, dia
datang kesini mungkin sudah jatuh miskin dan ditinggal keluarganya, bu!!” Eko
menambahkan seakan merubah suasana semakin panas.
“Maafkan
Ayah nak!” kata ayah dengan suara serak.
“Apa katamu? Bukankah kamu tidak punya anak
seperti aku ha!!!...”. Perasaan Eko tidak tenang hingga dia meluapkan
segalanya. “Ayahku sudah tidak ada! Dia sudah meninggal 7 tahun yang lalu!”
Ibu
segera menghentikannya, terpaksa Ibu menampar Eko. “Dengarkan penjelasan
Ayahmu!”. Tidak pernah kulihat sebelumnya Ibu semarah itu.
“Apa kamu ingin Ibu mati jantungan gara-gara omongan kamu nak!
Jawab!!” Ayah ikut memarahi Eko. Aku dan Eko hanya terdiam. “Ayah memang salah
nak! Ayah telah meninggalkan kalian tanpa kabar dan dulu tidak mengakuimu sebagai
anak. Kini Ayah telah tua seluruh harta Ayah telah dirampas oleh istri Ayah dan
kini Ayah pulang untuk Kalian”. Jelas Ayah menyesal.
Tanpa
menunggu waktu. Eko memang sudah terlanjur sakit hati. Sedalam palung laut
hingga emosinya selalu terpancing jika berhadapan dengan orang yang sudah bikin
hancur hatinya dan keluarganya. “Persetan!!!!!...” teriak Eko sambil melangkah
kedalam kamar.
Ibu
mengelus dada melihat sikap Eko yang masih membenci Ayahnya. “Maafkan Eko,
Mas.. mungkin dia masih kaget dengan kedatanganmu”. Pria itu tersenyum. Dia
sangat kumuh dan kusut, aku terus berada dibelakang Ibu. “Mari Mas makan.. aku
sudah menyiapkan makanan kesukaanmu”. Dengan langkah bersama, Ayah dan Ibu
masuk ke ruang makan tampak pancaran sinar kebahagiaan di wajah Ibu. Ya mungkin
sudah suratan takdir dari Yang Maha Kuasa.
“Hmm,
masakanmu ternyata tidak berubah dek, masih jadi nomor satu”. Ayah mulai merayu
Ibu.
“Bu, kamar Ayah sudah siap”. Bisikku pelan
pada Ibu.
Malam
ini Ibu tidur denganku karena dirumah yang kecil ini hanya ada tiga tempat
tidur. Sudah tengah malam Ibu kelihatan belum tidur mungkin Ibu sangan bahagia
karena Ayah telah pulang bagi Eko adalah mimpi terburuk semasa hidupnya. Sempat
kupikirkan begitu lembutnya hati seorang Ibu. “Terimakasih dek, kau telah
memaafkanku”. Kata Ayah tadi ketika sebelum tidur. “Sudahlah Mas, yang lalu
biarlah berlalu. Kita buka dengan lembaran baru” ucap Ibu dengan santai.
Burung-burung
pagi berterbangan disekeliling rumah kami, hangatnya mentari kini telah terasa.
Aktivitas kami tidak berubah. “Dasar tua Bangka nggak tau malu! Sudah numpang
nggak bangun-bangun!!” teriak keras Eko sampai aku dan Ibu langsung
menghampirinya.
“Ngomong apa kamu Ko! Kamu ya nggak usah bikin
keributan lagi!!” tegur Ibu.
“Eko,
kenapa kamu seperti kesurupan gini!!” celutukku kesal.
“Siapa
yang cari keributan? Aku atau tua bangka ini?” kata Eko. Dengan spontan Ibu
mengarahkan tangannya, dia menampar lagi Eko, suasananyapun menjadi mencekam.
Tiba-tiba Eko mengambil gelas yang berisi air dimeja dan langsung disiramkan ke
muka Ayah yang masih terlelap. “Jangan!!!!...” aku dan Ibu berteriak di waktu
yang sama, berharap mencegahnya.
“Ibu lihat sendirikan! Sudah disiram dia tetap
tidak mau bangun, dasar!!”
“Cukup!!!”
kata Ibu sambil meneteskan airmata.
Aku
menatap ayah dengan tajam. “Bu, Ayah tidak bergerak” kataku setelah melihat
Ayah. Dengan segera Ibu meraba hati dan jantung Ayah. “Kang Mas???” kemudian
Ibu pingsan dan Eko membawaya ke ruang tamu. Warga yang mendengar teriakan Ibu
langsung berdatangan. Dan ternyata Ayah kami yang selama ini dirindukan oleh
Ibu juga dirindukan oleh sang Kholiq. Takdir memang menyakitkan, menyesalah Eko
karena tak pernah membuka pintu maaf bagi Ayah.
Puisi
Unknown || Tuesday, May 28, 2013 || || Leave a comments
BAMBU-BAMBU HUTAN
Bambu adalah makhluk
Hidup didalam dekapan tanah
Bergelamur serabut akar sekujur tubuhnya
Sang raja hutan pedesaan
Disapa oleh keluarganya
Bagai permaisuri
Bagai Pengawal dan
Bagai penjaga kedamaian
Yang menyatu bercabang dalam kubu
Tak terpesonalah bila itu terpisahkan
Mahkota hijau panjang mengisi motif
Muda Tua bersaing menuju puncak
Merunduk patuh akan sebuah beban
Yang diemban ikuti masa
Menyusul guliran waktu yang memudar
Tak ada yang abadi
Tibalah akhir jadi abu
Hitam kelam tanpa kelana
Bambu-bambu tegaplah berdiri
Hormat untuk Penciptamu
Pengetahuan Alam Indonesia III
Unknown || || || Leave a comments
III.5.
Navigasi
Ruang Tertutup
III.5.1.
Pengertian
Navigasi
tertutup merupakan cara untuk membuat
plotting jalur secara detail dan lebih akurat selain dengan cara resection.
Kelebihan dari navigasi tertutup adalah tidak terpengaruh dengan cuaca maupun
keadaan, dan tingkat keakurasiannya yang tinggi. Navigasi tertutup menggunakan
sistem shooter dan stationer, dimana shooter mengukur jarak, arah, dan sudut
elevasi antara shooter dengan stationer. Sedangkan kerugiannya adalah
membutuhkan banyak waktu.
III.5.2.
Alat-alat
yang dibutuhkan
Adapun
alat-alat yang dibutuhkan dalam navigasi tertutup adalah:
Ø Kompas
Kompas
digunakan untuk mengukur arah, antara shooter dan stationer
Ø Klinometer
Klinometer
digunakan untuk mencari perbedaan elevasi dan jarak datar atau jarak sebenarnya
Ø Meteran
Meteran
digunakan untuk mengukur jarak terukur
III.5.3.
Langkah-langkah
Navigasi Ruang Tertutup
Adapun
langkah-langkah dalam navigasi tertutup adalah:
1. Melakukan
resection terlebih dahulu, dan langsung plotting pada peta.
2. Ukur
jarak antara shooter dan stationer
3. Ukur arah
dengan kompas antara shooter dan stationer
4. Ambil
sudut elevasi antara shooter dengan stationer
5. Catat
data tersebut.
III.5.4.
Pengolahan
Data
Pengolahan
data dari Navigasi Ruang tertutup menggunakan :

z
y
θ
x
z = jarak
terukur
x =
jarak datar
y =
perbedaan ketinggian
θ =
sudut elevasi
dimana
kita mencari jarak pada peta atau x dengan menggunakan θ dan y yaitu
menggunakan rumus cos θ .z . Lalu keudian diplot
pada peta.
IV.1.
PENDAHULUAN
Sebuah
definisi SAR dapat diartikan secara umum adalah suatu misi penyelamatan untuk
menyelamatkan jiwa sehingga dalam pergerakan harus berpegang pada 3C yaitu :
cepat, cermat dan cekatan. Waktu yang sia-sia ataupun yang tidak efektif dalam
pencarian akan mengakibatkan kerugian bagi korban.
Suatu misi SAR
akan dilakukan bila telah terjadi laporan kehilangan. Dari sini tenaga-tenaga
pencari mulai memfokuskan diri dengan mencari keterangan yang lebih lengkap
sambil mencari peta daerah yang bersangkutan. Pencarian informasi bisa
melibatkan pihak kepolisian ataupun klub-klub pecinta alam yang telah banyak
tersebar di Indonesia terutama klub-klub yang berada di lokasi pencarian.
Berita yang diterima haruslah seakurat mungkin termasuk data awal pendakian,
lokasi terakhir terlihat, perlengkapan yang dibawa dan yang penting adalah data
korban itu sendiri sehingga memudahkan tim pencari untuk menganalisa data.
Dikenal Sebuah filosofi dalam SAR, yang bias disingkat sebagai LAST
Dikenal Sebuah filosofi dalam SAR, yang bias disingkat sebagai LAST
L : Merupakan Kependekan dari Locate, yaitu ketika korban dinyatakan
hilang, tim SAR harus bisa menemukan posisi korban
A : Merupakan kependekan dari Acces, yaitu ketika korban telah
ditemukan, tim SAR harus bisa mendapatkan cara untuk mencapai tempat korban
S : Merupakan kependekan dari Stabilize, yaitu ketika sudah sampai di
tempat korban tim SAR dan korban masih bisa diselamatkan, tim SAR harus bisa
memberikan pertolongan pertama (P3K) kepada korban
T : Merupakan kependekan dari
Transport, ketika sudah diberi
pertolongan, tim SAR harus bisa mengevakuasi korban.
Beberapa
pengetahuan yang berkaitan dengan filosofi di atas adalah :
Unsur
Pengetahuan
a.
Locate (menentukan lokasi) : Pengetahuan
tentang data peristiwa, keadaan korban, & keadaan medan.
b.
Acces (mencari
korban) : Ketrampilan
mendaki gunung, rock climbing, hidup di
alam bebas, mencari jejak, dan navigasi darat.
c.
Stabilize : Pengetahuan P3K, Gawat Darurat.
d.
Transport :
Ketrampilan mendaki gunung, rock climbing,
hidup di alam bebas, mencari jejak, dan navigasi darat.
IV.2.
SEARCH
IV.2.1. Organisasi SAR di Indonesia
a.
Pimpinan Badan SAR Indonesia (BASARI)
adalah Menteri Perhubungan yang bertanggungjawab kepada Presiden RI.
b.
Pusat Koordinasi SAR Nasional di bawah
Badan SAR Nasional (BASARNAS).
c.
Pusat koordinasi rescue terdiri dari 4
(empat) KKR (Kantor Komando Rescue), yaitu :
1). KKR
I di Jakarta
2). KKR
II di
Surabaya
3). KKR III di Ujung Pandang
4). KKR IV di Biak
IV.2.2. Bagan Organisasi Misi SAR
Minimal Umum
|
S.R.U
|
S.R.U S.R.U S.R.U
|
![]() O.S.C
S.R.U S.R.U S.R.U
|
Diperluas

S.C






S.M.C
S.M.C




O.S.C O.S.C O.S.C O.S.C
S.R.U S.R.U S.R.U S.R.U S.R.U S.R.U S.R.U S.R.U
S.C :
SAR
Coodinator : Dijabat oleh seorang pejabat (biasanya Bupati atau kepala
Polisi) yang karena fungsi dan wewenangnya sangat berguna bagi operasi SAR
dalam wilayah tanggungjawab KKR.
S.M.C :
SAR
Mission Coordinator : Pimpinan SAR secara langsung ; merencanakan serta
mengkoordinasikan kegiatan SAR. Melaksanakan manajemen SAR serta berbagai
kegiatan lain guna lancarnya kegiatan SAR.
O.S.C : On
Scene Commander : Ditunjuk oleh SMC untuk melakukan koordinasi dan
pengaturan misi SAR di tempat kejadian, serta melapor secara berkala pada SMC
sampai operasi SAR dinyataka selesai.
S.R.U : Search
Rescue Unit : Regu pencari yang secara nyata melakukan operasi SAR. Wewenang terbatas pada tugas-tugas yang
diberikan oleh OSC/SMC, serta melapor secara berkala dan berkonsultasi mengenai
kemajuan dan pelaksanaan tugas pencarian.
Segala
kegiatan SAR terdiri dari empat unsur, yang dapat dijadikan ajang untuk
menentukan ketrampilan tertentu yang dibutuhkan bagi operasi SAR
IV.2.3. Tahap SAR
1). Tahap
keragu-raguan : Menyadari bahwa suatu keadaan telah terjadi dan perlu
mengambil suatu tindakan.
2). Tahap
tindakan awal : Tanggap bahwa suatu musibah telah terjadi dan berusaha
mengumpulkan berbagai keterangan yang berhubungan dengan musibah.
3). Tahap
perencanaan : Setelah terkumpul berbagai informasi, menganalisa serta
mengevaluasi keadaan secara menyeluruh serta membuat rencana pencarian awal.
4). Tahap
operasi : Melaksanakan kegiatan
operasi SAR sesuai dengan yang telah direncanakan, sambil secara berkala
menganalisa dan mengevaluasi masukan-masukan dari lapangan, sampai operasi SAR
mencapai tujuan dan dinyatakan selesai.
5). Tahap
laporan : Membuat laporan kegiatan SAR
secara menyeluruh serta memberikan ulasan dan rekomendasi bagi pelaksanaan SAR,
untuk kepentingan di masa mendatang
.
IV.2.4. Perencanaan dan Strategi SAR
1.
Perencanaan diawali dengan pengumpulan
berbagai informasi dan data tentang peristiwa/musibah yang telah terjadi dan
dapat diperoleh dari :
a.
Informasi tentang terjadinya musibah, al
: ...
5 W + 1 H
b.
Informasi tentang korban secara
menyeluruh.
c.
Informasi tentang keadaan medan, cuaca,
peta wilayah topografi, analisa medan dsb. Bisa didapatkan informasi dari
penduduk sekitar, polisi hutan, petugas PHPA, pendaki berpengalaman, dan saksi
mata.
d.
Informasi mengenai tersedianya berbagai
fasilitas penunjang bagi kelancaran operasi SAR, al : tanaga personel SAR,
waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan operasi SAR, keadaan politik serta
pemanfaatannya untuk menunjang operasi SAR, logistik, sarana komunikasi, dan
sarana mendirikan base camp.
2.
Strategi pencarian diawali dengan
menentukan Search Area, yang pada
dasarnya ada empat metode pendekatan, yaitu :
a.
Metode Teoritis : yaitu dengan
melingkari daerah pencarian dengan jarak tertentu berdasarkan perkiraan jarak
tempuh korban dari titik awal diketahui hingga korban terakhir berada (point
last seen /PLS) – titik terakhir tampak).
b.
Metode Statistika : yaitu mempelajari
kejadian berdasarkan statistik dari peristiwa SAR di masa lalu. Sayang sekali,
metode ini kurang efektif di Indonesia, karena catatan statistik hampir-hampir
tak ada atau tak pernah dibuat dan peristiwa SAR sangat jarang.
c.
Metode Subyektif : yaitu berdasarkan
pengalama luas dari berbagai pihak yang pernah mengikuti kegiatan SAR, serta
kenal akan daerah pencarian, sehingga pendapat dan petunjuk mereka dapat
dipakai sebagai panutan dalam operasi SAR.
d.
Metode Matson : yaitu setelah menentukan
beberapa ‘search area’ skala prioritas ditentukan dari hasil pilihan mayoritas
dari beberapa tenaga ahli SAR (3 atau 4 orang).
Contoh
SA
I SA II SA III SA IV
1.
Ahli SAR I 20 % 40 % 10 % 30
%
2.
Ahli SAR II 20 % 60 % 10 % 10
%
3.
Ahli SAR III 30 % 55 % 10 % 10
%
4.
Ahli SAR IV 30 % 40 % 10 % 20
%
100
% 190 % 40 % 70 %
Dari
contoh tersebut skala prioritas menentukan Search Area (SA) hasilnya adalah
: 1. SA II; 2. SA I;
3. SA IV; 4. SA III
IV.2.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola pencarian :
1.
Ketepatan penentuan posisis
musibah/korban, yaitu menentukan Point
Last Seen (PLS = titik terakhir tampak), Most Probable Place (MPP = daerah kemungkinan terbesar).
2.
Tolok ukur sukar mudahnya sasaran yang
diketahui.
3.
Luas serta bentuk daerah pencarian.
4.
Medan di daerah pencarian.
5.
Cuaca di/menuju daerah pencarian.
6.
Kuantitas serta kualitas SRU yang
tersedia.
7.
Jarak yang perlu ditempuh SRU yang
tersedia.
8.
Kemampuan peralatan bantu navigasi di
daerah musibah.
9.
Dukungan logistik di daerah pencarian.
10.
Kualitas dari SMC dan OSC beserta
staffnya.
IV.2.6. Teknik Pencarian
1). Confinement, (membatasi ruang gerak) :
Pada tahap awal pencarian, kita dapat melakukan dengan
membatasi ruang gerak atau ruang jelajah korban. Tujuannya adalah agar korban
terjebak di daerah tertentu sampai daerah tersebut selesai dilakukan pencarian
atau sampai korban keluar dari daerah tersebut sehingga diketemukan oleh Tim
Pencari. Metode yang biasa dipakai :
a.
Trail
Blocks (Razia pada jalan setapak) : Tim-tim kecil dikirim untuk
menjaga jalur-jalur setapak sekitar daerah pencarian untuk menjaga kemungkinan
korban melalui daerah tersebut.
b.
Road
Block (Razia pada jalan keluar) : di sini masyarakat dapat
dimintai bantuan untuk melakukan pengawasan kemungkinan korban melalui daerah
mereka.
c.
Lock
Outs (Mengadakan pengintaian) : dilakukan dari tempat yang
agak tinggi. Tim Pencari dapat melakukan kegiatan yang memancing perhatian
korban, antara lain : teriak, menuip peluit, membuat asap (api unggun).
d.
Camp In, adalah
sejenis Lock Out & Trail Blocks dimana Tim Pencari mendirikan perkemahan
darurat atau sementara sambil berfungsi sebagai Station relay serta kebutuhan
lainnya yan diperlukan untuk menunjang operasi SAR.
e.
Track
Traps (Jalur jebakan) : jalur setapak ataupun tempat tertentu
yang kemungkinan besar akan dilalui korban karena tempat tersebut secara
alamiah (dan naluri) akan dipilih untuk dilewati korban. Antara lain jalur air,
mata air, gua, tempat agak datar dan sebagai. Tim Pencari dapat membuat jebakan
buatan dengan memnggemburkan tanah sekitar jalur dan sesekali memeriksa apakah
ada telapak kaki korban tertera disana.
f.
String
Line, adalah pembatas buatan berupa jalur benang yang ditarik
mengikuti jalur tertentu yang diharapkan akan membatasi ruang gerak korban
serta bila diketemukan oleh korban, ia akan dituntun menuju tempat tertentu
antara lain Tim Pencari, jalan setapak, camp in, dsb.
|
Contoh Pemasangan
String Line & Marker
|
|
BENANG
|
|
MARKER
|
|
STRING LINE
|
|
JALUR SETAPAK
|
|
JALUR SETAPAK
|
|
|
|
JALAN KELUAR
|
|
SAR
|
|
CAMP-IN
|
|
Contoh Marker
|
![]() |
2). Detection (deteksi) :
Adalah usaha untuk mencari korban atau benda yang jatuh
atau sengaja ditinggal korban. Metode inilah yang paling sering dilakukan dan
paling banyak memerlukan tenaga pencari (SRU). Metode deteksi terbagi atas tiga
jenis :
a.
Type I Search (pencarian type satu)
Melakukan
pencarian secara cepat pada daerah-daerah yang dicurigai, juga sering disebut
sebagai “Blitch Team” (tim kilat)
atau “Recona Issance” (recon). Tim
cukup terdiri antara 3 sampai 5 personel agar dapat bergerak leluasa dan
cepat.
b.
Type II Search (pencarian type dua)
Juga
disebut “Open Grid Search” (pencarian
grid renggang) atau penyapuan renggang.
Tujuannya
adalah melakukan pencarian sistimatis secara cepat pada suatu daerah pencarian
yang luas dengan metode penyapuan, sehingga menghasilkan kemampuan yang optimal
walau mempergunakan waktu dan tenaga yang minimal. Tim terdiri dari 4 sampai 6 orang yang
berjalan berbanjar dengan jarak antar personel antara 10 s/d 20 m. Pimpinan tim SRU harus menjaga arah kompas
serta jarak antar personel, agar pencarian terarah dan tidak tumpang tindih.
c.
Type III Search (pencarian type tiga)
Juga
disebut “Close Grid” (pencarian grid rapat) atau penyapuan
rapat.
Tujuannya
adalah melakukan pencarian sistimatis secara agak lambat pada daerah yang lebih
sempit serta melakukan penelitian lebih cermat. Tim pencari bisa terdiri dari
antara 5 sampai 10 orang yang berjalan berbanjar dengan jarak antar
personel 3 s/d 5 m.
3). Tracking (pelacakan) :
Adalah suatu cara pencarian dengan mengikuti jejak atau
benda-benda yang terjatuh atau sengaja dibuat korban. Tim harus mempunyai
kemampuan melacak yang tinggi seperti:
membaca jejak, medan, peta kompas, mengerti maksud dan tujuan korban, makna
dari benda-benda yang terjatuh dan sengaja ditinggal korban dsb.
4). Evakuasi Korban
Yaitu baik dalam keadaan hidup atau meninggal. Bila
korban dalam keadaan hidup tetapi memerlukan pertolongan kesehatan, personil
harus betul-betul memiliki kemampuan P3K, karena kalau menangani akan
mengakibatkan korban bertambah parah atau bahkan koit. Bila korban dalam
keadaan meninggal maka SRU tidak perlu tergasa-gesa atau mengambil tindakan
yang justru membahayakan keamanan Tim SRU baik moril maupun fisik.
Beberapa Pola Pencarian yang dapat dipergunakan bila personil
SRU sangat terbatas, antara lain :
1.
|
B
|
|
A
|
![]() |
|
A
|
|
B
|
Track 2.
Creeping

3. Square
4. Sector
5. Paralel
![]() |
Open
Grid Search (Penyapuan Renggang)
|
X
|
|
15 m
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
A
|
|
D
|
|
C
|
|
E
|
|
B
|
|
15 m
|
Keterangan :
1.
A dan B, personel paling ujung kiri
memasang marker (catatan petunjuk lapangan), atau string line atau ribbon.
2.
C, petugas kompas yang selalu memeriksa
bahwa arah pencarian sesuai dengan arah kompas.
3.
X, pemimpin SRU, yang mondar – mandir
sekitar barisan sambil memeriksa arah jarak personel terjaga dan melihat
situasi medan sekitar, apa perlu ada perubahan arah atau sistem pencarian.
4.
Bila alat komunikasai cukup, maka
idealnya X, A, B, masing –masing memegang sebuah HT.
Close
Grid Serch (Penyapuan Rapat)
|
4 m
|
|
4 m
|
|
4 m
|
|
Arah Penyapuan
|
![]() |
A B C D E F G H I
Keterangan :
1.
Jarak antara personel 3 s/d 5 meter.
2.
A dan I, petugas memasang marker (CPL),
string line (ribbon).
3.
E, pimpinan SRU.
4.
A, E, atau I, E, membawa HT.
Contoh wilayah Penyapuan
A string
line
B
|
Ribbon
|
|
X
|
![]() |
|
X
Awal penyapuan
akhir penyapuan
Keterangan :
X : CPL (catatan petunjuk lapangan).
: Ribbon, terbuat dari potongan tali rafia atau pita yang di pasang
secara interval, sebagai batas wilayah.
A – B :
Rentang benang atau string line, yang
ditarik sepanjang wilayah pencarian sebagai tanda pembatas wilayah.
IV.2.7. Beberapa Tugas Utama SRU
1.
Melaksanakan tugas yang diberikan oleh
SMC dan OSC. SRU wajib patuh akan tugas yang diberikan padanya oleh SMC atau
OSC. Bila keadaan menghendaki adanya perubahan maka hanya dapat dilakukan
setelah konsultasi serta disetujui oleh SMC atau OSC. Penyimpangan atau melawan
wewenang SMC atau OSC sama sekali tidak di benarkan dan SMC atau OSC wajib
menarik kembali SRU yang tak disiplin.
2.
Melaksanakan prosedur pencarian secara
benar. Berbagai petunjuk pelaksanaan tugas harus dilaksanakan secara seksama
dengan kewaspadaan, keseksamaan, kesadaran dan ketelitian yang baik.
3.
Melapor segala kegiatan secara berkala
pada SMC atau OSC pada waktu yang di tetepkan sambil berkonsultasi mengenai
berbagai keperluan guna kelancaran serta ketepatan usaha dan sistem pencarian,
antara lain rambu ini dapat berupa :
a.
Rambu tanda :
-
String Lina (berikut marker petunjuk
arah)
-
Ribbon (ikatan pita atau tali rafia)
b. Rambu
tertulis :
-
|
S A R
1500 mdpl
|
|
S A R
2000 mdpl
|
![]() |
Petunjuk ketinggian suatu tempat.
-
Petunjuk arah ke suatu tempat.
|
Camp 2 40 m
|
|
AIR 75 m
|
-
Catatan petunjuk lapangan atau CPL, (
lihat contoh terlampir), yang berisi:
·
Tanggal, no regu, jumlah anggota.
·
Keterangan tugas.
·
Keterangan tugas yang dilakukan.
·
Petunjuk tempat – tempat yang berbahaya
(tanah longsor, sarang tawon, tebing, dsb)
·
Petunjuk tempat – tempat tertentu (mata
air, tempat bivak, dsb)
·
Petunjuk tempat diketemukan jejak, tanda
– tanda dsb, yang diperkirakan milik korban.
·
Petunjuk tempat diketemukan benda –
benda yang jelas milik korban.
·
Keterangan tambahan yang ditambahkan
pada CPL oleh regu berikutnya yang melewati tempat terdapatnya CPL. Keterangan
tambahan ini dapat ditambahkan bila dianggap perlu oleh SRU guna melengkapi
keterangan yang sudah ada.
4.
Memberikan pertolongan pertama pada
korban bila diperlukan. Pertolongan harus diberikan dengan pengetahuan serta
kesadaran kemanusiaan yang tinggi agar tercapai makna dari maksud menolong.
5.
Melaksanakan evakuasi korban, baik dalam
keadaan sehat, kesehatan yang rendah dan buruk, atau dalam keadaan telah
meninggal dunia atau jenazah telah membusuk berat.
6.
Dapat melakukan hubungan komunikasi
radio dengan baik dan jelas sesuai prosedur standar operasi radio (standart operation procedures) yaitu
mengadakan komunikasi dengan HT. Juga mengerti kode – kode yang telah
disepakati bersama untuk dipergunakan dalam keadaan darurat.
7.
Membuat laporan kerja secara tertulis
bila diminta oleh SMC atau OSC.
IV.2.8. Perlengkapan Wajib SRU
Selain membawa perlengkapan standar menjelajah rimba dan
gunung, anggota SAR perlu membawa beberapa perlengkapan yang di kategorikan
sebagai perlengkapan wajib bila ingin bergabung dalam suatu operasi SAR.
Perlengkapan itu berupa :
1.
Perorangan
a.
Ponco atau jas hujan
b.
Pisau tebas
c.
Peluit
d.
Tempat air atau veldpless
e.
Senter beserta bolam serta baterei
cadangan
f.
Makanan untuk 4 hari (bila mengikuti SAR
selama 3 hari). Usahakan makanan cadangan untuk 1 hari serta membawa makanan
kecil berupa permen, coklat, dan biskuit. Juga membawa madu, sekoteng, multi
vitamin untuk keadaan darurat
2.
Regu
a.
Tenda
b.
Peta, kompas, altimeter, penggaris busur
(aprotaktor)
c.
Peralatan masak, kompor & bahan
bakar, rantang masak
d.
Peralatan rock climbing
e.
HT (peralatan komunikasi)
f.
Benang (untuk string line) 4 kelos @ 500
m
g.
Tali rafia 500 gram
h.
Obat-obatan & P3K
i.
Jerigen air 5 liter
j.
Senter besar atau lampu penerangan
IV.3. RESCUE
IV.3.1.
Lokasi Musibah
Operasi pertolongan dengan kegiatan – kegiatan antara
lain
a.
Briefing
b.
Pengarahan tim penolong ( Rescue Tim )
dan dropng bagi korban.
Pertolongan di lokasi musibah dan
penggantian tim bila perlu.
c.
Evakuasi
d.
Debriefing.
Briefing pada dasarnya sama dengan untuk
operasi pertolongan yaitu SMC harus menjelaskan situasi, keaadaan cuaca,
lintasan yang harus ditempuh, tugas tim, komunikasi instruksi koordinasi,
rencana evakuasi, droping aman, fasilitas lain dan kemungkinan penggantian tim
serta pelaksanaan tugas – tugas yang menyangkut masalah medis.
Operasi pertolongan dapat langsung
dilakukan oleh SRU pencari, tetapi bila tidak memungkinkan maka unit penolong/
rescue harus sudah disiagakan dan segera dapat dikirim kelokasi musibah.
Pengiriman rescue tim kelokasi musibah sebelum obyek ditemukan tidak
disarankan/ tidak efekitf. SMC harus dapat memperhitungkan waktu yang
diperlukan bagi unit – unit penolong mencapai lokasi musibah terutama bila
medannya sulit dilalui.
SRU yang pertama tiba dilokasi musibah
harus melakukan usaha pertolongan pertama terhadap korban musibah. Sedangkan
SRU yang datang kemudian akan membantu tugas – tugas selanjutnya. Dalam hal ini
maka setiap anggota SRU sebaiknya dilengkapi dengan pertolongan pertama yang
bersifat medis teknis.
Usaha untuk memindahkan korban dari
lokasi musibah ketempat lain yang lebih baik (ketempat penampungan rumah sakit)
dinamakan evakuasi. Evakuasi dapat dilakukan melalui udara, darat maupun laut.
Dalam hal ini diperlukan adanya :
a.
Tenaga personil yang memiliki
pengetahuan lapangan dan medan teknis.
b.
Peralatan pertolongan ( tandu, tali,
jangkar, sling, alat – alt medis dan sebagainya.
c.
Alat transportasi, pesawat, helikopter,
kapal, ambulance dll
Memindahkan korban dengan peralatan
darurat dan cara – cara yang sangat sederhana tetapi aman perlu diketahui oleh
setiap SRU, khususnya SRU yang bertugas didarat, dimana helikopter, ambulance
tidak mungkin mencapai lokasi tersebut.
IV.3.2.
Dropping
Disamping dilakukan baik untuk keperluan
korban maupun SRU, disamping ini berupa pengiriman peralatan pertolongan, obat
– obatan, makanan dan yang lain. Untuk obat – obatan dan makanan telah
dirancang cara pengedropan melalui udara dengan menggunakan helibox (kotak
khusus dengan desain sayap/ baling – baling dibagian atasnya, lihat contoh
dilapangan)
IV.3.3.
Pembagian
Tugas
Dengan dilakukannya penerahan korban
kepada instansi yang lebih berwenang di tempat penampungan maka selesai tugas
SRU. Berbeda tugas akhir, SMC akan melakukan debriefing kemudian pengembalian
unsur dan penyiagaan kembali dari SRU.
IV.3.4.
Evakuasi
IV.3.4.1.
Umum
Pelayanan medis teknis dilokasi musibah
( PPGD ) tidak akan banyak berarti bila tidak diketahui tindakan selanjutnya
yaitu cara memindahkan subyek (mengevakuasi subyek )
Hal – hal yang harus dilakukan bila kita
berhasil menemukan subyek adalah :
·
Memberikan sesegera mungkin pertolongan
pertama bila diperlukan.
·
Memberi keyakinan kepada subyek bahwa ia
akan selamat, karena telah berhasil ditemukan dan akan ditolong.
·
Melapor posko atau kepada base camp
tentang kondisi subyek dan lokasi ditemukannya.
·
Bila memungkinkan mencari/ memilih
lokasi untuk penempatan alat transportasi ( helikopter/ ambulance ).
·
Memilih lintasan bila harus dilakukan
evakuasi lewat darat.
·
Memperhatikan keadaan cuaca dan kondisi
medan.
Dalam melaksanakan pemindahan subyek
perlu diperhatikan kondisi subyek, yakni melakukan penilaian apakah korban
mungkin dipindahkan segera saat itu atau tidak, kaena setiap korban harus
diperbaiki dulu keadaan umumnya untuk dapat dievakuasi.
Pada dasarnya kondisi subyek dapat digolongkan menjadi tiga kategori :
·
Cidera, subyek membutuhkan pertolongan
karena kesulitan itu diluar kemampuannya untuk dapat mengatasinya sendiri.
·
Cidera ringan/ gangguan ringan yang
hanya membutuhkan sedikit bantuan.
·
Subyek telah meninggal dunia.
Sebagai tim penolong (rescue team )
biasanya bila dianggap perlu sejak dari base camp (posko) dilengkapi dengan
tandu. Persoalan pertama yang dihadapi adalah bagaimana caranya menempatkan
subyek diatas tandu dengan benar sehingga tidak menambah cidera artinya aman
dalam proses evakuasi. Persyaratan yang harus diperhatikan dalam memindahkan
subyek yang mengalami cidera/ musibah kealat transportasi yang akan digunakan
dalam evakuasi adalah sebagai berikut :
·
Keadaan subyek stabil
·
Jalan nafas dijamin terbuka
·
Memantau denyut nadi dan paru – paru.
·
Tidak boleh memindahkan subyek sebelum
diketahui secara pasti keadaanya.
IV.3.4.2.
Cara
Membawa Subyek
Setelah semua persiapan selesai dan siap untuk dievakuasi, kita perlu
memperhatikan beberapa hal :
1.
Peralatan pendukung
Dalam evakuasi, peralatan pendukung yang sering
dibutuhkan antara lain:
■
Tali ( kermantel atau sejenisnya )
■
Tandu ( jenis tandu tergantung medan )
■
Peralatan khusus lainnya ( pal medis atau
pal lainnya )
2.
Lintasan yang dilewati.
Seperti kita ketahui bahwa keadaan alam di Indonesia sangat bervariasi
yakni berhutan rapat, rawa, tebing lembah dan sungai. Untuk itu kita sebagai
insan SAR harus memepunyai pengetahuan dan keterampilan dalam melintas atau
mengevakuasi subyek pada segala jenis medan dengan aman, baik dan dirasakan
nyaman oleh subyek. Bila dalam mengevakuasi dapat dilakukan dijalan setapak dan
tidak terlalu terjal mungkin tidak terlalu banyak masalah yang dihadapi.
Apabila dalam evakuasi tersebut cukup banyak tim penolong ( rescue team 8 – 10 orang ) maka evakuasi dapat dilakukan
dengan cepat dan nyaman bagi subyek. Dalam situasi seperti ini beberapa anggota
tim diminta terlebih dahulu didepan tandu untuk merintis jalan, bila didalam
anggota tim terdapat anggota yang mempunyai kualifikasi ahli medis maka anggota
tersebut di tunjuk sebagai ketua rombongan.
IV.3.4.3.
Evakuasi
Di Medan Yang Sulit
Prinsip dalam mengevakuasi subyek di lam bebas adalah si subyek harus tetap
merasa aman dan nyaman sampai ketempat penampungan (base ). Umtuk itu kita
sebagi anggota tim penolong harus selalu mengingat prinsip diatas walau
menghadapi medan yang sulit seperti apapun. Medan yang dianggap sulit dalam
kegiatan evakuasi dan memerlukan teknik dan keterampilan khusus adalah medan –
medan seperti dibawah ini ;
a.
Medan dengan kemiringan 10 0
– 60 0.
b.
Lembah
c.
Sungai
d.
Tebing
e.
Daerah labil
KSMPA TITIK
NOL
JURUSAN TEKNIK
UNIVERSITAS
JENDERAL SOEDIRMAN
Sekretariat : Sekber Kampus
Blater, Purbalingga
Laporan Data Peristiwa SAR Darat
LAND SAR INSIDENT DATA REPORT
A. Formulir ini perlu diisi
bersamaan dengan Formulir “ Biodata Korban “ .
B. Harap mengisi secara lengkap,
jelas dan rapi.
1. Dilaporkan Oleh
2.1.
Nama (lengkap).................................... :........
2.2.
Panggilan ............................................. :
.......
2.3.
Tempat/Tgl lahir.................................. :
.......
2.4.
Alamat (lengkap)............................. :
Jl.........
RT/RW
: .......................................................................
Kelurahan
: .......................................................................
Kecamatan : .......................................................................
Kota :
.......................................................................
2.5.
Alamat lain yang mudah dihubungi :
2.6.
Tempat/Tgl/Jam laporan dibuat :
2.7.
Cara penyampaian laporan :
1. Wawancara langsung
2. Melalui orang kedua
3. ...........................................
2.8.
Tempat/Tgl/Jam laporan pertama kali disampaikan, dan kepada siapa?
.......................................................................................
2.9.
Tindakan pertama apa yang sedang dilakukan ?
2. Jelaskan bentuk/sifat musibah.
2.1.
Gawatnya musibah..................................... :
......................................................................
2.2.
Tempat musibah atau arah perjalanan orang/kelompok yang hilang
2.3.
Jumlah korban yang cedera/hilang :
Nama Korban Umur Kelamin Jenis Musibah
1. ............................. ....... ............... ................... ..............................
2. .............................. ............... ................... ..............................
3. .............................. ............... ................... ..............................
4. .............................. ................ ................... ..............................
2.4.
Apakah yang mendorong pelapor bahwa ia yakin suatu musibah (kecelakaan
/orang hilang) telah terjadi .............................
2.5.
Posisi terakhir, tanggal dan jam diketahui korban berada.
2.6.
Keadaan cuaca / medan sewaktu terjadi musibah.
2.7.
Makanan / minuman yang masih di ketahui di bawa korban.
.......................................................................................................
2.8.
Perlengkapan yang masih dibawa korban. .......
.......................................................................................................
2.9.
Kondisi fisik korban. .........................................
2.10.
Kondisi mental korban. ....................................
2.11.
Apakah korban kenal / berpengalaman menjelajah di daerah terjadinya
musibah ? bila ya, jelaskan daerah / rute mana saja yang pernah dilalui /
dikenal korban. ........................................................
2.12.
Apakah korban memiliki ketrampilan / pengalaman menjelajah, mendaki, survival,
dsb. Jelaskan ..........................................
2.13.
Sebutkan nama kota, kecamatan, kelurahan, desa yang terdekat dengan
musibah.
:.......................................................................................................
2.14.
Jelaskan cara termudah untuk dapat mencapai desa terdekat dengan musibah
serta kendaran jenis apa yang dapat mencapai desa tersebut.
2.15.
Jelaskan secara terperinci urutan terjadinya musibah / peristiwa, mulai
dari awal keberangkatan, terjadinya musibah (berpisah dengan korban) kepastian
terjadinya musibah, hingga melapor adanya musibah. Sebutkan pula waktu / jam
setiap tahap jalannya musibah / peristiwa. .....
.......................................................................................................
Pelapor
Dicatat
Oleh :
Nama : ...................................
Jabatan : ...................................
Alamat : ...................................
Klasifikasi laporan :
Asli / tangan kedua / ...............................................
Lampiran :
1. ................ halaman
2. Bio Data Korban
...................................................
BIO DATA KORBAN
( BDK )
A. Sebelum mewawancarai pemberi
keterangan, harap peringatan untuk memberi keterangan yang sebenarnya,
seadanya, tanpa menyembunyikan sesuatu.
B. Keterangan BDK diperoleh dari :
rekan seperjalanan korban, teman, keluarga, senior, guru dsb
C. BDK wajib dibaca / dimiliki oleh
SMC, OSC, dan SRU.
1. IDENTITAS KORBAN :
1.1. Nama lengkap : ..................................................................
1.2. Panggilan :
..................................................................
1.3. Jenis kelamin : ..................................................................
1.4. Tempat / tgl Lahir : ..................................................................
1.5. Agama : ..................................................................
1.6. Jumlah Saudara : ..................................................................
1.7. Anak ke : ..................................................................
1.8. Tempat Tinggal : ..................................................................
1.9. Golongan Darah : ..................................................................
1.10.
Alamat.......................................... :
Jl. / Gg
Kelurahan
:...................................................................
Kecamatan
:...................................................................
Kota : ..................................................................
1.11.
Nama Ayah............................................... :
Pekerjaan : ..................................................................
1.12.
Nama Ibu................................................... :
Pekerjaan
: ..................................................................
1.13.
Wali........................................................... :
Pekerjaan
Wali : ..................................................................
1.14.
Alamat Orang Tua / Wali : Jl. / Gg...........
1.15.
Kelurahan ................................................. :
Kecamatan
................................................................... :
Kota : ..................................................................
1.16.
Pekerjaan Korban .................................... :
Alamat
Kerja ................................................................... :
2. CIRI – CIRI PRIBADI KORBAN :
2.1. Berat / Tinggi : ........................... kg. /
........................ meter.
2.2. Kulit : ..................................................................
2.3. Rambut :
Warna : ..................................................................
Ciri : Lurus / Keriting /
Berombak / ...............
Mode : ..................................................................
2.4. Mata / Alis : ..................................................................
2.5. Ciri Khusus di Muka ................................................................ :
2.6. Ciri Khusus di Badan ............................................................... :
2.7. Lain – lain : ..................................................................
3. PENYAKIT / CACAT FISIK KORBAN
bila ada. (a.l kacamata, buta ayam, maag, asma, lever, malaria, gula, ayan,
penyakit ketinggian, bekas operasi dll.)
.............................................................................................................
4. SIFAT / KEPRIBADIAN KORBAN
1. Kemauan keras 5.
Tenang 9. Santai 13. Solider
2. Manja 6. Gugupan 10.
Pemarah 14. Egois
3. Sifat memimpin 7. Berani/nekad 11. Pendiam 15. Periang
4. Ikut-ikutan 8. Penakut 12. Cerewet 16. Serius
Lain-lain : ....................................................................................
........................................................................................
4.1. Sifat / Kelakuan korban
sebelum musibah : ..........................
5. PENGETAHUAN / KETRAMPILAN KORBAN
5.1. Apakah korban pernah mengikuti
pendidikan a.l : Pramuka, Pencinta Alam, Mendaki Gunung, Survival, SAR, Bila
iya, di mana dan kapan.
5.2. Apakah korban anggota/pernah
anggota club/Organisasi Pencinta Alam ?
6. PENGALAMAN KORBAN
6.1. Apakah korban sudah biasa
berkelana / mendaki ? : ..............
6.2. Pernah berkelana / mendaki kemana
saja ? dan kapan ? : ......
6.3. Apakah korban pernah berkelana /
mendaki disekitar daerah SAR ini ?
6.4. Bila Ya, kapan dan di daerah /
tempat mana saja ?..................
7. PERLENGKAPAN KORBAN ( keterangan
tentang pakaian/peralatan yang dibawa korban harap diperinci secara cermat
tentang : jenis, bentuk, ukuran, warna, merk, motif, logo/gambar, tulisan,
bahan dsb )
Biodata korban : halaman 3
7.1. Pakaian Atas .................... :
( kaos, kemeja, jaket, rompi dll. )
7.2. Pakaian Bawah : ( Jeans, celana panjang, celana
pendek, kulot dll )
7.3. Pakaian Hangat : ......................................................................
7.4. Pakaian dalam : ......................................................................
7.5. Pakaian Ganti : .......................................................................
7.6. Sepatu dan bentuk sol ............................................................... :
7.7. Kaos kaki :........................................................................
7.8. Ikat Pinggang :........................................................................
7.9. Sarung tangan :........................................................................
7.10.
Lain-lain ( kacamata, jam tangan, sapu tangan, syal, kacu, kalung,
anting-anting, cincin, lencana, kancing dsb. )
7.11.
Pisau ( golok, komando, lipat dsb ) :..
7.12.
Tempat minum / veld vless................. :
7.13.
Ponco / jas hujan................................. :
7.14.
Ransel / carrier..................................... :
7.15.
Tas, tas pinggang dsb.......................... :
7.16.
Senter, lentera, lilin............................. :
7.17.
Batu baterai dll......................................
7.18.
Topi / pet / baret dll............................. :
7.19.
Kompas/peta/altimeter........................ :
7.20.
Rokok/korek/pipa dll.......................... :
7.21.
Ballpoint/pinsil/buku dll.................... :
7.22.
Dompet ( apa saja isinya ? )................ :
7.23.
Sleeping bag/selimut/sarung............... :
7.24.
Tenda/Bivak......................................... :
7.25.
Kamera, film, teropong, kaset dll : .....
7.26.
Lain-lain ( PPPK, Sisir, Obat, Sikat gigi, Odol, Pembalut wanita dll ) :
......................................................................................................
7.27.
Peralatan makan/masak ( piring, sendok, mangkok, kompor, rantang dll ) :
..................................................................................................
7.28.
MAKANAN yang dibawa korban ( Diperinci jenis, merk, kemasan, jumlah)
................................................................ Penuntun
................................................................ Beras, gula, susu, kopi, roti, sup-
Ermi,
biscuit, kacang, madu, dll.
8. KETERANGAN TAMBAHAN ( a.l
Hubungan keluarga akhir-akhir ini, pertengkaran, percintaan, kegagalan, mimpi,
firasat dsb. )
PERHATIAN : Bila jawaban dianggap sensitif, maka
sebaiknya dicatat tersendiri di kertas lain dan diklasifikasi sebagai RAHASIA.
Hanya boleh dibaca oleh SMC, OSC, dan staf SMC. Hindari dari umum dan pers.
..................................................................................................................
..................................................................................................................
PERHATIAN :
1. Bila pencatatan Biodata korban
diterima dari beberapa pihak, catatlah pada kertas tersendiri mengikuti nomor
urut sesuai “Formulir BDK”
2. Bagi jawaban yang telah terjawab
dan dianggap memuaskan, lengkapi saja. Catatlah nomer urut ( pada Formulir BDK
) sebelum mencatat jawabannya.
3. Catat secara jelas identitas
“pemberi laporan” a.l bila rekan korban, bagaimana hubungannya, bila keluarga,
apakah hubungannya.
PENCATAT
LAPORAN PEMBERI LAPORAN
1. Nama : ................................. .....
2. Jabatan : ................................. .....
3. Alamat / : .................................
Telepon ................................. .....
4. Tempat / tgl / jam :...................................................................
Klasifikasi laporan
: Tangan pertama / kedua dsb...........
Lampiran.......................................................... : lembar
Lembar







