xmlns:fb='http://ogp.me/ns/fb#'

Blogger

Alam untuk Indonesia

Social Bookmarking

Massa, Momentum dan Energi

|| || || Leave a comments
Aspek ini sama menariknya dengan tinjauan kinematis yang hanya melihat geometrinya saja. Termasuk dalam kasus dinamika relativistik adalah perubahaan massa terhadap kecepatan, momentum relativistik, dan kesetaraan massa-energi. Ada hal yang menarik untuk kita tanyakan saat ini setelah begitu jauh membahas berbagai konsekuensi relativitas khusus, “Apakah hukum-hukum kekekalan dasar dari fisika klasik, seperti kekekalan momentum dan energi, masih berlaku? Hukum-hukum tersebut begitu pentingnya dalam fisika klasik sehingga rasanya kita enggan membuangnya. Seandainya konsep tersebut dibuang, rasanya manusia dan makhluk lainnya hidup dalam alam semesta yang aneh. Oleh karena itu, kita akan tetap beranggapan bahwa alam semesta memiliki struktur yang sangat serasi, dan hukum-hukum kekekalan tersebut tetap berlaku, namun dengan kemungkinan bahwa relativitas khusus menghendaki konsep-konsep tersebut untuk ditinjau ulang dan diperbaiki. Misalkan ada dua massa A dan B identik yang saling mendekat, masingmasing dengan laju v. Setelah tumbukan, diperoleh sebuah massa 2m dalam keadaan diam yang tampak oleh pengamat O di laboratorium. Tidak seperti O, pengamat O' justru tidak mengamati adanya kekekalan momentum! Berarti dapat kita terka bahwa ada sedikit masalah dalam kasus momentum tersebut. Karena semua kecepatan telah ditangani secara benar (transformasi Lorentz), maka masalah yang ada tinggal tentang massa saja, jangan-jangan massa pun bersifat relatif. Jika demikian, asumsikan kita memiliki massa relativistic. m0 adalah massa diam dan seperti halnya panjang sejati maupun waktu sejati, ia diukur terhadap kerangka acuan yang diam terhadapnya. Sekarang kita cek ulang apakah definisi massa relativistik m dapat menyelesaikan permasalahan kekekalan momentum. Misalkan massa yang terukur O dinotasikan dengan mA, mB, dan M (massa gabungan), sedangkan massa yang terukur oleh O' adalah mA', mB', dan M'. Anggap kedua benda A dan B memiliki massa diam yang sama, yaitu m0. Menurut O, kedua benda bergerak relatif terhadapnya sehingga ia akan mengukur massa relativistic. Massa relativistik sebenarnya baru terlihat penting ketika kelajuan suatu benda benar-benar mendekati kelajuan cahaya. Pada kelajuan sepersepuluh kelajuan cahaya pertambahan massanya hanya 0,5 persen, tetapi pertambahan itu mencapai 100 persen pada kelajuan sembilan per sepuluh kelajuan cahaya. Menurut sejarahnya, persamaan (40) ditemukan oleh Bucherer tahun 1908 ketika ia mendapatkan rasio muatan terhadap massa yang lebih kecil untuk elektron berkecepatan tinggi daripada elektron berkecepatan rendah, yang artinya massa elektron yang cepat seharusnya lebih besar daripada elektron yang lambat. Persamaan tersebut, seperti juga persamaan relativitas khusus lainnya, telah dibuktikan oleh banyak eksperimen sehingga sudah dianggap sebagai rumus dasar dalam fisika. Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2415117-massa-momentum-dan-energi/#ixzz2yzMngQqz

Teori Paradoks Kembar

|| || || Leave a comments
Kita tinjau dua orang saudara kembar yang bermukim di bumi. Andaikan salah satunya bermukim di bumi, katakanlah yang bernama Casper. Sedangkan saudara kembar perempuannya bernama Amelia melakukan perjalanan antariksa dengan sebuah pesawat roket menuju sebuah planet. Casper yang memahami teori relativitas khusus, mengetahui bahwa jam saudarinya akan berjalan lambat relatif terhadap jam miliknya. Oleh karena itu, Amelia akan lebih muda darinya ketika ia kembali lagi ke bumi. Namun, dengan mengingat kembali bahasan tadi, kita ketahui bahwa bagi dua pengamat yang bergerak relatif, masing-masing akan berpendapat bahwa jam saudara kembarnya yang berjalan lambat. Jadi, masalah ini dapat kita pelajari dari sudut pandang Amelia, yang berpendapat bahwa Casper dan bumilah yang melakukan perjalanan pulang pergi menjauhinya dan kemudian kembali lagi. Dalam keadaan ini, Amelia berpendapat bahwa jam Casper yang berjalan lambat, sehingga bagi Amelia, Casperlah yang lebih muda ketika mereka bertemu kembali. Ketika Amelia tiba kembali ke bumi, semua pengamat haruslah sependapat mengenai siapakah yang usianya lebih muda. Inilah paradoksnya, masing-masing memperkirakan bahwa yang lainnya lebih muda. Pemecahan paradoks ini, terletak pada peninjauan kita yang tidak simetris terhadap peran kedua saudara kembar itu. Hukum-hukum relativitas khusus hanya berlaku bagi kerangka lembam yang bergerak relatif terhadap kerangka lainnya dengan kecepatan konstan. Kita dapat memasuki roket Amelia dengan dorongan yang cukup kuat sehingga Amelia dan roketnya mengalami percepatan untuk suatu selang waktu yang singkat, sehingga pesawatnya mencapai suatu laju konstan yang meluncurkannya menuju planet tujuan. Jadi, selama perjalan Amelia hampir seluruh waktunya ia habiskan dalam suatu kerangka acuan yang bergerak pada kecepatan konstan terhadap Casper. Tetapi untuk kembali ke bumi, ia harus memperlambat dan membalikkan pesawatnya. Meskipun gerakan ini dilakukan dalam waktu yang singkat, perjalanan kembali Amelia berlangsung dalam dalam suatu kerangka acuan yang berbeda dari kerangka acuan pada perjalanan perginya. “Loncatan” Amelia dari satu kerangka acuan ke kerangka acuan lainnya menyebabkan usia kedua saudara kembar ini tidak simetris. Hanya Amelia yang harus “meloncat” ke suatu kerangka acuan baru agar dapat kembali, dan karena itu semua pengamat akan sependapat bahwa Amelialah yang sebenarnya berjalan lambat. Oleh karena itu, Amelialah yang lebih muda ketika ia kembali ke bumi. Bahasan secara kuantitatif tentang masalah ini adalah kita menganggap bahwa percepatan dan perlambatan berlangsung dalam selang waktu yang sangat singkat, sehingga seluruh usia Amelia terhitung selama perjalanannya saja. Untuk menyederhanakan, kita anggap bahwa planet lain diam terhadap bumi. Andaikan planet itu berjarak 12 tahun cahaya dari bumi, dan bahwa Amelia bergerak dengan laju 0,6 c. Maka menurut Casper, saudarinya membutuhkan waktu 20 tahun (20 tahun x 0,6 c=12 tahun cahaya) untuk mencapai planet itu dan 20 tahun lagi untuk tiba kembali di bumi. Oleh karena itu Amelia bepergian total waktunya 40 tahun, tapi Casper tidak akan dapat mengetahui apakah Amelia telah tiba di planet itu sampai sinyal cahaya yang membawa berita tentang ketibaannya di sana mencapai bumi. Karena cahaya membutuhkan waktu 12 tahun untuk menempuh jarak bumi-planet, maka barulah 32 tahun kemudian setelah keberangkatan Amelia, Casper melihat Amelia tiba di planet itu. Delapan tahun kemudian ia kembali ke bumi). Dari kerangka acuan Amelia pada roket, jaraknya ke planet menyusut dengan faktor sebesar c dan karena itu jarak ini adalah tahun cahaya. Pada laju ini, Amelia akan mengukur lama waktu 16 tahun bagi perjalanannya menuju planet tersebut. Sehingga ia membutuhkan total waktu 32 tahun bagi perjalanan pulang-perginya. Jadi, Casper berusia 40 tahun sedangkan Amelia 32 tahun. Kita dapat mempertegas analisis ini dengan meminta Casper tiap tahun mengirimkan suatu sinyal cahaya pada saat ia berulang tahun pada Amelia. Kita ketahui bahwa frekuensi sinyal yang diterima oleh Amelia akan mengalami pergeseran Doppler. Selama perjalanan pergi, Amelia akan menerima sinyal tersebut pada laju (frekuensi terima)=, sedangkan untuk perjalanan balik, laju sinyal yang diterimanya adalah atau 2/th. Jadi untuk 16 tahun pertama selama perjalanan Amelia menuju planet. Ia akan menerima 8 sinyal, sedangkan selama 16 tahun perjalanan pulangnya ia akan menerima 32 sinyal, jadi totalnya 40 buah sinyal. 40 buah sinyal yang diterimanya ini menunjukkan bahwa Casper telah merayakan 40 kali pesta ulang tahun selama 32 tahun kepergiannya. Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2415113-teori-paradoks-kembar/#ixzz2yzMSyAxC

Teori Keserampakan Waktu

|| || || Leave a comments
Dalam hal ini kita meninjau dua buah dari sekian banyak akibat relativitas khusus, yaitu menyangkut pengertian keserampakan dan pensinkronan jam. Bagi sebagian besar diantara kita, masalah mensinkronkan jam bukanlah suatu proses yang sulit. Contohnya kita dapat mengatur jam kita dengan langsung melihat pada jam yang berada di dekat kita. Namun demikian, metode ini mengabaikan waktu yang dibutuhkan cahaya dari jarum jam untuk merambat ke mata kita. Bila kita berada pada jarak 1 meter dari sebuah jam, maka arloji kita kan terlambat sekitar 3 ns (). Walaupun keterlambatan waktu yang nilainya kecil ini tidak akan membuat anda terlambat mengikuti kuliah Fisika, namun bagi seorang fisikawan yang sedang melakukan eksperimn, hal ini tentunya merupakan suatu masalah yang serius. Karena bagi mereka, pengukuran selang waktu yang lebih kecil daripada 1 ns merupakan hal yang biasa. Pada dan , masing-masing terletak sebuah jam, sedangkan di terletak sebuah bola lampu kamera (flash blub). Kedua jam tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga baru berdetak bila mereka menerima kilatan cahaya. Karena cepat rambat cahaya membutuhkan waktu yang sama untuk mencapai kedua jam tersebut, maka keduanya akan mulai berdetak secara bersamaan pada saat setelah kilatan cahaya dipancarkan. Jadi, kedua jam tersebut benar-benar tersinkronkan. Sekarang kita tinjau situasi yang sama dari sudut pandang pengamat yang bergerak O’. Dalam kerangka acuan O, terjadi dua buah peristiwa yaitu: penerimaan sebuah sinyal cahaya oleh jam 1 di , dan oleh jam 2 di . Dengan menggunakan persamaan transformasi Lorentz, kita dapati bahwa O’ mengamati jam 1 menerima sinyal tersebut pada saat: Sedangkan jam 2 pada saat: Jadi, lebih kecil daripada sehingga jam 2 tampak menerima sinyal lebih dulu daripada jam 2. Karena itu, kedua jam tersebut berdetak pada saat yang berbeda dengan selang waktu sebesar: Menurut O’, penting untuk dicamkan bahwa beda waktu ini bukanlah efek pemuluran waktu dicirikan oleh suku pertama persamaan Lorentz: Sedangkan keterlambatan pensinkronan dicirikan oleh suhu keduanya. O’ memang mengamati kedua jam tersebut berjalan lambat, sebagai akibat efek pemuluran waktu. O’ juga mengamati bahwa jam 2 berjalan sedikit lebih cepat daripada jam 1. Selang waktu yang diukur O’ antara saat kedua jam tersebut mulai berdetak memberikan dengan menggunakan persamaan bagi pembacaan jam 2 ketika O melihat pada pembacaan nol. Oleh karena itu kita peroleh kesimpulan: ”dua peristiwa yang terjadi serempak dalam satu kerangka acuan tidaklah serempak dalam kerangka acuan lain yang bergerak relatif terhadap yang pertama, kecuali jika kedua peristiwa itu terjadi pada tempat yang sama (pada titik yang sama dalam ruang) maka keduanya akan sinkron dalam semua kerangka acuan. Jadi jam-jam yang sinkron dalam satu kerangka acuan tidaklah perlu tetap sinkron dalam kerangka acuan lain yang dalam keadaan relatif. Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2415111-teori-keserampakan-waktu/#ixzz2yzLy4X7K

Transformasi Lorentz

|| || || Leave a comments
Eksperimen Michelson-Morley telah menghasilkan fakta bahwa pengamat-pengamat dalam kondisi apapun harus mengukur laju cahaya yang sama c. Jika transformasi Galileo diterapkan dalam kasus tersebut, maka akan kita temui sebuah kontradiksi, c’= c − v c' adalah laju yang diukur oleh pengamat O' yang bergerak relatif terhadap pengamat O dengan kelajuan v. Kita lihat ternyata O' mengukur laju cahaya yang berbeda dengan O. Tentu transformasi ini bertentangan dengan postulat kedua Einstein. Oleh karena itu, diperlukan suatu transformasi baru yang sesuai dengan postulat Einstein dan dapat meramalkan berbagai efek relativistik yang ada. Selain itu, transformasi baru itu juga harus memberikan hasil yang sama dengan transformasi Galileo apabila laju relatif antara O dan O' cukup rendah*. Bentuk transformasi ini berhasil diturunkan oleh fisikawan Hendrik A. Lorentz sehingga dikenal dengan nama transformasi Lorentz. Masalah utama yang ada pada transformasi Galileo sehingga menyebabkan ketidaksesuaiannya dengan postulat Einstein terdapat pada persamaan (1). Sedikit tebakan yang masuk akal menyatakan bahwa hubungan yang benar antara x' dan x seharusnya γ adalah faktor yang tidak bergantung dari x atau t, tetapi mungkin dapat merupakan fungsi dari v. Tugas kita sekarang adalah menentukan nilai γ tersebut. Dari postulat relativitas khusus, persamaan fisika harus berbentuk sama dalam kedua kerangka O dan O' sehingga kita harus memperhitungkan perbedaan arah gerak relatif. Hal ini diselesaikan dengan mengganti tanda v untuk menyatakan x dalam x' dan t', dikenal dengan istilah transformasi balik. Oleh karena transformasi Lorentz ini meninjau kasus yang sama seperti tranformasi Galileo, kita tidak perlu membedakan koordinat y', y, dan z, z' yang tegak lurus terhadap arah v. Tapi lain halnya untuk t dan t', kita harus mengambil nilai yang beda untuk keduanya. Lihat keunikannya, tranformasi Lorentz ini dapat tereduksi menjadi tranformasi Galileo jika kecepatan relatif v sangat kecil dibandingkan c. Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2415110-transformasi-lorentz/#ixzz2yzKc5leb

Postulat Einstein

|| || || Leave a comments
Permasalahan dalam eksperimen Michelson-Morley nyaris dipecahkan Lorentz v2 /c 2 (akan kita bahas selanjutnya). Sayang sekali Lorentz masih belum mengeluarkan pernyataan yang benar-benar meniadakan keberadaan eter. Barulah pada tahun 1905, Einstein yang menerbitkan 3 buah makalah, salah satunya tentang relativitas, menyebutkan postulat: 1. Hukum fisika dapat dinyatakan dalam bentuk pernyataan yang sama pada semua sistem lembam (inersial). 2. Eter itu tidak ada, berarti laju cahaya dalam ruang hampa sama besar untuk semua pengamat, tidak bergantung dari keadaan pengamat itu. Postulat pertama menegaskan bahwa tidak ada satupun percobaan yang dapat digunakan untuk mengukur kecepatan terhadap ruang mutlak. Yang dapat kita ukur hanyalah kecepatan relatif dua sistem inersial seperti telah kita lihat pada transformasi Galileo, setiap gerak baru berarti jika ada acuannya. Postulat kedua tidak lain merupakan konsekuensi dari percobaan Michelson-Morley bahwa laju cahaya dalam arah silang maupun searah sumber adalah sama. Dan postulat kedua ini menegaskan pula bahwa laju cahaya pun akan tetap sama bagi pengamatpengamat yang sedang berada dalam keadaan gerak relatif, selama pengamat tersebut merupakan sistem inersial. Kedua postulat Einstein yang dibatasi dalam ruang lingkup kerangka inersial itu disebut dengan teori relativitas khusus. Sedangkan teorinya yang dikeluarkan tahun 1917, diperluas dalam kerangka noninersial (kerangka yang dipercepat satu sama lainnya), disebut dengan teori relativitas umum. Teori Einstein ini telah mengubah cara pandang manusia dalam memahami alam dan memecah kemutlakan ruang waktu versi Galileo dan Newton yang bertahan selama kurang lebih 300 tahun. Kita akan lihat beberapa konsekuensi postulat Einstein dan hal-hal menarik yang diturunkan darinya. Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2415107-postulat-einstein/#ixzz2yzK6AnBG

Percobaan Michelson-Morley

|| || || Leave a comments
sebuah teori terpadu yang disebut teori elektromagnetik. Namun teori yang dikukuhkan pada 1865 tersebut masih mengganggu banyak fisikawan masa itu. Sumber gangguan tersebut adalah keberadaan eter sebagai zat perantara gelombang elektromagnetik. Eter sebagai medium rambat gelombang elektromagnetik mempunyai sifat yang sangat sulit dibayangkan secara fisika. Sebagai perantara cahaya (gelombang transversal), eter semestinya berkelakuan seperti zat padat. Akan tetapi, sepertinya tidak masuk akal juga jika cahaya harus dirambatkan dalam zat padat sehingga saat itu diandaikan saja bahwa eter itu bersifat sangat halus. Kendati masih samar-samar, para fisikawan menerima begitu saja ide eter tersebut. Mereka sulit menerima kenyataan bila ada gelombang tanpa medium. Dalam konteks persoalan ini, kelajuan cahaya c menjadi masalahnya. Kita ambil pengandaian dengan pengukuran kecepatan bunyi di udara memanfaatkan transformasi Galileo. Misalkan saja, kita mengukur kecepatan suara di udara sambil diam dan mendapat nilai 330 m/s. Tapi ketika kita mengukurnya sambil bergerak dengan kecepatan 20 m/s mendekati sumber suara, akan didapatkan nilai yang berbeda, yaitu 350 m/s. Nilai kecepatan suara tergantung pada gerakan sumber maupun pengamat. Dalam perumusan lain, kecepatan suara tergantung pada kerangka acuan yang dipakai. Apakah hal yang sama terjadi pada cahaya? Seandainya benar berarti jika pengamat bergerak terhadap eter, maka ia akan mendapati nilai c yang berbeda. Tahun 1887, Albert A. Michelson (1952-1931) bersama rekannya Edward Morley (keduanya dari negeri “Paman Sam”) menemukan suatu cara untuk menyelidiki ketergantungan kecepatan cahaya terhadap pengamat. Dengan memanfaatkan interferensi cahaya, mereka yakin bisa mengetahui perubahan nilai kecepatan cahaya secara sangat teliti. Perbedaan sekecil 1 per 1010 pun katanya masih bisa diukur dengan perangkat buatan mereka. Alat yang mereka buat itu dinamakan interferometer. Sampai sekarang, metode ini masih dimanfaatkan untuk mempelajari sifat interferensi gelombang (cahaya). Di dalam rangkaian interferometer, terdapat 2 buah cermin yang diletakkan saling tegak lurus. Di bagian tengahnya, terdapat sebuah cermin separo perak (beam splitter) yang jika diletakkan pada sudut 45O terhadap cermin 1 (fixed mirror) dan cermin 2 (moveable mirror) dapat membagi sinar datang menjadi 2 bagian secara tegak lurus. Salah satu sinar akan mengarah ke cermin 1, sedangkan yang lainnya mengarah ke cermin 2. Untuk meyakinkan hasil tersebut, mereka juga mencoba mengukur pergeseran pola interferensi yang terbentuk pada layar seperti inset dalam gambar 4. Namun tetap saja hasilnya nihil. Ketika eksperimen dilakukan pada musim yang berbeda setiap tahunnya dan pada lokasi yang berbeda, kesimpulannya selalu identik: tidak diperoleh pergeseran pola interferensi. Hasil eksperimen ini tentu saja membuat semua ilmuwan saat itu terheranheran, termasuk Michelson sendiri. Sebagai fisikawan klasik, ia bahkan menganggap percobaannya sia-sia. Tapi mau diulang berkali-kali pun hasilnya tetap sama, kecepatan cahaya tidak berubah. Tidak salah lagi, kecepatan cahaya seharusnya tidak tergantung pada kerangka acuan. Kecepatan cahaya harus dianggap sebagai sesuatu yang tetap untuk setiap pengamat dan tentu saja seharusnya eter itu tidak ada. Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2415105-eksperimen-michelson-morley/#ixzz2yzIPXBmV

Hukum Mekanika Newton

|| || || Leave a comments
Hukum pertama Newton (hukum Inersia) tidak membedakan antara partikel yang diam dan partikel yang bergerak dengan kecepatan konstan. Jika tidak terdapat gaya luar-bersih yang bekerja, partikel tersebut tetap akan berada pada keadaan awalnya-diam atau bergerak dengan kecepatan awalnya (lembam).. Sebuah koin dijatuhkan oleh seseorang yang berada dalam sebuah mobil yang sedang bergerak. Pada kerangka acuan S (pengemudi mobil), ketika koin dijatuhkan terlihat kion jatuh vertikal ke bawah. Sedangkan dalam kerangka acuan S’ (Pengamat yang diam diluar mobil) koin mengikuti suatu kurva lintasan parabola karena koin tersebut memiliki kecepatan awal V ke kanan. Berdasarkan ilustrasi tersebut dapat disimpulkan bahwa Hukum Newton baerlaku untuk kerangka acuan S dan S’. Kerangka acuan dimana hukum Newton berlaku disebut kerangka acuan Inersia. Kerangka acuan inersia adalah suatu kerangka acuan yang berada dalam keadaan diam atau bergerak terhadap acuan lainya dengan kecepatan konstan pada suatu garis lurus. Kerangka acuan inersia tidak mengalami percepatan dan tidak berotasi. Jika kita memiliki kerangka acuan inersia yang bergerak dengan kecepatan konstan relatif terhadap yang lainya seperti S dan S’, tidak ada percobaan mekanika yang dapat memberitahu kita bagian mana yang diam dan bagian mana yang sedang bergerak atau keduanya bergerak. Hasil ini dikenal dengan prinsip relativitas Newton, yaitu hukum – hukum Newton tentang gerak dan persamaan gerak sutu benda tetap sama dalam semua kerangka acuan inersia, sedangkan kecepatan benda tidak mutlak tapi bersifat relatif. Prinsip ini dikenal oleh Galileo, Newton dan yang lainya pada abad ke 17. Akan tetapi, pada akhir abad ke 19. Pandangan ini telah berubah. Sejak itu umumnya dipikirkan bahwa relativitas Newton tidak berlaku lagi dan gerak mutlak dapat dideteksi dalam prinsip pengukuran kecepatan cahaya. Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2415103-hukum-mekanika-ewton/#ixzz2yzFE8tLy

Remind The Environment

|| || || Leave a comments
" Need to campaign for World Environment Day ? This is our world , if we do not who else cares ? " Human life as breathing . The lungs of the plant supplying oxygen if available oxygen in the air . If there is not a plant that grows in the soil of the earth is still possible to create human life ? The answer is " NO ! " Because human life is impossible without the help of plants . In nature plants much different from humans ranging from the origins of events , forms ( type and color ) , and how to care , but they can both be equated in terms of foraging . As we have seen humans and plants have mutually rotating system . This natural turnover consecutive seimbang.Siklus human life by naked eye is breathing and eating . In the human body God has created a static system that forever will not be dynamic . The system has two pair of organs that are equally in need of fresh air . If the human form of oxygen ( O2 ) and plant a Carbon Dioxide ( CO2 ) . Every second rotation is done starting from the influx of oxygen to carbon dioxide spending bersinkron up to 360 degrees to each other , that''s human . As for plants prefer to eat . Charging power to survive ie photosynthesis . With the help of sunlight plants produce oxygen as well as carbon dioxide . Look oxygen obtained from plants will be inhaled by humans to breathe , otherwise the carbon dioxide produced by humans will eat plants for photosynthesis . This trip will always be spinning . Therefore it is important to plant life around us . If not we will bersinkron at whom? There is no longer a creature with a human who has the balance of the tree apart tumbuhan.Menanam means saving 99 lives , the rough language . This is our environment if it still wants to live then plant enough trees to one of the tree houses . About photosynthesis related to the sun, if the sun does not illuminate the earth for two days what would happen ? Do not be long , cursing the sun for a day of clouds earth will be completely dark . The earth will return to Ice Age thousands of years ago lamanya.Sinar sun rays contain a wide variety of living things that are sometimes harmful and some are beneficial . Now we discuss the first harmful rays are the most harmful UV ( Ultraviolet ) . This light is one of the largest components of the sun . If it gets exposed skin , the sting will only lead to cancer . In addition to the destruction of the thinning of skin layers in the network will spread to internal organs could even die . Sounds sad , but fortunately we have a giant fort that is always on standby. Many have called him the protective umbrella of the earth ''s atmosphere . Actually layer of the atmosphere does not always have the energy for the survival of earth because he was like a human , as a young man no doubt but the power of the increasing old age will become brittle from all the activity . You know it''s the age of atmospheric us how ? What was old is young ? Sad because the atmosphere does not have children , no descendants who could replace him if it is the elderly . That concern has now become the international discourse . The atmosphere has been found injured in southern Africa scratch . Big gaping hole in the forest severely damage Ultraviolet rays from the sting . So how close the hole ? The answer is " NO ! " As human beings , it is our duty to save the world from destruction of nature . Although there is no opportunity to treat severe wounds atmosphere but our time keeping and maintaining it. Do not let any more holes that will hurt atmosfer.Penyebab of the hole atmosphere is a greenhouse gas . Reflection of sunlight on the earth and then trapped in the atmosphere so that the reflected and reflected again causing the earth is getting hotter . Plus every day spewed millions of tons of carbon monoxide . Vehicles of various types enliven the highway to increased pollution from earlier . This is often said to be full of dirty air in the city . In contrast, if in the village , although many vehicles that intersects but still there is a balance that the plants growing in the area of ​​the road to look cool . So if we live in the city then planted a lot of plants do not compete to build a factory to take the land . Let''s plant trees for posteritysources : http://id.shvoong.com/society-and-news/envir onment/2412860-ingatkan-hari-lingkungan-hidup/#ixzz2yiTpt3B7 Source: http://www.shvoong.com/society-and-news/environment/2414797-remind-environment/#ixzz2yz6bNhJB

Melatih Kemampuan Menulis

|| || || Leave a comments
Aktivitas blogging tidak terlepas dari kegiatan menulis artikel blog. Tulisan blog inilah yang menandakan adanya „kehidupan‟ sebuah blog. Dan gaya penyampaian tulisan Anda akan menjadi pembeda dan memberi keunikan tersendiri dalam pergaulan blogosphere. Untuk level lebih lanjut, tulisan Anda berpeluang menjadi sumber penghasilan layaknya jenis bisnis online lain seperti adsense, affiliasi, MLM online, jualan ebook, toko online dan sebagainya. Saya mulai dengan anggapan dasar bahwa menulis adalah aktivitas kompleks. Kegiatan ini melibatkan beberapa indera sekaligus. Mata, telinga, hidung, hati hingga perasaan terlibat di dalamnya. Pada kenyataannya, menulis bukan sekedar merangkai kata menjadi kalimat. Lalu kalimat menjadi paragraf dan seterusnya. Untuk tujuan jangka panjang, tulisan-tulisan Anda akan banyak berbicara dan mewakili keberadaan Anda di dunia maya. Setidaknya, ada tiga hal yang berhubungan dengan menulis, baik menulis artikel blog, buku cetak maupun artikel media massa. 1. Menulis sebagai ilmu. Menulis ada teorinya. Terdapat aturan, kaidah dan pakem yang membedakan satu tulisan dengan lainnya sehingga memunculkan beberapa kategori tulisan. Dan ini bisa dipelajari. Kalau Anda belum paham jenis-jenis tulisan, tidak ada salahnya Anda pelajari sejak sekarang. Baik melalui buku cetak, pencarian Google, buku elektronik, seminar dan media lainnya. 2. Menulis sebagai seni. Kalau sudah bicara seni, hal ini akan memasuki kawasan pribadi yang tidak dapat diintervensi siapapun. Menulis menjadi bentuk perwakilan diri dalam komunitas tertentu. Uniknya, tidak ada label baik ataupun buruk. Yang ada hanyalah diterima ataupun tidak diterima masyarakat. 3. Menulis sebagai keterampilan. Kemampuan menulis tidak hadir dalam sekejap dengan mengucapkan mantra sim salabim abra kadabra. Dibutuhkan latihan yang berulang-ulang dan ketekunan supaya kemampuan menulis benar-benar terasah. Meluangkan waktu satu jam tiap hari khusus untuk menulis bisa menjadi langkah awal yang bagus. Asal rutin ya. Kalau sekarang bisa menulis selama tiga jam lalu libur seminggu, sama saja bohong. Tak ada salahnya kalau sesekali Anda mengikuti pelatihan menulis yang sering diadakan Event Organizer di kota Anda. Tidak harus dari penulis terkenal. Karena kemampuan bukanlah warisan dari pesohor, melainkan murni hasil kerja keras Anda. Yang Anda butuhkan hanyalah suasana kondusif yang mendukung terciptanya iklim berpikir yang membawa prospek ke depan. Sumber: http://id.shvoong.com/how-to/writing/2414726-melatih-kemampuan-menulis/#ixzz2yz6AIdSe