xmlns:fb='http://ogp.me/ns/fb#'

Blogger

Alam untuk Indonesia

Social Bookmarking

Tinggal Selangkah Lagi By Pengurus 2014 MLGV

|| || || Leave a comments

Bulan Desember adalah bulan terahkir di Kepengurusan Mamira LGV. Pengurus yang telah berjuang demi perkembangan Organisasi Pecinta Alam ini agar mencapai La Grande Volata. Ini adalah catatan kecil dari Div. Litbang tentang Kepengurusan 2013-2014 MLGV. Ketua Umum dipegang oleh Gita Septian A. (Matematika 2011), Sekretaris Umum dipegang oleh Tri Puji Sulistyoningrum (Matematika 2011) dan Bendahara Umum dipegang oleh Noor Hidayah (Kimia 2012). Mereka bertiga adalah pejuang Pengurus Harian. Selanjutnya pencetus Program Kerja baik Indoor maupun Outdoor, diantaranya : Divisi Konservasi dipegang oleh Kadiv. Septiani Budi S. (Matematika 2011) dan Staff. Hanna Hilyati A. (Matematika 2013), dengan Proker : Sosialisasi Konservasi dan Penghijauan Taman, dll. Divisi Penelitian dan Pengembangan dipegang oleh Kadiv. Sih Wahyunita (Fisika 2012) dan Staff. Glory Natasha (Matematika 2013), dengan Proker : Diksar, Dikjut, Pengembaraan dan Penelitian Organisasi. Divisi Olah Raga Alam Bebas dipegang oleh Kadiv. Dwi Mei P. (Matematika 2012), Koor. RC Bekti Aris Mawan (Fisika 2013) dan Koor GH Putri Dwi Rochmadi (Kimia 2012), dengan Proker : Pendakian Adventuring, Pemanjatan Adventuring, dan Pendakian Tradisi, dll. Divisi Sosmas dipegang oleh Kadiv. Annisa Sri M (Fisika 2012) dan Staff Annis Puji S. (Fisika 2013), dengan Proker : Pembuatan News, Donor Darah dll. Devisi Logistik dipegang oleh Kadiv. Diva Fathinova (Fisika 2012) dan Staff Maerezi Rahmitasari (Fisika 2013) dengan Proker : Penjagaan Alat. Sumber Daya Manusia yang mayoritas perempuan menjadi tantangan tersendiri dalam menjalani Kepengurusan yang luar biasa ini. Keaktifan dan Kekreativitas menjadi pembelajaran yang harus dimiliki setiap Anggota. Karena Organisasi itu tidak bisa memberikan apa-apa kepada kita, namun Kita yang akan memberikan pada Organisasi. Semangat Div. Litbang untuk mengembangkan Organisasi ini menjadi lebih baik lagi. Selanjutnya adalah pembelajaran tentang Caving, Rafting dan Diving. Dengan mencoba pengadaan alat berupa Bolder dan Perencanaan acara lima tahun dengan mengadakan Lomba Lintas Alam secara Nasional.

Ternyata Mamira LGV

|| || || Leave a comments

Mamira LGV itu apa sih? Mungkin hanya beberapa lembaga atau instansi tertentu yang tau, tapi bagi orang-orang yang bergaul di dunia Pecinta Alam terutama daerah Purwokerto-Purbalingga pasti tau. Iya, Mamira LGV adalah organisasi Pecinta Alam yang dilahirkan dari para pemikir Sains sejak tahun 2000. Mahasiswa MIPA Ramah Alam La Grande Volata adalah kepanjangannya yang memiliki makna luar biasa. Banyak kebanggaan yang tersirat dalam naungan ini. Organisasi dan Keluarga, itulah tema yang menjadi perbincangan selama dua periode Kepengurusan. Mamira LGV adalah organisasi dan didalamnya merupakan saudara satu Keluarga. Memang istilah itu tak cocok untuk disalahkan, tapi dilihat dari nama Mamira LGV, ada satu istilah yang semakin hari ke hari berikutnya, bulan ke bulan berikutnya, dan tahun ke tahun berikutnya mulai hilang, yaitu tentang Pecinta Alam. Sewajarnya kita pertama kali masuk UKM PA ini dengan tujuan untuk Refreshing, tapi itu memang tujuan sebenarnya. Bagaimana caranya kita mengemas setiap Kegiatan Mamira LGV sebagai ajang penyegar Otak, maka fisik dan mental akan mengikutinya. Dasar berdirinya Pecinta Alam adalah mengolah Alam bebas, mengenal Alam dan berbaur dengannya. Namun prinsip ini mulai hilang karena terhalang Organisasi, dan orang-orang didalamnya juga ikut menghilangkan Prinsip itu. Sehingga kader-kader Navigasi, Survival dkk sudah menjadi netral. Padahal minat dan kreativitas masing-masing orang itu berbeda. Langkah selanjutnya adalah mari kita bersama membangun Mamira LGV menjadi organisasi Pecinta Alam yang sesungguhnya. Program Kerja yang tidak mencerminkan Pecinta Alam segera dihapuskan dan bekali masing-masing Anggota dalam Pelatihan Navigasi, Pelatihan Survival, Pelatihan SAR, Pelatihan Mountain Sickness, Pelatihan SAR, Pelatihan RC dan Pelatihan Menejemen Organisasi dengan baik dan benar. Mamira LGV adalah wadah mengembangkan minat dan bakat bagi anggota, jadi buatlah sedalam mungkin pengetahuan tentang Kepecintaalaman kita untuk membangun Indonesia yang hijau.

Value Of e/m

|| || || Leave a comments

The purpose of this experiment was to study the magnetic field of the Helmholtz coils in the form of electron trajectories and determine the value of e / m. Determining the value of e / m is done by measuring the diameter of a circle using a scale measuring the electron trajectories contained in the unit for the Helmholtz potential difference constant, strong flow of coil turns and the potential difference changes, strong constant coil current. The calculation of the value of e / m done analytically and graphs. The value of e / m with analytical calculations and graphs during the constant potential difference, strong currents changed each coil is 3.07 x 1011C / kg and 4.30 x 10 11C / kg, while at constant coil current and potential difference change the value of e / m respectively are 2.60 x 1010 C / kg and 1.46 x 10 11C / kg. By reference to the value of e / m is 1.76 × 1011 C / kg (Beiser, A.1990).

What does the agreement actually say?

|| || || Leave a comments

One day, when historians look back to pick the time when the world finally woke up and decided to address global warming, that time may well be the fall of 2014. First, the march in New York drew 400,000 people and many thousands more across the globe to demand that our leaders take action on climate change. And today, the United States and China announced a truly historic agreement to cut emissions of carbon dioxide. The agreement is a welcome breakthrough. It is very promising that the world’s two biggest economies—together responsible for roughly 40 percent of global emissions—have agreed to cut their emissions. Specifically, President Obama committed the U.S to reducing its emissions to 25-28 percent below 2005 levels by 2025, which is feasible using proven and cost-effective technologies such as renewable energy and electric vehicles. And China has pledged for the first time that its total emissions will peak no later than 2030, a sharp break from the current trajectory in which emissions from China continue to rise each year. To help make good on that pledge, China has also agreed to get 20 percent of its energy from renewable or nuclear sources by 2030. This agreement removes the biggest stumbling block to a global climate accord, namely the unwillingness of the United States to act without a commitment from China (and vice-versa), and the unwillingness of other countries to act without strong commitments from both countries. Global warming is the ultimate example of the “tragedy of the commons” in which the health of a shared resource (in this case, the earth’s atmosphere) depends upon many individual nations taking action collectively, with no individual nation wanting to pay the cost unless it can be assured that other responsible counterparts are also doing their fair share. The only effective antidote to this dynamic is real leadership, and that is precisely what United States and China have just shown. Now that they have stepped up to the plate, accompanied by the European Union, which has pledged a forty percent