Pendaki Gunung dan Pecinta Alam berkecimpung di bidang yang sama, jika akan mendaki gunung pasti mereka sudah mempersiapkan dengan matang perlengkapan dalam Mendaki Gunung. Sebelum perlengkapan dipersiapkan seharusnya ada hal lain yang lebih penting untuk dilakukan, yaitu segera tentukan tujuan pendakian, berapa orang dan mencari informasi tentang gunung yang akan didaki. Itu semua harus dilakukan untuk mempersiapkan diri dan mental dalam perjalanan.
Berikut ini adalah beberapa perlengkapan yang harus dibawa guna kenyamanan dalam Mendaki Gunung. Menejemen harus diperhatikan untuk Pendakian Kelompok ataukan Pendakian Solo.
Perlengkapan Pribadi
1. Tas Carriel/Tas Punggung
Tas yang memiliki berbagai ukuran ini sangat efektif sebagai tempat barang-barang dalam mendaki atau perjalanan jauh. Dengan bentuknya yang ramping memanjang dari pinggang ke kepala menjadikan beban terangkat di bagian atas. Memang dilihat sangat besar tapi ketika sudah dipakai beratnya sedikit terkurangi oleh punggung.
Ukuran dari 50 – 100 liter tergantung seberapa banyak barang yang mau dibawa, tapi untuk perempuan biasanya 60 – 80 liter sedangkan laki-laki kisaran 90 – 100 liter. Namun ngetrennya saat ini adalah Mendaki Gunung dengan Tas Carriel Mini. Jika berminat beli carilah tas Carriel yang benar-benar nyaman dan berkualitas karena bahan yang kurang baik akan menyebabkan lecet di bagian kulit dan mengganggu kenyamanan dalam perjalanan Mendaki Gunung.
2. Sepatu Tracking
Sebagai alas yang kuat tahan dari hantaman tanah dan batu makan pakailah sepatu yang khusus untuk Mendaki yaitu sepatu Tracking. Dengan bahan karet yang lembut membuat kaki nyaman untuk jalan. Ada juga yang memakai sepatu PDL, sepatu ini memang sangat kuat karena bagian ujung depat dilapisi besi untuk melindungi kaki dari batu tapi tergantung kenyamanan kaki masing-masing karena ada yang bilang sepatu PDL itu berat jika dipakai. Untuk pemula kalau bisa jangan menggunakan sepatu kets karena jalan di pegunungan itu licin.
3. Baju Lapangan
Baju sepasang dari Pakaian dan Celana, sebaiknya menggunakan dari bahan yang cepat kering sehingga sewaktu hujan pakaian tetap terjaga. Jangan pernah memakai pakaian yang tebal dan ketat waktu jalan karena cepat panas dan menghambat aliran darah bahkan bikin cepat kekurangan cairan tubuh.
4. Sleeping Bed (SB)
Sarana agar tubuh nyaman istirahat adalah ketika tidur memakai Sleeping Bed. Sebuah selimut yang didesain khusus untuk melindungi tubuh dari kedinginan. Baik yang berbahan polar ataupun nonpolar, panas tubuh akan menguap dan terperangkap di dalam SB sehingga kita merasakan kehangatan dari suhu tubuh kita sendiri.
5. Jaket
Sebisa mungkin memakai Jaket Gunung, karena jaket ini terbuat dari bahan yang anti air. Dengan demikian akan terasa nyaman dipakai dalam keadaan kedinginan. Jika memakai jaket tebal takutnya akan memberatkan beban jika nanti basah, jadi usahakan pakai jaket gunung untuk kenyamanan Mendaki Gunung
6. Sendal
Sebenarnya ketika jalan boleh – boleh saja memakai sandal, tapi alangkah baiknya jangan. Karena kaki akan cepat lecet mengingat bahan sandal sangat kasar. Sandal biasanya hanya digunakan ketika sudah sampai ditempat Camp yaitu untuk keperluan pribadi misalnya berwudhu dll. Selebihnya sandal hanya akan di packing di dalam tas. Saranku kita jalan memakai sepatu sedangkan sandal pakai yang biasa saja, nggak harus sandal gunung karena sandal tidak dipakai di perjalanan. Jadi buat meringankan beban saja.
7. Ponco / Jas Hujan
Jangan pernah menyepelekan ini karena jika hujan apakah mau basah-basahan? Itu tidaklah mungkin karena cuaca dingin lebih peka terhadap kulit. Fungsi dari jas hujan adalah sebagai pelindung dari hujan ketika kita masih dalam perjalanan.
8. Headlamp / Senter
Penerang kegelapan, di gunung tidak ada listrik. Ada yang bilang senter adalah mata malam kita di gunung karena memang sangat gelap gulita. Sebisa mungkin membawa baterai cadangan, terlebih jika lebih memilih jalan malam pasti lebih banyak energy penerang yang digunakan untuk melihat jalan setapak.
9. Perlengkapan Mandi
Di gunung suhu sangat dingin jarang ada yang mandi, setidaknya membawa cuci muka, tisu basah dan sikat gigi guna menjaga kebersihat kulit dan bau mulut. Jika berada di musim kemarau sebaiknya membara sunblok untk melindungi kulit wajah dari terik matahari yang menyengat.
10. Perlengkapan Sholat
Sebagai makhluk yang memiliki Tuhan, jangan pernah sesekali melupakan ibadah kita di gunung. Padahal gunung adalah tempat tertinggi yang konon katanya bisa merasa lebih dekat dengan sang Pencipta ketika sampai di Puncak.
Perlengkapan Kelompok
1. Tenda
Camp di gunung adalah menggunakan Tenda Doom, tenda yang memiliki berbagai kapasitas orang ini harus dibawa untuk istirahat di gunung. Ada yang berkapasitas 2 – 3 orang, 4 – 5 orang, bahkan tenda doom raksasa muat 10 – 15 orang. Bahan tenda memang anti air tapi demi kenyamanan juga lebih baik membawa Flysheet. Selain untuk pelindung tenda juga di pakai untuk peneduh di luar cakupan tenda.
2. Matras
Matras digunakan sebagai alas tidur di tenda atau dibuat duduk-duduk di atas tanah. Sebaiknya membawa satu orang satu matras dan dalam Pendakian Kelompok bawalah dengan menjumlah berapa orang dilebihkan satu atau dua matras untuk bersantai di luar cakupan tenda.
3. Golok
Benda tajam ini harus dibawa minimal satu untuk satu kelompok karena memiliki fungsi sebagai senjata jika bertemu dengan hewan buas. Tapi kebanyakan tidak berfungsi seperti itu karena jalur yang dilewati sudah jalur yang umum untuk manusia terkecuali jika dalam keadaan tersesat. Selain itu golok berfungsi untuk memotong kayu sebagai Api Unggun dan menggali tanah sebagai tempat buang air besar jika perlu.
4. Perlengkapan Masak
Kompor, Tabung gas, Nesting, Piring, Sendok, Gelas, Pisau
Alat-alat masak ini dibawa sesuai kebutuhannya. Misalnya kita mendaki 3 hari dengan jumlah 5 kali masak berarti cukup membawa 3 tabung gas atau dll.
5. Alat Navigasi
Navigasi Darat adalah teknik yang paling digemari ketika sedang berada di alam bebas. Dengan modal pengetahuan Kompas, Peta, Protraktor, dan alat tulis kita bisa menirukan metode-metode yang pernah dilakukan oleh para Militer. Menembak minimal dua punggungan kita bisa menemukan posisi kita di Peta. Walau memang jarang para Pendaki Gunung melakukannya tapi cobalah jika penasaran.
6. Menejemen Air
Air sangat dibutuhkan mulai untuk minum, masak dan keperluan lainnya, jika suatu jalur pendakian tidak ada sumber air maka kita harus benar-benar fullpack dari bawah minimal satu orang membawa 4,5 liter air dengan ditaruh baik di botol besar, botol kecil, drijen ataupun water tank.
7. Asupan Gizi Makanan
Mendaki gunung membutuhkan banyak energy dalam perjalanan, itulah sebabnya kandungan gizi harus seimbang dan terjaga. Jangan terlalu banyak bawa makanan yang instan, bawalah makanan berkalori. Misalnya daging, sayuran ataupun buah-buahan. Untuk menahan rasa dingin, bawalah minuman hangat (Kopi, susu), dan cemilan coklat untuk memanaskan suhu tubuh.
Jika melakukan Pendakian Solo maka semua perlengkapan harus disiapkan sendiri dan segala resiko harus siap dihadapi. Beda halnya jika Pendakian Kelompok semua perlengkapan yang menyangkut kelompok bisa dipersiapkan bersama-sama dan membagi tugas untuk membawanya. Sebenarnya ketika kita sedang di gunung, banyak yang bilang sifat aslinya orang tersebut akan terlihat. Bagaimana dia yang egois dan yang saling tolong menolong akan nampak di perjalanan. Oleh karena itu para Pecinta Alam dianggap lengket dengan satu sama lainnya karena mereka sudah tahu sifat dan karakter masing-masing. Jadi kekeluargaan Pecinta Alam terbentuk rapi sampai kedepannya.
Ceritaku di dunia Mapala, semoga berkesan untuk semuanya ….
Social Bookmarking
Home » Archives for 03/23/14
PENDAKIAN SLAMET JALUR BAMBANGAN
Unknown || || Pendakian Gunung || Leave a comments
Gunung Slamet adalah gunung berapi bertipe strato yang terletak di 5 Kabupaten yaitu Kabupaten Pemalang, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kabupaten Banyumas dan Kbupaten Purbalingga. Gunung yang memiliki ketinggian 3428 Mdpl ini tercatat sebagai gunung tertinggi nomer 2 setelah Gunung Semeru dan ternyata gunung paling besar di Pulau Jawa. Sesuai namanya gunung Slamet keadaan yang menyatakan bahwa level dinaikkan dari Normal (Level I) menjadi Waspada (Level II) kini menjadi hal yang wajar. Karena menurut warga penduduk sekitar gunung ini selalu mengeluarkan asap tebal dalam jangka lima tahun sekali tapi tidak berdampak besar. Ucapan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai Pencipta Alam Semesta.
Selama berdomisili di Kota Satria, saya punya banyak cerita yang tak salah jika dibagikan di tulisan ini. Berbagai pengalaman yang menuntunku untuk berbuat mandiri tanpa harus melibatkan kasih sayang orang tua. Belajarlah sendiri karena tak selamanya kita hidup bersama mereka. Tahun 2012 petualangan di mulai, menjajah keseharian menjadi mahasiswa adalah kebanggaan yang luar biasa karena kutahu banyak yang ingin masuk Perguruan Tinggi tapi berbagai alasan menghalanginya.
Saatnya bercerita, kisah singkat menjadi anggota Pecinta Alam
Pertama-tama hanya iseng dan penasaran terhadap dunia mereka tapi akhirnya kecantol juga. Dulu sempat menganggap remeh kegiatan ini tapi ternyata saya salah besar. Disinilah kutemukan keluarga baru yang membangun kebersamaan saling peduli antar sesama. Memang ada benar bahwa kegiatan Pecinta Alam itu sangat ekstrim dan menantang Adrenalin, tapi dibalik itu semua ada hikmahnya, kita bisa lebih mengenal keanekaraman Alam di Indonesia. Keindahannya yang tak kalah juga jika disandingin dengan Negara lain. Pengalaman pertama berkegiatan di alam bebas adalah Mendaki Gunung dengan bekal ilmu kepecintaalaman yang tak pernah kudapat dari pendidikan di bangku kuliah.
Pendakian Gunung Slamet Jalur Bambangan
BaseCamp
Jalur ini terletak di desa Kutabawa Bambangan Purbalingga. Sebelum mendaki saya dan teman-teman menyiapkan perlengkapan pendakian, mencari info tentang adat istiadat daerah, dan menentukan tujuan pendakian. Untuk mencapai kesini, biasanya menggunakan sepeda motor ataupun carter mobil Pick Up sekitar 2 jam dari Purwokerto. Jika dari luar cakupan Banyumas bisa menggunakan bus jurusan Purwokerto kemudian carter mobil dari Terminal Purwokerto menuju Basecamp. Jalur pendakian ini memiliki 9 Pos untuk mencapai ke Puncak.
Jalur Bambangan merupakan Jalur yang paling familiar di telinga para pendaki karena jalurnya yang sudah dipatenkan oleh Pemerintah daerah setempat, jalurnya yang sangat jelas dan terdapat sumber air. Oleh karena itu jalur ini menjadi favorit pendaki untuk masalah keselamatan. Padahal masih ada jalur lain yang bisa digunakan seperti Jalur Baturraden, Jalur Guci, dll. Selama enam kali mendaki Gunung Slamet belum pernah ada kenaikan harga tiket masuk yakni Rp. 5.000,00. Pendaftaran dilakukan di Basecamp, dan 10 meter naik ke atas ada bangunan yang bertuliskan Pondol Pemuda. Tempat ini dibangun untuk pelayanan SAR, dan biasanya digunakan untuk persiapan para pendaki ataupun ngecamp sebelum maupun sesudah pendakian jika Basecamp sedang ramai. Tapi itu tergantung Menejemen sendiri apakah sehabis registrasi langsung naik atau istirahat dulu ditempat yang memang sudah disediakan.
Pos 1
Dari Basecamp menuju Pos 1 memakan waktu 1,5 jam perjalanan cepat dan 2 jam untuk jalan santai. Dari gerbang pendakian kita mencari jalan ke arah kiri, disini kita melewati ladang penduduk yang biasanya ditanamin khas pegunungan (Kubis, wortel, selada, daun bawang dll ). Kemudian terlihat jalan terbuka yang landai, disepanjang jalan tertanam rerumputan dan pohon-pohon yang jarang sehingga jalurnya terlihat jelas kira-kira 30 menit. Setelah itu kita bertemu dengan Lahan kosong yang sangat luas, ini adalah Lapangan yang dulunya sering sebagai tempat Camp sebelum ada Pondok Pemuda di bawah dan sekarang masih tetap sebagai lahan kosong sebagai tempat istirahat sejenak. Disini ada 2 jalur, tinggal memilih mau yang landai atau nanjak. Jika nanjak ambil jalan setapak sebelah kiri di atas Lapangan dan tentunya lebih cepat tapi jika landai ikuti saja jalur dari yang awal. Tidak ada sumber air. Masih sekitar 30 menit sampai menemukan jalur yang dipenuhi hutan pinus, kemudian masuk kerindangan pohon pinus disepanjang jalan. Disini jalan mulai nanjak diatas tanah berwarna coklat murni sejauh 30 menit sampai menuju Pos 1.
Pos 2
Pos 1 merupakan pos pendakian yang memiliki shelter cukup didirikan 6 tenda doom sebagai tempat Camp. Disini terdapat bangunan gubuk kecil 5 x 3 meter dan bisa dilihat dari Basecamp. Tidak ada sumber air. Pemandangan di Pos 1 sudah terbilang sangat elegan dan indah sekali. Biasanya kalau pagi dan sore hari ada burung elang yang selalu beterbangan diatas awan. Disini gunung Sindoro Sumbing terlihat menawan. Jika ingin melakukan teknik Navigasi Darat belum bisa dilakukan, hanya saja nanti ketika sampai di Pos 5 kita bisa membidik kompas ke arah Gunung Malang dan Puncak Slamet.
Melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 kira kira 2 jam perjalanan. Sepanjang jalur ini memiliki medan yang treknya bisa dibilang nanjak terus menerus sehingga dibutuhkan banyak tenaga ekstra dan estimasi waktu yang cukup. Keanekaragaman tanaman disini sangat beragam, disini adalah awal mula melewati Hutan Slamet yang sebenarnya. Begitu rindang dan teduh untuk dibuat jalan walaupun treknya menggila tapi jalur setapaknya masih terlihat sangat jelas. Kemudian bertemu dengan tugu perbatasan Purbalingga-Pemalang, katanya disini sudah mencapai setengah perjalanan dari Pos 2. Jika sedang sepi maka kita terkadang menemukan hewan Bajing yang berkeluyuran di sekitar pohon-pohon besar, selain itu suara nyanyian beraneka burung menghiasi setiap jalan hingga sampai di Pos 2.
Pos 2 - Pos 3
Pos 2 merupakan dataran yang cukup luas untuk kira-kira 10 doom sebagai Camp, disini tak ada bangunan gubuk hanya saja pos 2 terletak dibawah pohon-pohon besar sehigga tergolong sangat teduh untuk istirahat dan bersantai. Disini banyak terdapat monyet hutan yang sering bergelantung di atas pohon tanpa takut kepada kehadiran pendaki.
Selanjutnya dari Pos 2 menuju Pos 3 kira kira 1,5 jam dengan jalan yang juga nanjak. Vegetasi disepanjang jalur tak beda jauh dari yang ada di sekitar Pos 2. Jalannya yang rindang dan teduh sangat memotivasi perjalanan yang cukup jauh ini. Memang benar-benar tercium bau hutan yang mengikat. . Terakhir kali saya kesana terdapat pohon tumbang di jalur kiri sehingga dipotong ke jalur kanan untuk menghindari pohon itu. Anehnya lagi saya pernah lihat ada ayam kampong yang diikat di pohon dengan dibuatkannya camp kecil untuk si ayam tersebut. Sampai sekarang masih belum tahu jawaban dari warga karena kelupaan bertanya sewaktu di Basecamp. Setelah melewati Pos 1 dan Pos 2 maka jalan selanjutnya seakan sudah terbiasa sehingga tak terasa sudah sampai di Pos 3.
Pos 3 – Pos 4
Pos 3 adalah daerah datar yang sempit kira-kira cukup 3 tenda doom untuk Camp. Sama halnya di Pos 2, tidak ada bangunan gubug disini hanya tulisan Pos 3 ditempel di tiang Pohon. Ada sumber air. Dengan cara turun ke bawah sebelah kiri, ikuti jalan setapak kemudian menemukan aliran air kecil tapi jika kemarau biasanya tidak ada, cukup buat bekal minum dan berwudhu itu sudah bisa.
Dari Pos 3 menuju Pos 4 kira kira 1 jam perjalanan, jalan masih nanjak tapi masih bisa menemukan jalan yang landai. Ada banyak shelter di sepanjang jalur untuk 2 doom, ya terbilang sempit tapi jika memang waktu terlanjur sudah sangat larut dan cuaca hujan diharuskan ngecamp dulu. Vegetasi tanaman masih sama rindangnya di Pos 3. Sekedar saran dari berbagai pengalaman teman-teman saya yang baru baru ini naik gunung Slamet. Di sepanjang jalur Pos 3 – Pos 5 saat ini sedang rawan Babi Hutan yang berkeliaran pukul 23.00 ke atas, jadi lebih baik sudah ngecamp sebelum jam itu. Kedengarannya babi Hutan tersebut mencium bau makanan yang dibawa para pendaki.
Pos 4 – Pos 5
Pos 4 merupakan daerah dengan dataran yang cukup luas kira kira 5 doom untuk tempat Camp tapi sangat nanggung karena sudah lumayan dekat dengan Pos 5 jaraknya. Disini juga tidak ada gubug, tepatnya di samping pohon tumbang yang masih kokoh berdiri. Tidak ada sumber air. Banyak yang bilang Pos ini sesuai namanya yaitu Pos Samarantu, Pos yang memiliki cukup mistis. Bukan maksud menakuti tapi memang mengundang bulu kidik berdiri ketika sampai di Pos ini sehingga pengin cepat-cepat jalan. Tapi semuanya tergantung kepada sikat kita, selalu berfikirlah positif dan jaga kesopanan berbicara untuk menghargai daerah yang hanya kita lewati.
Melanjutkan Pos 4 menuju Pos 5 kira kira 45 menit saja, di sepanjang jalur ini pada tahun 2012 pernah terjadi kebakaran hutan jadi jalurnya lumayan terbuka dan masih banyak ranting-ranting kering berwarna hitam tapi sekrang sudah mulai ditumbuhi tanaman-tanaman hijau. Karena gersang sering terlihat banyak burung yang hinggap diranting tersebut, dan saya sesekali dalam enam kali pendakian saya melihat ayam hutan. Terlalu jeli dan lincah, bahkan baru saja menengok ayam itu sudah lari entah kemana perginya.
Pos 5 – Pos 6
Pos 5 memiliki dataran yang luas dibanding pos – pos sebelumnya, disini terdapat gubug kecil yang bisa dimuat 3 doom di dalamnya sehingga total doom itu bisa mencapai 20 doom baik di Pos 5 ataupun di sepanjang jalur di bawah maupun di atas karena banyak tanah yang datar disini. Disebelah kanan terlihat jelas gunung Malang yang indah, dan ketika menengok lebih tinggi lagi terlihat pelawangan Puncak Slamet yang berdiri di atas pucuk penglihatan. Sungguh luar biasa berada di sini. Ada sumber air. Cari jalan menuju ke bawah sebelah kanan, nanti ada sebuah pancuran jernih untuk mengisi berbagai macam persediaan air buat Pendaki (Masak, MCK dan minum).
Biasanya banyak pendaki yang memilih camp disini sebelum nantinya perjalanan langsung ke Puncak karena hanya 4 jam menuju ke titik tertinggi. Dari Pos 5 menuju pos 6 kira kira 30 menit, sepanjang jalur yang terbuka karena tanaman sudah mulai jarang tumbuh. Jalan yang nanjak membuat stamina digugah untuk tetap fit. Pemandangan indah menjadi penyemangat hingga sampai tak terasa berada di Pos 6.
Pos 6 – Pos 7
Pos 6 merupakan jalur pendakian jadi sangat egois jika ngecamp disini. Dataran shelter yang sangat sempit hanya cukup untuk istirahat sejenak dan menarik napas. Selanjutnya menuju Pos 7 kira kira 30 menit karena jaraknya memang dekat. Vegetasi masih sama di sepanjang Pos 5 karena di sini masih kena dampak kebakaran hutan. Tapi tidak seluas yang di sepanjang jalur Pos 5. Disini banyak jalan seperti terowongan yang akan dilewati karena jalannya dikelilingi tanah yang tinggi.
Pos 7 – Pos 8
Pos 7 merupakan Pos pertimbangan untuk ngecamp, karena jaraknya yang dekat dengan puncak tapi masih aman jika ngecamp disini. Tidak ada sumber air. Disini juga ada bangunan gubug, dan tempatnya cukup untuk 6 doom tenda. Selama enam kali pendakian saya lebih banyak camp di Pos 5 dari pada di Pos 7. Karena jika di Pos 7 harus fullpack air untuk kebutuhan di Pos 7 dan masih harus memakai Carriel di ketinggian ini. Sepanjang jalur ini masih sama halnya di Pos 6 tapi disini dataran hutan sudah mulai terbuka bahkan terlihat sangat jelas yang ada dibawah. Perjalanannya kira kira ditempuh sekitar 30 menit menuju Pos 8
Pos 8 – Pos 9
Pos delapan sama halnya Pos 6 yaitu dataran kecil di jalur pendakian bedanya di Pos 8 sangat terbuka sehingga anginnya datang berhamburan. Disarankan jangan bikin camp di sini, tidak ada sumber air. Dataran sudah sangat terbuka di sepanjang jalan, bahkan tumbuhan Edelweis sudah nampak keindahannya. Medannya sangat nanjak dan diharuskan berhati hati. Ketika saya di Pos 8 digunakan untuk beribadah karena sudah masuk waktu subuh walau lebih cukup lumayan. Dari Pos 8 menuju Pos 9 kira kira 30 menit.
Pos 9 – Puncak
Pos 9 adalah dataran terakhir sebelum Pelawangan. Tidak ada air dan jangan ngecamp disini karena sangat terbuka dan anginnya bertabrakan arah dari atas dan bawah. Disini kita sudah bisa melihat bahwa keberadaan di atas awan, sungguh luar biasa. Selanjutnya perjalanan menuju Puncak, dengan sebelumnya kita akan di hadapkan rintangan bebatuan yang di sebut Pelawangan. Disini dibutuhkan keahlian jeli memilih batuan yang cukup kuat untuk diinjak dan dipegang karena jalannya sangat nanjak. Dari pos 9 terdapat bangunan Plang Kuning sebagai gerbang perbatasan antara vegetasi akhir dengan bebatuan. Karena setelah melewati Plang tersebut semuanya hanya batu, pasir dan tanah padat. Pelawangan Gunung Slamet memiliki kemiringan hingga 450 dengan berbagai jenis batuan yang unik. Ikutilah jalan ke depan, jangan terlalu menukik ke kanan ataupun ke kiri karena itu adalah jurang. Dalam perjalanan kali ini dibutuhkan wakt kira-kira 2 jam untuk bisa sampai Puncak.
Puncak
Berada di Puncak Gunung Slamet 3428 Mdpl adalah hal yang luar biasa. Setelah perjuangannya melawan rasa lelah dan letih kini terobati dengan penampakan pemandangan di Puncak yang indah. Ada yang bilang “ Setinggi-tinggi puncak sebuah gunung masih tinggi mata kaki manusia”. Memang benar karena kita berdiri diatasnya, jadi kita yang lebih tinggi. Disini terlihat banyak puncakan gunung-gunung yang mengelilingi gunung Slamet diantaranya terlihat Sindoro-Sumbing, Merbabu-Merapi-Ungaran dll.
Terminal Purwokerto – Basecamp = 2 jam
Basecamp – Pos 1 = 2 jam
Pos 1 – Pos 2 = 2 jam
Pos 2 – Pos 3 = 1,5 jam
Pos 3 – Pos 4 = 1 jam
Pos 4 – Pos 5 = 45 menit
Pos 5 – Pos 6 = 30 menit
Pos 6 – Pos 7 = 30 menit
Pos 7 – Pos 8 = 30 menit
Pos 8 – Pos 9 = 30 menit
Pos 9 – Puncak = 2 jam
Dan yang menjadi kebanggaan tersendiri adalah mengibarkan bendera Merah Putih dan Bendera keanggotaan yang sudah membesarkan pengetahuan kita di Alam Bebas ini. Kerana dengan itu semua saya mendapatkan pembelajaran tentang ilmu kepecintaalaman seperti Navigasi Darat (Menemukan posisi di peta), Menejemen Perjalanan (Persiapan alat, waktu dan tempat), Survival (Berbekal jika tiba-tiba tersesat), PPGD (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, ilmu kedoketran di Lapangan dengan alat terbatas), Konservasi (Meneliti dan mengembangkan pengetahuan vegetasi khas pegunungan), SAR (Membantu penelusuran pencarian orang hilang) dll.
Sekedar bercerita, sebenarnya Pendaki Gunung dan Pecinta Alam itu berbeda. Karena Pendaki Gunung belum pernah menerima Pendidikan Dasar dan Pendidikan Lanjut tentang ilmu Kepecintaalaman, yang ditahunya hanyalah sekedar mendaki saja. Sedangkan Pecinta Alam sudah melewati beberapa tahap tantang ilmu Kepecintaalaman untuk bisa melestarikan alam. Banyak sekarang orang-orang yang tanpa dibekali ilmu kepecintaalaman tertarik untuk naik gunung akibat peluncuran film 5 cm yang berdampak bagi penonton. Sehingga banyak sampah yang tergeletak di gunung dan jalan gunung sudah banyak diinjak oleh manusia. Kecemasan mulai timbul, saat nantinya keaslian hutan di gunung semakin berkurang. Jadi jika ingin merasakan Alam Bebas setidaknya mempunyai bekal ilmu Kepecintaalaman untuk bisa membantu ikut dalam Pelestarian Alam Indonesia.
Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membacanya, semoga bermanfaat

