xmlns:fb='http://ogp.me/ns/fb#' PENDAKIAN SLAMET JALUR BAMBANGAN

Blogger

Alam untuk Indonesia

Social Bookmarking

PENDAKIAN SLAMET JALUR BAMBANGAN

|| || || Leave a comments
Gunung Slamet adalah gunung berapi bertipe strato yang terletak di 5 Kabupaten yaitu Kabupaten Pemalang, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kabupaten Banyumas dan Kbupaten Purbalingga. Gunung yang memiliki ketinggian 3428 Mdpl ini tercatat sebagai gunung tertinggi nomer 2 setelah Gunung Semeru dan ternyata gunung paling besar di Pulau Jawa. Sesuai namanya gunung Slamet keadaan yang menyatakan bahwa level dinaikkan dari Normal (Level I) menjadi Waspada (Level II) kini menjadi hal yang wajar. Karena menurut warga penduduk sekitar gunung ini selalu mengeluarkan asap tebal dalam jangka lima tahun sekali tapi tidak berdampak besar. Ucapan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai Pencipta Alam Semesta. Selama berdomisili di Kota Satria, saya punya banyak cerita yang tak salah jika dibagikan di tulisan ini. Berbagai pengalaman yang menuntunku untuk berbuat mandiri tanpa harus melibatkan kasih sayang orang tua. Belajarlah sendiri karena tak selamanya kita hidup bersama mereka. Tahun 2012 petualangan di mulai, menjajah keseharian menjadi mahasiswa adalah kebanggaan yang luar biasa karena kutahu banyak yang ingin masuk Perguruan Tinggi tapi berbagai alasan menghalanginya. Saatnya bercerita, kisah singkat menjadi anggota Pecinta Alam Pertama-tama hanya iseng dan penasaran terhadap dunia mereka tapi akhirnya kecantol juga. Dulu sempat menganggap remeh kegiatan ini tapi ternyata saya salah besar. Disinilah kutemukan keluarga baru yang membangun kebersamaan saling peduli antar sesama. Memang ada benar bahwa kegiatan Pecinta Alam itu sangat ekstrim dan menantang Adrenalin, tapi dibalik itu semua ada hikmahnya, kita bisa lebih mengenal keanekaraman Alam di Indonesia. Keindahannya yang tak kalah juga jika disandingin dengan Negara lain. Pengalaman pertama berkegiatan di alam bebas adalah Mendaki Gunung dengan bekal ilmu kepecintaalaman yang tak pernah kudapat dari pendidikan di bangku kuliah. Pendakian Gunung Slamet Jalur Bambangan BaseCamp Jalur ini terletak di desa Kutabawa Bambangan Purbalingga. Sebelum mendaki saya dan teman-teman menyiapkan perlengkapan pendakian, mencari info tentang adat istiadat daerah, dan menentukan tujuan pendakian. Untuk mencapai kesini, biasanya menggunakan sepeda motor ataupun carter mobil Pick Up sekitar 2 jam dari Purwokerto. Jika dari luar cakupan Banyumas bisa menggunakan bus jurusan Purwokerto kemudian carter mobil dari Terminal Purwokerto menuju Basecamp. Jalur pendakian ini memiliki 9 Pos untuk mencapai ke Puncak. Jalur Bambangan merupakan Jalur yang paling familiar di telinga para pendaki karena jalurnya yang sudah dipatenkan oleh Pemerintah daerah setempat, jalurnya yang sangat jelas dan terdapat sumber air. Oleh karena itu jalur ini menjadi favorit pendaki untuk masalah keselamatan. Padahal masih ada jalur lain yang bisa digunakan seperti Jalur Baturraden, Jalur Guci, dll. Selama enam kali mendaki Gunung Slamet belum pernah ada kenaikan harga tiket masuk yakni Rp. 5.000,00. Pendaftaran dilakukan di Basecamp, dan 10 meter naik ke atas ada bangunan yang bertuliskan Pondol Pemuda. Tempat ini dibangun untuk pelayanan SAR, dan biasanya digunakan untuk persiapan para pendaki ataupun ngecamp sebelum maupun sesudah pendakian jika Basecamp sedang ramai. Tapi itu tergantung Menejemen sendiri apakah sehabis registrasi langsung naik atau istirahat dulu ditempat yang memang sudah disediakan. Pos 1 Dari Basecamp menuju Pos 1 memakan waktu 1,5 jam perjalanan cepat dan 2 jam untuk jalan santai. Dari gerbang pendakian kita mencari jalan ke arah kiri, disini kita melewati ladang penduduk yang biasanya ditanamin khas pegunungan (Kubis, wortel, selada, daun bawang dll ). Kemudian terlihat jalan terbuka yang landai, disepanjang jalan tertanam rerumputan dan pohon-pohon yang jarang sehingga jalurnya terlihat jelas kira-kira 30 menit. Setelah itu kita bertemu dengan Lahan kosong yang sangat luas, ini adalah Lapangan yang dulunya sering sebagai tempat Camp sebelum ada Pondok Pemuda di bawah dan sekarang masih tetap sebagai lahan kosong sebagai tempat istirahat sejenak. Disini ada 2 jalur, tinggal memilih mau yang landai atau nanjak. Jika nanjak ambil jalan setapak sebelah kiri di atas Lapangan dan tentunya lebih cepat tapi jika landai ikuti saja jalur dari yang awal. Tidak ada sumber air. Masih sekitar 30 menit sampai menemukan jalur yang dipenuhi hutan pinus, kemudian masuk kerindangan pohon pinus disepanjang jalan. Disini jalan mulai nanjak diatas tanah berwarna coklat murni sejauh 30 menit sampai menuju Pos 1. Pos 2 Pos 1 merupakan pos pendakian yang memiliki shelter cukup didirikan 6 tenda doom sebagai tempat Camp. Disini terdapat bangunan gubuk kecil 5 x 3 meter dan bisa dilihat dari Basecamp. Tidak ada sumber air. Pemandangan di Pos 1 sudah terbilang sangat elegan dan indah sekali. Biasanya kalau pagi dan sore hari ada burung elang yang selalu beterbangan diatas awan. Disini gunung Sindoro Sumbing terlihat menawan. Jika ingin melakukan teknik Navigasi Darat belum bisa dilakukan, hanya saja nanti ketika sampai di Pos 5 kita bisa membidik kompas ke arah Gunung Malang dan Puncak Slamet. Melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 kira kira 2 jam perjalanan. Sepanjang jalur ini memiliki medan yang treknya bisa dibilang nanjak terus menerus sehingga dibutuhkan banyak tenaga ekstra dan estimasi waktu yang cukup. Keanekaragaman tanaman disini sangat beragam, disini adalah awal mula melewati Hutan Slamet yang sebenarnya. Begitu rindang dan teduh untuk dibuat jalan walaupun treknya menggila tapi jalur setapaknya masih terlihat sangat jelas. Kemudian bertemu dengan tugu perbatasan Purbalingga-Pemalang, katanya disini sudah mencapai setengah perjalanan dari Pos 2. Jika sedang sepi maka kita terkadang menemukan hewan Bajing yang berkeluyuran di sekitar pohon-pohon besar, selain itu suara nyanyian beraneka burung menghiasi setiap jalan hingga sampai di Pos 2. Pos 2 - Pos 3 Pos 2 merupakan dataran yang cukup luas untuk kira-kira 10 doom sebagai Camp, disini tak ada bangunan gubuk hanya saja pos 2 terletak dibawah pohon-pohon besar sehigga tergolong sangat teduh untuk istirahat dan bersantai. Disini banyak terdapat monyet hutan yang sering bergelantung di atas pohon tanpa takut kepada kehadiran pendaki. Selanjutnya dari Pos 2 menuju Pos 3 kira kira 1,5 jam dengan jalan yang juga nanjak. Vegetasi disepanjang jalur tak beda jauh dari yang ada di sekitar Pos 2. Jalannya yang rindang dan teduh sangat memotivasi perjalanan yang cukup jauh ini. Memang benar-benar tercium bau hutan yang mengikat. . Terakhir kali saya kesana terdapat pohon tumbang di jalur kiri sehingga dipotong ke jalur kanan untuk menghindari pohon itu. Anehnya lagi saya pernah lihat ada ayam kampong yang diikat di pohon dengan dibuatkannya camp kecil untuk si ayam tersebut. Sampai sekarang masih belum tahu jawaban dari warga karena kelupaan bertanya sewaktu di Basecamp. Setelah melewati Pos 1 dan Pos 2 maka jalan selanjutnya seakan sudah terbiasa sehingga tak terasa sudah sampai di Pos 3. Pos 3 – Pos 4 Pos 3 adalah daerah datar yang sempit kira-kira cukup 3 tenda doom untuk Camp. Sama halnya di Pos 2, tidak ada bangunan gubug disini hanya tulisan Pos 3 ditempel di tiang Pohon. Ada sumber air. Dengan cara turun ke bawah sebelah kiri, ikuti jalan setapak kemudian menemukan aliran air kecil tapi jika kemarau biasanya tidak ada, cukup buat bekal minum dan berwudhu itu sudah bisa. Dari Pos 3 menuju Pos 4 kira kira 1 jam perjalanan, jalan masih nanjak tapi masih bisa menemukan jalan yang landai. Ada banyak shelter di sepanjang jalur untuk 2 doom, ya terbilang sempit tapi jika memang waktu terlanjur sudah sangat larut dan cuaca hujan diharuskan ngecamp dulu. Vegetasi tanaman masih sama rindangnya di Pos 3. Sekedar saran dari berbagai pengalaman teman-teman saya yang baru baru ini naik gunung Slamet. Di sepanjang jalur Pos 3 – Pos 5 saat ini sedang rawan Babi Hutan yang berkeliaran pukul 23.00 ke atas, jadi lebih baik sudah ngecamp sebelum jam itu. Kedengarannya babi Hutan tersebut mencium bau makanan yang dibawa para pendaki. Pos 4 – Pos 5 Pos 4 merupakan daerah dengan dataran yang cukup luas kira kira 5 doom untuk tempat Camp tapi sangat nanggung karena sudah lumayan dekat dengan Pos 5 jaraknya. Disini juga tidak ada gubug, tepatnya di samping pohon tumbang yang masih kokoh berdiri. Tidak ada sumber air. Banyak yang bilang Pos ini sesuai namanya yaitu Pos Samarantu, Pos yang memiliki cukup mistis. Bukan maksud menakuti tapi memang mengundang bulu kidik berdiri ketika sampai di Pos ini sehingga pengin cepat-cepat jalan. Tapi semuanya tergantung kepada sikat kita, selalu berfikirlah positif dan jaga kesopanan berbicara untuk menghargai daerah yang hanya kita lewati. Melanjutkan Pos 4 menuju Pos 5 kira kira 45 menit saja, di sepanjang jalur ini pada tahun 2012 pernah terjadi kebakaran hutan jadi jalurnya lumayan terbuka dan masih banyak ranting-ranting kering berwarna hitam tapi sekrang sudah mulai ditumbuhi tanaman-tanaman hijau. Karena gersang sering terlihat banyak burung yang hinggap diranting tersebut, dan saya sesekali dalam enam kali pendakian saya melihat ayam hutan. Terlalu jeli dan lincah, bahkan baru saja menengok ayam itu sudah lari entah kemana perginya. Pos 5 – Pos 6 Pos 5 memiliki dataran yang luas dibanding pos – pos sebelumnya, disini terdapat gubug kecil yang bisa dimuat 3 doom di dalamnya sehingga total doom itu bisa mencapai 20 doom baik di Pos 5 ataupun di sepanjang jalur di bawah maupun di atas karena banyak tanah yang datar disini. Disebelah kanan terlihat jelas gunung Malang yang indah, dan ketika menengok lebih tinggi lagi terlihat pelawangan Puncak Slamet yang berdiri di atas pucuk penglihatan. Sungguh luar biasa berada di sini. Ada sumber air. Cari jalan menuju ke bawah sebelah kanan, nanti ada sebuah pancuran jernih untuk mengisi berbagai macam persediaan air buat Pendaki (Masak, MCK dan minum). Biasanya banyak pendaki yang memilih camp disini sebelum nantinya perjalanan langsung ke Puncak karena hanya 4 jam menuju ke titik tertinggi. Dari Pos 5 menuju pos 6 kira kira 30 menit, sepanjang jalur yang terbuka karena tanaman sudah mulai jarang tumbuh. Jalan yang nanjak membuat stamina digugah untuk tetap fit. Pemandangan indah menjadi penyemangat hingga sampai tak terasa berada di Pos 6. Pos 6 – Pos 7 Pos 6 merupakan jalur pendakian jadi sangat egois jika ngecamp disini. Dataran shelter yang sangat sempit hanya cukup untuk istirahat sejenak dan menarik napas. Selanjutnya menuju Pos 7 kira kira 30 menit karena jaraknya memang dekat. Vegetasi masih sama di sepanjang Pos 5 karena di sini masih kena dampak kebakaran hutan. Tapi tidak seluas yang di sepanjang jalur Pos 5. Disini banyak jalan seperti terowongan yang akan dilewati karena jalannya dikelilingi tanah yang tinggi. Pos 7 – Pos 8 Pos 7 merupakan Pos pertimbangan untuk ngecamp, karena jaraknya yang dekat dengan puncak tapi masih aman jika ngecamp disini. Tidak ada sumber air. Disini juga ada bangunan gubug, dan tempatnya cukup untuk 6 doom tenda. Selama enam kali pendakian saya lebih banyak camp di Pos 5 dari pada di Pos 7. Karena jika di Pos 7 harus fullpack air untuk kebutuhan di Pos 7 dan masih harus memakai Carriel di ketinggian ini. Sepanjang jalur ini masih sama halnya di Pos 6 tapi disini dataran hutan sudah mulai terbuka bahkan terlihat sangat jelas yang ada dibawah. Perjalanannya kira kira ditempuh sekitar 30 menit menuju Pos 8 Pos 8 – Pos 9 Pos delapan sama halnya Pos 6 yaitu dataran kecil di jalur pendakian bedanya di Pos 8 sangat terbuka sehingga anginnya datang berhamburan. Disarankan jangan bikin camp di sini, tidak ada sumber air. Dataran sudah sangat terbuka di sepanjang jalan, bahkan tumbuhan Edelweis sudah nampak keindahannya. Medannya sangat nanjak dan diharuskan berhati hati. Ketika saya di Pos 8 digunakan untuk beribadah karena sudah masuk waktu subuh walau lebih cukup lumayan. Dari Pos 8 menuju Pos 9 kira kira 30 menit. Pos 9 – Puncak Pos 9 adalah dataran terakhir sebelum Pelawangan. Tidak ada air dan jangan ngecamp disini karena sangat terbuka dan anginnya bertabrakan arah dari atas dan bawah. Disini kita sudah bisa melihat bahwa keberadaan di atas awan, sungguh luar biasa. Selanjutnya perjalanan menuju Puncak, dengan sebelumnya kita akan di hadapkan rintangan bebatuan yang di sebut Pelawangan. Disini dibutuhkan keahlian jeli memilih batuan yang cukup kuat untuk diinjak dan dipegang karena jalannya sangat nanjak. Dari pos 9 terdapat bangunan Plang Kuning sebagai gerbang perbatasan antara vegetasi akhir dengan bebatuan. Karena setelah melewati Plang tersebut semuanya hanya batu, pasir dan tanah padat. Pelawangan Gunung Slamet memiliki kemiringan hingga 450 dengan berbagai jenis batuan yang unik. Ikutilah jalan ke depan, jangan terlalu menukik ke kanan ataupun ke kiri karena itu adalah jurang. Dalam perjalanan kali ini dibutuhkan wakt kira-kira 2 jam untuk bisa sampai Puncak. Puncak Berada di Puncak Gunung Slamet 3428 Mdpl adalah hal yang luar biasa. Setelah perjuangannya melawan rasa lelah dan letih kini terobati dengan penampakan pemandangan di Puncak yang indah. Ada yang bilang “ Setinggi-tinggi puncak sebuah gunung masih tinggi mata kaki manusia”. Memang benar karena kita berdiri diatasnya, jadi kita yang lebih tinggi. Disini terlihat banyak puncakan gunung-gunung yang mengelilingi gunung Slamet diantaranya terlihat Sindoro-Sumbing, Merbabu-Merapi-Ungaran dll. Terminal Purwokerto – Basecamp = 2 jam Basecamp – Pos 1 = 2 jam Pos 1 – Pos 2 = 2 jam Pos 2 – Pos 3 = 1,5 jam Pos 3 – Pos 4 = 1 jam Pos 4 – Pos 5 = 45 menit Pos 5 – Pos 6 = 30 menit Pos 6 – Pos 7 = 30 menit Pos 7 – Pos 8 = 30 menit Pos 8 – Pos 9 = 30 menit Pos 9 – Puncak = 2 jam Dan yang menjadi kebanggaan tersendiri adalah mengibarkan bendera Merah Putih dan Bendera keanggotaan yang sudah membesarkan pengetahuan kita di Alam Bebas ini. Kerana dengan itu semua saya mendapatkan pembelajaran tentang ilmu kepecintaalaman seperti Navigasi Darat (Menemukan posisi di peta), Menejemen Perjalanan (Persiapan alat, waktu dan tempat), Survival (Berbekal jika tiba-tiba tersesat), PPGD (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, ilmu kedoketran di Lapangan dengan alat terbatas), Konservasi (Meneliti dan mengembangkan pengetahuan vegetasi khas pegunungan), SAR (Membantu penelusuran pencarian orang hilang) dll. Sekedar bercerita, sebenarnya Pendaki Gunung dan Pecinta Alam itu berbeda. Karena Pendaki Gunung belum pernah menerima Pendidikan Dasar dan Pendidikan Lanjut tentang ilmu Kepecintaalaman, yang ditahunya hanyalah sekedar mendaki saja. Sedangkan Pecinta Alam sudah melewati beberapa tahap tantang ilmu Kepecintaalaman untuk bisa melestarikan alam. Banyak sekarang orang-orang yang tanpa dibekali ilmu kepecintaalaman tertarik untuk naik gunung akibat peluncuran film 5 cm yang berdampak bagi penonton. Sehingga banyak sampah yang tergeletak di gunung dan jalan gunung sudah banyak diinjak oleh manusia. Kecemasan mulai timbul, saat nantinya keaslian hutan di gunung semakin berkurang. Jadi jika ingin merasakan Alam Bebas setidaknya mempunyai bekal ilmu Kepecintaalaman untuk bisa membantu ikut dalam Pelestarian Alam Indonesia. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membacanya, semoga bermanfaat
/[ 0 comments Untuk Artikel PENDAKIAN SLAMET JALUR BAMBANGAN]\

Post a Comment