xmlns:fb='http://ogp.me/ns/fb#'

Blogger

Alam untuk Indonesia

Social Bookmarking

Alam di Gunung

|| || || 1 comments







Alam Indonesia yang Agung
Inilah kisah pendakian ke-IV bersama anak-anak Pramuka di Unsoed. Pengalaman pertama menjadi seorang Leader cewek yang kesemuanya belum ada yang pernah menginjakkan kakinya di gunung tertinggi Jawa Tengah ini. Bagiku ini adalah penghargaan terbesar yang aku dapatkan dari arti persahabatan di Purwokerto.
Keindahan yang saat itu didapat sangatlah elegan melebihi apa yang aku harapkan sebelumnya. Sungguh luar biasa Kuasa-Nya. Alam Indonesia alamku dari lahir hingga kuterkubur dalam tanah.

Cerita Pendek (Cerpen)

|| || || Leave a comments

KALA CINTA TAK TERBALAS OLEH WAKTU
            Aldo kasak kusuk tidak karuan. Berulang kali dia muter-muter didepan pintu kelas yang masih tertutup rapat. Sudah hamper satu jam dia menunggu kedatangan penjaga kebun, tapi tidak juga terlihat batang hidugnya. Sejak kemarin pulang sekolah, ada kekhawatiran yang kini membanjiri memorinya. Dia lupa menaruh sebuah kertas.
            “Loh, nak Aldo mendahului bapak?”. Sapa laki-laki berkumis tebal dari sudut lapangan dekat kelas XII Bahasa 1.
            Aldo nyengir. Tulang pipinya yang memiliki lesung sebelah kiri saja sudah terlihat lumayan cakep.
            Sesaat kemudian kunci dimasukkan ke dalam lubang. Dengan gerakan tangan memutar ke kanan, pak Joko mendorong pintu tua itu.
            Brakk!! Aldo ikut mendobrak pintu hingga terpental. Memang tenaganya tidak sekuat Pak Joko. “Maaf, Pak? Maaf banget?” seru Aldo yang kelihatannya sengaja menabrak pak Joko demi selembar kertas.
            Pak Joko kesal. “Dasar bocah gemblung!”
            Sorot mata Aldo menembak seisi ruangan kelas. Dia celingukan ke kanan kiri. Tangannya merayap dari atas meja sampai merangkak dibawah meja. Keringat basi sudah bercucuran di hari yang masih pagi. Dia terlalu panik. Darahnya naik dan suhu tubuhnya panas. Dijelajahinya dengan empat kaki bak seekor anjing mencari mangsa. Kali ini mencari kertas.
            Tiba-tiba kedua lututnya berhenti terseret. Dihadapannya terlihat dua betis kaki mengenakan sepatu kets putih berdiri tegak. Aldo mengangkat kepalanya.
            Brakk!! Jantungnya mulai pecah. Seorang cewek berbando merah tepat berada diatasnya. Dengan pesona kibasan rambut panjangnya, Aldo terpanah kaku pada pandangan kesekian kali. Selalu saja kikuk di depan sang legendaries hati.
            “Aldo, kamu sedang apa?...”.
            Lagi Aldo nyengir, tapi buat orang yang berbeda. Dia terjebak malu. Saraf-saraf ototnya berelaksasi. Dia terkesiap. Aldo berdiri dengan membalikkan badan segera meninggalkan ruang kelas tanpa menghiraukan cewek itu. Beruntungnya, tidak ada satupun yang menyaksikan kejadian memalukan itu.
            Cewek yang tadi namanya Meyka. Teman seperjuangan sekaligus saingan terberat Aldo dari  SD sampai  SMA. Peringkat pertama bergonta-ganti dipegang oleh mereka berdua. Tergantung siapa yang lebih dulu didepan. Selama itu pula, Aldo menyimpan rapi perasaan aneh yang bergelayut dihatinya.
            Bel pulang berbunyi. Aldo berjalan dengan langkah gontai. Tatapannya kosong bagai tiada harapan. Rasa tidak bersemangat sudah terlihat dari wajah suramnya.
            “Al, kenapa muka lo kusut banget?” tenya Noval  sahabatnya sembari menggantungkan tangan dipundak Aldo.
            Cowok itu menggelengkan kepalanya.
            “Jujur saja sama sobat lo, kenapa? Barang kali gue bisa bantu lo?” bujuk Noval. “Biar gue tebak lo pasti lagi di landa kegalauan. Iya kan? Hayo?...”. Lanjut Noval degan PD-nya memojokkan Aldo.
            Aldo terdiam. Tatapan matanya kosong.
            Noval mengerutkan keningnya. Sesaat mencoba menebak apa yang sedang terjadi dengan sobatnya. “Hmm, jangan-jangan lo ditolak Meyka?” tebak Noval
            Sontak membangunkan tatapan kosong itu. “ditolak?... kapan nembak?...”. gumamnya dalam hati
            Aldo menghela napas panjang. Dia terkejut lantaran Noval tau tentang cewek yang disukainya. Tapi dia tetap berusaha tidak panik. “Aku memang suka Meyka, tapi bukan itu masalahnya sekarang”. Sahut Aldo. “kemarin aku nulis surat buat Meyka seperti  saranmu dulu. Anehnya, surat itu hilang?...”. lanjut Aldo kesal
            “Itukan dulu? Hari gini nulis surat? Udah nggak jaman kali?” sindir Noval selebay artis kesasar.
            Aldo tertunduk. Dia ketakutan. Surat itu adalah harga diri. Jika jatuh ditangan orang yang salah, maka habislah dia.
            “udahlah, lo tenang aja? Gue bakalan bantu lo nyari”. ucap Noval melegakan Aldo.
            “bentar, ngomong-ngomong kamu tau kalo aku suka sama Meyka darimana?...” tanya Aldo penasaran.
            Noval ketawa terbahak-bahak. Padahal belum sempat dia menjawabnya. “Gue itu pengamat lo sejak SD... ”. jawab Noval . Aldo tersipu malu. Dia tidak menyangka sahabatnya juga mengetahui keanehan dihatinya secara rahasia.
            Waktu terus berjalan
            Satu, dua, dan tiga hari surat tidak ada kabar. Pernah terfikir olehnya. Mungkin kebawa pak Joko ketika bersihin kelas, terus dimasukkan ke tong sampah. Hebatnya lagi sampah-sampah itu pasti diangkut ke luar area sekolah, dimana lagi kalau buakn TPA. Apabila dalam perjalanan dilanda hujan, otomatis surat itu akan hancur. Kabar itu semakin melegakan Aldo.
            Perjalanan kisah Aldo dan Meyka sudah lama diketahui Noval. Dia menyelidiki dari titik nol hingga nilai sempurna. Mereka adalah siswa teladan diangkatannya masing-masing. Aldo menyandang gelar The Best Of Language 2, sedangkan Meyka memiliki gelar The Best Of Social 1. Aldo dan Meyka adalah AM sama-sama Anak Manja dalam pendidikan. Walau Meyka berstatus jomblo, tapi banyak deretan cowok yang mengantri jadi pacarnya. Jenuh juga bila harus nunggu sampai lulus.
            Noval terbius gossip. Katanya Aldo dalam posisi gawat. “Al, lo harus cepet-cepet ungkapin perasaan lo ke Meyka! Ntar keburu diduluin yang lain baru nyesel!” saran Noval. “ musuh bebuyutan lo, Reza juga suka Meyka!...”. lanjutnya
            Tersentak Aldo tergapar mendengar itu. Tangannya menunjuk pelipis pertanda sedang berfikir memecahkan masalah secara akurat. “Iya, aku harus ketemu Meyka!...”. teriak Aldo sembari berlari meninggalkan Noval yang masih bingung dengan keputusan dahsyat itu.
            Noval tergopoh, dia mengikuti dari belakang. Mereka berhenti dibalik pohon, tempat yang sesuai untuk mengintip seorang cewek yang sedang duduk manis diatas kursi panjang yang terbuat dari kayu. Meyka sendirian.
            “Ayo, lo kesana!!”. Bujuk Noval sambil menaikkan alisnya. Terlihat jelas raut wajahnya sedang memaksa Aldo. Memang ini langkah benar, jika tidak dipaksa pasti tidak gerak-gerak.
            Perlahan, Aldo mulai melangkah. Dia berjalan merunduk layaknya dibawah ada peta harta karun si bajak Laut. Semakin dekat, kepalanya mulai terangkat.
            Na’as! Sungguh malang nasib Aldo. Jalannya lambat kura-kura kalah start dengan Reza yang berlari kelinci. Aldo kecewa dan putus asa. Dia membalikkan badan, kembali menemui Noval.
            “orang sabar disayang Tuhan”. Hibur Noval. Dibelakangnya Noval memandang dengan penuh rasa iba, berharap seandainya bisa membantu walau hanya sejengkal kaki.
            Beberapa menit kemudian
            “Al, Reza udah pergi tuh?.. ayo, lo beraksi lagi?”. Bujuk Noval sambil mendorong Aldo, tapi ada sedikit rasa cemas yang berngiang dibenak Noval. Ditariknya lagi Aldo ke hadapannya. Aldo belum diprivat tentang Cinta.
            “lo masih ingatkan? ketika gue nembak Vita, cewek gue dulu. Lo pasti bisa kalo mau coba!” seru Noval begitu meyakinkan. “Ingat,  lo dulu saksi cinta gue, sekarang di bawah pohon ini gue saksi cinta lo!”. Lanjut Noval tambah meyakinkan Aldo.
            Aldo tersenyum menatap keoptimisan Noval. Dia merasa mendapat transferan keberanian. Dengan percaya diri dia menuju bangku Meyka. Awalnya tinggal satu dua langkah saja dari target, tapi nyalinya ciut. Langkahnya semakin pelan, kini tidak ada lagi gerakan kaki. Dia berhenti.
            Tanpa terduga Meyka mengalihkan perhatian ke samping. Tepat menghadap Aldo. Mereka saling bersitatap. Kikuk!! Kakinya kaku mengeras. Tulang-tulangnya mengarat bagai besi panas tersiram air. Jantung Aldo brdegup kencang hingga terdengar dari ranah Noval. Seluruh tubuhnya gemeteran.
            “Aldo… ayo, plis?...”. bisik Noval dari balik pohon
            Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Aldo sudah masuk jurang. Reflek! Dia mengambil jalan pintas. Dengan meletakkan lutut kiri tepat dilantai, sedangkan lutut kanan tetap bertahan. Terlihat jelas tubuhnya berdiri setengah badan laksana Romeo menyatakan cinta pada Juliet.
            “Aku menyukaimu sejak kelas 3 SD”. Itulah sepintas kata terucap dari katup kedua bibirnya yang bersahaja. Setelah itu, Aldo mulai terbata-bata.
            Suasana sekeliling hening. Semua mata terheran-heran menatapnya. Aldo si cowok teladan dan kutu buku menyatakan cinta didepan umum. Hal yang tidak pernah dilirik oleh sewajarnya.
            Meyka menahan ketawa. Seakan sengaja tidak tahu kalo Aldo saat ini sedang was-was menanti sebuah jawaban yang akan terlontar dari mulutnya.
 “Aku tahu”. Jawab Meyka singkat. Dia tersenyum dan pergi begitu saja.
Aldo terkejut, wajahnya dibanjiri keringat. Dia membesarkan pupil mata yang terkena kibasan angin. Perasaan yang dideranya kini membingungkan. Dia terlalu polos.
Tiba-tiba Noval berlari menghampirinya. “lo hebat, Al! gue kasih empat jempol buat lo!”.
Aldo mengerutkan dahinya. “ini artinya apa? Aku ditolak atau diterima?”.
“ini artinya lo harus deketin dia, ambil hatinya”. Sahut Noval. Aldo terdiam. Mulutnya mulai melebar. Dia tersenyum sendiri teringat kejadian konyol tadi.
Noval bergegas mengajak Aldo keluar, refreshing. Mereka menyusuri jalan dengan membawa sepeda kembarnya. Inilah liburan yang paling mnyenangkan.
Diantara kerumunan orang, Noval menarik rem secepat kilat. Mendadak berhenti. Dia menuntun sepeda dengan langkah pasti, kemudian disandarkannya pada tiang listrik dekat barisan motor.  Setapak jalan dilaluinya.
“Berjuanglah! Demi cinta apapun harus dilakukan termasuk merubah penampilan lo!”. Saran Noval sambil menarik tangan Aldo. Sesampai di depan danau, mereka duduk. Perjalanan cukup melelahkan.
“Nah, sekarang gue permak lo!”. Noval meraih tas ransel kecil, dikeluarkannya peralatan-peralatan berbentuk aneh. Tajam dan lancip. “Sini, biar lo jadi cakep!”. Bujuk Noval menarik paksa, hingga posisi Aldo berpindah disampingnya.
“Cinta memang nggak pandang fisik, tapi setidaknya penampilan lo sesuai zaman. Ini zaman modern, sob?...”.
Aldo membatin. “Hidup gue ya hidup gue, bukan urusan lo?”. Hahaha, Aldo mengikuti gaya Noval dalam hatinya.
“Malah bengong?...”.
Aldo meringis.
Dengan lincah Noval asyik memainkan gunting. Tangannya menari-nari dikepala Aldo. Alat itu memberantas ketebalan rambut milik Aldo, hingga menyisikan beberapa kepalan saja.
“Lihat?...”. Noval menyodorkan cermin, disuruhnya melihat pantulan wajahnya seusai permainan alat ala dirinya.
Aldo menatap lamat-lamat rambutnya yang baru. Gaya sisiran mencirikhaskan bahwa dia anak remaja gaul. Model dan gaya rambut Leonardo d’caprio ditirukan dirambut berantakannya. Meski ini bukan impiannya, tapi tidak da yang salah dengan penampilannya sekarang. Justru lebih keren dari siapapun.
“Hmm.. ternyata aku bisa cakep”. Gumamnya. “makasih ya, sob?...”. ucap Aldo seketika.
Noval duduk kembali. “oh ya, lo masih ingat tempat ini?...”. tanya Noval lirih
“tentu”. Jawab Aldo. Suasana hening.
Persahabatan didanau, pertemuan dibawah pohon dan mencintai diatas kursi. Ingatan Aldo merujuk pada Vita. Seorang cewek yang pernah mengisi jalan hidupnya dan hari-hari Noval. Indah sekali saat itu masih terukir. Namun kini jadi kenangan yang tak mungkin terulang lagi. Andai waktu dapat diputar, tak ada hasrat untuk saling melepaskan. Tiga sahabat yang telah terjalin tujuh tahun lamanya.
“Al, gue besok mau berkunjung ke rumah Vita. Biar gue sendiri ya?”. Kata Noval yang membangunkan lamunan masalalu.
Aldo menganggukkan kepalanya, dia termenung.
Dipagi hari awan hitam sudah menyelimuti langit. Tidak ada mentari yang bersinar seperti halnya perasaan Aldo. Dia gundah, jantungnya berdegup kencang. Kegelisahan menerpa perjalanannya yang baru kali ini tidak ditemani Noval. Itulah ikatan persahabatan, serasa ada yang kurang bila tidak bersama.
“Aldo?...”. sapa cowok yang berseragam mirip dengannya.
Aldo mendongak
“Bener ini Aldo?..”. herannya. “sumpah! Hampir aja gue nggak ngenalin lo!”. Lanjut cowok itu. Ya, Reza terkagumi. Akhirnya mereka berjalan bareng ke kelas. Semua mata bertanya-tanya siapa cowok yang jalan sama Reza. Sesekali Aldo merasakan jadi idola cewek, pasalnya dia dulu kuper dan nggak gaul. Tapi kini dia menggantikan mentari, siswa teladan yang berubah jadi pangeran sempurna. Otak oke, tampang juga oke.
Setiba didepan pintu kelas XI Bahasa 1. Berulang kali matanya melirik ke suatu tempat. “dimana dia? Kenapa jam segini belum keliatan?”. Herannya dalam hati
“dari tadi lo liatin XI IPS 1, nyariin Mey ya?”. Celutuk Reza yang ternyata merhatiin tingkah Aldo. “ kayaknya dia nggak masuk, coba aja tanya sama temennya”. Lanjut Reza. Kalau dipikir, ide Reza ada benarnya juga.
Bel pulang bordering
Aldo berlari menuju kelas Meyka. Terlihat sudah pada bubaran. Seisi ruangan hampir kosong hanya tinggal satu orang. “Maaf Meyka sudah pulang?...”. tanya Aldo kepada seorang cewek berambut kriting, matanya gelap dan wajahnya susah senyum.
“Sudah! Dia pulang ke langit!”. Jawabnya ketus. Cewek itu seperti bukan kodratnya. Dia aneh dan tidak memiliki sopan santun.
Tiba-tiba dering HP Aldo mengagetkannya. Dilihatnya lima huruf menyusun kata dilayar, segera Aldo mengangkatnya.
“Al, Meyka ada disini?”. Kata Noval singkat, dan dia menutup telepon tanpa ucapan salam.
Aldo heran ada perasaan takut bergeming dalam pikirannya. Saat ini Noval sedang di rumah peristirahatan terakhir Vita. Kenapa Meyka juga disana? Ribuan pertanyaan berkecamuk dihatinya.
Dengan cepat Aldo bergegas mengambil kunci mobil dan dia mengendarai tanpa kendali. Penasarannya yang hebat, dia menelvon balik Noval.
“Ada apa sebenarnya, Val?...”.
Menunggu lama, matanya lekat-lekat. Dia semakin cemas. Airmatanya perlahan jatuh tercecer berhamburan. Aldo merasakan hal aneh telah terulang lagi. Kejadian ketika bersama Vita.
“tadi pagi Meyka kecelakaan, dan siang ini dimakamkan”.
Pandangannya kosong, seluruh tulangnya terkapar. Napasnya tersengal. Matanya meronta tajam. Aldo tak kuasa dengan keadaan itu. Tiba-tiba penyakit lamanya kambuh. Setengah badannya kaku, darahnya menyeruak ke otak, dan jantungnya bergenderang kencang. Aldo tidak bisa lagi mengendalikan mobil. Dengan cepat truk besar melintas, mobil yang ditumpanginya terbanting keluar jalur dan terbakar.