Empat tahun yang lalu, di sebuah ruang pendidikan terlihat banyak teman-teman yang selalu menanyakan satu hal. Kecurigaan dari kedekatan dua insan yang bertolakbelakang, dan mungkin masih selaras. Perjalanan yang disaksikan oleh seluruh isi masa pada periode waktu itu. Jika teringat mungkin akan tertawa dengan sendirinya, itu adalah hal konyol yang pernah datang. Susah gampang, sedih senang, dan senyum tawa hadir untuk menemani langkah Sepatu (XI IPA 1). Begitu pendek alur ini telah usai sudah, dan tak pernah menganggap tak ada. Itulah cinta sesaat, yang sampai sekarang masih tersimpan tempat yang damai.
Pertemuan singkat, padat dan jelas berakhir dengan hal yang sama. Dua tahun lalu adalah ajang perpisahan yang bisa dibilang menenangkan kesaksian bersama hingga sampai pada satu tahun yang lalu. Tak pernah dikatakan cinta, jika tak mengenal airmata. Itulah saat-saat ketika semuanya telah terbebas, dan saling menghilang. Diantara jarak dan waktu yang telah memisahkan keberadaannya untuk cinta yang masih ada. Semuanya saling memandang dari belakang, dan tetap bertahan di satu garis itu.
Tragis, kisah yang tak ada hentinya ini selalu membayangi naungan kasih yang tak sampai. Untuk tahun yang ke empat bukan hanya tahun biasa, namun itulah tahun yang membuat hati ini berkata. Dalam do’a dan harapan mungkinkah masih ada kesempatan untuk kembali ke satu garis sesuai dengan kisah empat tahun yang lalu. Cinta yang menaburkan kesabaran dalam bersikap, mengajari bagaimana kedewasaan itu terbentuk. Cinta juga yang mengambil ketenangan menjadi kegelisahan, hingga pada akhirnya tak ada yang mengetahui akhir dari perjalanan panjang menunggu ini.
Akankah kau melihatku saat kujauh
Akankah kau merasakan kehilanganku
Jiwaku yang telah mati bukan cintaku
Janjiku selalu abadi hanya milikmu
Aku pergi dan tak kan kembali
Air dari cinta yang abadi
Sebuah lagu yang jika nantinya salah satu jiwa yang telah mendahului untuk pergi
