Di sebuah kota kecil yang terletak di kaki Gunung Slamet ada sebuah cerita tentang perjalanan dari seorang mahasiswa yang sedang menuntut ilmu. Tahun pertama dan kedua menjadi tahun yang sewajarnya dinikmati oleh mahasiswa baik itu tentang akademik maupun organisasi. Banyak cerita yang membuatnya mengenal arti sebuah kekeluargaan yang hidup di kota perantauan. Suka cita senang sedih sudah dilewati dengan alakadar sifat yang dimilikinya.
Namun di tahun ketiga terjadi sebuah kisah yang melegenda dan itu tidak akan pernah dilupakannya seumur hidup. Pro dan kontra menjelahi pikirannya yang saat itu masih terombang-ambing. Hal yang wajar dalam menentukan klimaks selama perkuliahan adalah sebuah SKRIPSI, tapi tidak demikian disini. Karena tahun ketiga (2015) menjadi saksi akan dua kesalahpahaman. Jika dihadapkan dengan dua pilihan yang itu sangat berat untuk dipilih, lalu apa yang harus dilakukan? Inginnya sih memilih kedua-duanya, tapi itu mustahil bisa dilakukan, It’s Impossible... Jika tidak memilih kedua-duanya mungkin gelar seorang Pecundang akan disandang olehnya. Dan jika memilih salah satu, mungkin satu dari yang lainnya akan marah, memberontak dan tentunya kecewa.
Bukan tentang gila kekuasaan, tapi tentang ada dan tidak adanya orang yang mau berkorban. KTL (Komitmen, Totalitas dan Loyalitas) seharusnya diterapkan sejak awal. Dua lembaga yang perlu dipedulikan oleh mahasiswa karena krisis keanggotaan. Lembaga A berkecimpung dalam ruangan (indoor) karena isinya adalah rapat, sidang dan berdebat. Sedangkan Lembaga B berhaluan di luar ruangan (outdoor) karena aktivitasnya berpetualang dan mengkaji tentang alam. Keduanya masuk di tahun yang sama, namun untuk masuk di lembaga A saat itu direkomendasikan dari lembaga B. Ketika di tahun ketiga menjadi yang paling dituakan oleh kedua lembaga, siapkah untuk memegang keduanya?
Terkadang benci dengan keadaan seperti itu, antara A dan B keduanya merupakan calon kaderisasi. Namun pemilihannya lebih dulu B, kemudian satu bulan lagi ada di A. Lembaga B lah yang selama dua tahun ini diperjuangkan dan selama itu mengesampingkan A karena disini menemukan sebuah keluarga baru yang mengikatkan sebuah hubungan sepanjang usia. Dia terpilih menjadi PH yaitu Sekretaris, awalnya setelah perdebatan panjang dalam pemilihan Ketua. Hanya 2 kandidat yang memenuhi syarat dan saat itu datang, sebenarnya ada 4 orang namun yang 2 orang yang lainnya tidak datang. Hasil yang diperoleh bukan berupa Vooting melainkan berdasarkan Musyawarah. Ada satu hal yang ingin dikatakannya, tapi tertahan oleh tekanan.
Berawal dari sini, satu bulan kemudian pemilihan di Lembaga A dan dia masuk dalam kandidatnya. A dan B lebih tinggi A dalam strukturnya, sehingga hanya baru ditetapkan dalam sidang bukan berupa pelantikan resmi. Pemilihan Lembaga A disaksikan oleh seluruh aktivis mahasiswa, dan sangat miris melihat minim kaderisasi. Yang diutamakan adalah yang pernah bergabung dengan lembaga A minimal satu tahun, dan kaderisasi dari tahun lalu yang datang hanya 2 orang (perempuan semua). Apa yang harus dikatakannya? Karena saat itu benar-benar bimbang untuk memilih, takdirnya ada dimana. Aturan yang ada di lembaga B entah kenapa waktu pemilihan di lembaga A tiba-tiba buyar dan seperti ada yang menghapus dari pikirannya. Hingga akhirnya dia terpilih menjadi Ketua di lembaga A. We don’t know about this way..........
Lembaga A tidak mempermasalahkan jika tetap bercabang di lembaga B, namun lembaga B yang mempermasalahkannya karena PH di lembaga B tidak boleh menjabat PH di lembaga lainnya. Pemilihan lembaga A berdasarkan Musyawarah dan kenapa saat itu yang terpilih bukan temannya saja? Agar dia tidak menjabat PH. Tapi alhasil ada beberapa alasan yang membuatnya terpilih (Mungkin karena dia menjadi PJ penyelenggara acara nasional tahun 2015)-praduga sementara-. Kabar itu bertiup seperti angin, secepat kilat hingga sampai ke telinga para senior lembaga B sontak dilakukannya Musyawarah Luar Biasa. Pro dan Kontra disinilah yang menjadi jalan untuk mengungkapkan yang sempat tertahan saat itu, namun karena posisinya sebagai tersangka semua hanya memandang dari sudut pandang yang intinya hanya bisa menyalahkan dari luarnya tanpa tahu isi di dalamnya. Iya, itu sangat mengecewakan. Kecewa terbesar dalam hidup ini, hingga hubungan internal lembaga B menjadi renggang dan semua anggota lembaga B memandang sebelah mata tentang keberadaannya.
“Dia memilih A bukan karena jabatan yang lebih tinggi, tapi karena tidak ada satupun orang yang mau membangkitkan A dari keterpurukannya selama ini yang tidak pernah dipandang oleh Mahasiswa”
Tidak ada yang pernah peduli tentang Lembaga A bahkan banyak yang tidak tahu, jika dibiarkan seperti ini mungkin lembaga ini ke depannya akan mati dan tenggelam. Jika lembaga B sudah ada yang megang, setidaknya melepaskan anggotanya untuk di A hanya selama 1 tahun saja itu sudah termasuk menunjukkan kepedulian mereka.
Yang dibutuhkan disini adalah saling toleransi antar lembaga, bukan saling bersaing untuk menjatuhkannya.
Bukan sampai disini saja, Lembaga A harus diperjuangkan keberadaannya yang saat itu hampir ditiadakan oleh Lembaga C karena banyak Tupoksi yang belum bisa diterapkan lantaran masih belum sepemahaman. Berbagai perdebatan panjang selalu dilewatinya dan memberikan banyak pelajaran tentang arti sebuah KTL yang sebenarnya. Saling bersaing untuk menunjukkan siapa yang terbaik itu bisa dibilang positif jika sesuai dengan keadaannya. It’s so good time ... Kini akhirnya terselesaikan sampai 1 periode lamanya. (Pelantikan 9 Mei 2015 – LPJ 7 Januari 2016).
Percayakan sama YME, semua
Post a Comment