Demak disebut sebagai kota wali, sedangkan Kudus disebut sebagai Kota Kretek. Kedua kota ini terletak bersebelahan namun kualitas pendidikannya masih bisa dibilang berbeda jauh. Pendidikan yang ada di Demak dan Kudus dinilai saling bersaing atas dasar keberadaannya yang bersebelahan. Namun dalam kenyataan banyak yang dari lulusan Kudus masuk ke Perguruan Tinggi Negeri dengan berbagai macam jalur seleksi calon mahasiswa. Sedangkan lulusan Demak, banyak yang stak dan lebih memilih bekerja dari pada melanjutkan di dunia perkuliahan. Keadaan yang miris ini hampir menguasai setiap tahun, tapi pada tahun 2011 Gerakan Pemuda Anshor bekerjasama dengan Yayasan Mata Air Jakarta untuk menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Belajar untuk persiapan Seleksi PTN.
Yayasan Mata Air ini merupakan sebuah yayasan yang menampung pendidikan dengan diprioritaskan bagi keluarga yang kurang mampu tapi memiliki prestasi yang luar biasa. Kegiatan Bimbel ini dilakukan sesaat setelah pengumuman kelulusan dari tingkat SMA/MA/SMK dan terbuka bagi mereka. Bimbel gratis ini biasanya diselenggarakan di Pondok Pesantren sesuai namanya Pesantren Kilat, selama satu bulan dengan batas kuota enam puluh peserta. Sebut saja Sanlat (Pesantren Kilat), keberadaannya pada angkatan pertama di Demak membuat banyak peluang bagi siswa yang menempuh ke jenjang mahasiswa di berbagai Perguruan Tinggi di pulau Jawa. Sekitar 70% dari peserta Sanlat ini keterima di PTN seperti di Unes, Undip, UGM, UI, Unbraw, Unsoed, dll.
Sanlat ternyata ada di setiap kabupaten, sehingga perkumpulan ini dilakukan sekaresidenan untuk menyambung dari satu link ke link yang lainnya. Seperti pada saat tes seleksi yang pada saat itu setiap peserta dapat di tempat yang berbeda-beda, Sanlat Demak, Kudus, Pati, Rembang dll dikumpulkan di Masjid Agung Semarang untuk pembagian tempat yang sama. Disitu mulai mendapat teman baru dari berbagai wilayah. Sebuah pengalaman yang tak mungkin dilupakan, mereka memiliki tujuan yang sama untuk bisa menjadi Mahasiswa. Setidaknya meningkatkan derajat dari siswa menjadi Mahasiswa. Prosentase dana Pemerintahan hampir 20 % diberikan kepada bidang pendidikan guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia yang masih minim, karena keterbatasan ekonomi setiap masyarakat Indonesia yang padahal memiliki ambisius dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Ilmu itu memang mahal, tapi semuanya ada timbale baliknya. Jadi carilah ilmu setinggi-tingginya selagi kita masih mempunyai kemauan dan kemampuan dalam menggapainya. Kualitas Sumber Daya Manusia sebagai penentu perkembangan Negara Indonesia untuk jadi lebih cepat maju ataukah lambat.
Sumber: http://id.shvoong.com/lifestyle/family-and-relations/2427001-pesantren-kilat-yayasan-mata-air/#ixzz38G4GQ2FK
