KALA
CINTA TAK TERBALAS OLEH WAKTU
Aldo kasak kusuk tidak karuan.
Berulang kali dia muter-muter didepan pintu kelas yang masih tertutup rapat.
Sudah hamper satu jam dia menunggu kedatangan penjaga kebun, tapi tidak juga
terlihat batang hidugnya. Sejak kemarin pulang sekolah, ada kekhawatiran yang
kini membanjiri memorinya. Dia lupa menaruh sebuah kertas.
“Loh, nak Aldo mendahului bapak?”.
Sapa laki-laki berkumis tebal dari sudut lapangan dekat kelas XII Bahasa 1.
Aldo nyengir. Tulang pipinya yang
memiliki lesung sebelah kiri saja sudah terlihat lumayan cakep.
Sesaat kemudian kunci dimasukkan ke
dalam lubang. Dengan gerakan tangan memutar ke kanan, pak Joko mendorong pintu
tua itu.
Brakk!!
Aldo ikut mendobrak pintu hingga terpental. Memang tenaganya tidak sekuat Pak
Joko. “Maaf, Pak? Maaf banget?” seru Aldo yang kelihatannya sengaja menabrak
pak Joko demi selembar kertas.
Pak Joko kesal. “Dasar bocah
gemblung!”
Sorot mata Aldo menembak seisi
ruangan kelas. Dia celingukan ke kanan kiri. Tangannya merayap dari atas meja
sampai merangkak dibawah meja. Keringat basi sudah bercucuran di hari yang
masih pagi. Dia terlalu panik. Darahnya naik dan suhu tubuhnya panas.
Dijelajahinya dengan empat kaki bak seekor anjing mencari mangsa. Kali ini
mencari kertas.
Tiba-tiba kedua lututnya berhenti
terseret. Dihadapannya terlihat dua betis kaki mengenakan sepatu kets putih
berdiri tegak. Aldo mengangkat kepalanya.
Brakk!!
Jantungnya mulai pecah. Seorang cewek berbando merah tepat berada diatasnya.
Dengan pesona kibasan rambut panjangnya, Aldo terpanah kaku pada pandangan
kesekian kali. Selalu saja kikuk di
depan sang legendaries hati.
“Aldo, kamu sedang apa?...”.
Lagi Aldo nyengir, tapi buat orang
yang berbeda. Dia terjebak malu. Saraf-saraf ototnya berelaksasi. Dia
terkesiap. Aldo berdiri dengan membalikkan badan segera meninggalkan ruang
kelas tanpa menghiraukan cewek itu. Beruntungnya, tidak ada satupun yang
menyaksikan kejadian memalukan itu.
Cewek yang tadi namanya Meyka. Teman
seperjuangan sekaligus saingan terberat Aldo dari SD sampai
SMA. Peringkat pertama bergonta-ganti dipegang oleh mereka berdua.
Tergantung siapa yang lebih dulu didepan. Selama itu pula, Aldo menyimpan rapi
perasaan aneh yang bergelayut dihatinya.
Bel pulang berbunyi. Aldo berjalan dengan
langkah gontai. Tatapannya kosong bagai tiada harapan. Rasa tidak bersemangat
sudah terlihat dari wajah suramnya.
“Al, kenapa muka lo kusut banget?” tenya Noval sahabatnya sembari menggantungkan tangan
dipundak Aldo.
Cowok itu menggelengkan kepalanya.
“Jujur saja sama sobat lo, kenapa? Barang kali gue bisa bantu lo?” bujuk Noval. “Biar gue
tebak lo pasti lagi di landa
kegalauan. Iya kan? Hayo?...”. Lanjut Noval degan PD-nya memojokkan Aldo.
Aldo terdiam. Tatapan matanya
kosong.
Noval mengerutkan keningnya. Sesaat
mencoba menebak apa yang sedang terjadi dengan sobatnya. “Hmm, jangan-jangan lo ditolak Meyka?” tebak Noval
Sontak membangunkan tatapan kosong
itu. “ditolak?... kapan nembak?...”. gumamnya dalam hati
Aldo menghela napas panjang. Dia
terkejut lantaran Noval tau tentang cewek yang disukainya. Tapi dia tetap
berusaha tidak panik. “Aku memang suka Meyka, tapi bukan itu masalahnya
sekarang”. Sahut Aldo. “kemarin aku nulis surat buat Meyka seperti saranmu dulu. Anehnya, surat itu hilang?...”.
lanjut Aldo kesal
“Itukan dulu? Hari gini nulis surat?
Udah nggak jaman kali?” sindir Noval
selebay artis kesasar.
Aldo tertunduk. Dia ketakutan. Surat
itu adalah harga diri. Jika jatuh ditangan orang yang salah, maka habislah dia.
“udahlah, lo tenang aja? Gue
bakalan bantu lo nyari”. ucap Noval
melegakan Aldo.
“bentar, ngomong-ngomong kamu tau
kalo aku suka sama Meyka darimana?...” tanya Aldo penasaran.
Noval ketawa terbahak-bahak. Padahal
belum sempat dia menjawabnya. “Gue
itu pengamat lo sejak SD... ”. jawab
Noval . Aldo tersipu malu. Dia tidak menyangka sahabatnya juga mengetahui
keanehan dihatinya secara rahasia.
Waktu terus berjalan
Satu, dua, dan tiga hari surat tidak
ada kabar. Pernah terfikir olehnya. Mungkin kebawa pak Joko ketika bersihin
kelas, terus dimasukkan ke tong sampah. Hebatnya lagi sampah-sampah itu pasti
diangkut ke luar area sekolah, dimana lagi kalau buakn TPA. Apabila dalam
perjalanan dilanda hujan, otomatis surat itu akan hancur. Kabar itu semakin melegakan
Aldo.
Perjalanan kisah Aldo dan Meyka
sudah lama diketahui Noval. Dia menyelidiki dari titik nol hingga nilai
sempurna. Mereka adalah siswa teladan diangkatannya masing-masing. Aldo
menyandang gelar The Best Of Language 2, sedangkan Meyka memiliki gelar The
Best Of Social 1. Aldo dan Meyka adalah AM sama-sama Anak Manja dalam
pendidikan. Walau Meyka berstatus jomblo, tapi banyak deretan cowok yang
mengantri jadi pacarnya. Jenuh juga bila harus nunggu sampai lulus.
Noval terbius gossip. Katanya Aldo
dalam posisi gawat. “Al, lo harus
cepet-cepet ungkapin perasaan lo ke
Meyka! Ntar keburu diduluin yang lain baru nyesel!” saran Noval. “ musuh
bebuyutan lo, Reza juga suka
Meyka!...”. lanjutnya
Tersentak Aldo tergapar mendengar
itu. Tangannya menunjuk pelipis pertanda sedang berfikir memecahkan masalah
secara akurat. “Iya, aku harus ketemu Meyka!...”. teriak Aldo sembari berlari meninggalkan
Noval yang masih bingung dengan keputusan dahsyat itu.
Noval tergopoh, dia mengikuti dari
belakang. Mereka berhenti dibalik pohon, tempat yang sesuai untuk mengintip
seorang cewek yang sedang duduk manis diatas kursi panjang yang terbuat dari
kayu. Meyka sendirian.
“Ayo, lo kesana!!”. Bujuk Noval sambil menaikkan alisnya. Terlihat jelas
raut wajahnya sedang memaksa Aldo. Memang ini langkah benar, jika tidak dipaksa
pasti tidak gerak-gerak.
Perlahan, Aldo mulai melangkah. Dia
berjalan merunduk layaknya dibawah ada peta harta karun si bajak Laut. Semakin
dekat, kepalanya mulai terangkat.
Na’as!
Sungguh malang nasib Aldo. Jalannya lambat kura-kura kalah start dengan Reza
yang berlari kelinci. Aldo kecewa dan putus asa. Dia membalikkan badan, kembali
menemui Noval.
“orang sabar disayang Tuhan”. Hibur
Noval. Dibelakangnya Noval memandang dengan penuh rasa iba, berharap seandainya
bisa membantu walau hanya sejengkal kaki.
Beberapa menit kemudian
“Al, Reza udah pergi tuh?.. ayo, lo beraksi lagi?”. Bujuk Noval sambil mendorong Aldo, tapi ada
sedikit rasa cemas yang berngiang dibenak Noval. Ditariknya lagi Aldo ke
hadapannya. Aldo belum diprivat tentang Cinta.
“lo
masih ingatkan? ketika gue nembak
Vita, cewek gue dulu. Lo pasti bisa kalo mau coba!” seru Noval
begitu meyakinkan. “Ingat, lo dulu saksi cinta gue, sekarang di bawah pohon ini gue saksi cinta lo!”.
Lanjut Noval tambah meyakinkan Aldo.
Aldo tersenyum menatap keoptimisan
Noval. Dia merasa mendapat transferan keberanian. Dengan percaya diri dia
menuju bangku Meyka. Awalnya tinggal satu dua langkah saja dari target, tapi
nyalinya ciut. Langkahnya semakin pelan, kini tidak ada lagi gerakan kaki. Dia
berhenti.
Tanpa terduga Meyka mengalihkan
perhatian ke samping. Tepat menghadap Aldo. Mereka saling bersitatap. Kikuk!! Kakinya kaku mengeras.
Tulang-tulangnya mengarat bagai besi panas tersiram air. Jantung Aldo brdegup
kencang hingga terdengar dari ranah Noval. Seluruh tubuhnya gemeteran.
“Aldo… ayo, plis?...”. bisik Noval
dari balik pohon
Tidak tahu lagi apa yang harus
dilakukan. Aldo sudah masuk jurang. Reflek!
Dia mengambil jalan pintas. Dengan meletakkan lutut kiri tepat dilantai,
sedangkan lutut kanan tetap bertahan. Terlihat jelas tubuhnya berdiri setengah
badan laksana Romeo menyatakan cinta pada Juliet.
“Aku menyukaimu sejak kelas 3 SD”.
Itulah sepintas kata terucap dari katup kedua bibirnya yang bersahaja. Setelah
itu, Aldo mulai terbata-bata.
Suasana sekeliling hening. Semua
mata terheran-heran menatapnya. Aldo si cowok teladan dan kutu buku menyatakan
cinta didepan umum. Hal yang tidak pernah dilirik oleh sewajarnya.
Meyka menahan ketawa. Seakan sengaja
tidak tahu kalo Aldo saat ini sedang was-was menanti sebuah jawaban yang akan
terlontar dari mulutnya.
“Aku tahu”. Jawab Meyka singkat. Dia tersenyum
dan pergi begitu saja.
Aldo
terkejut, wajahnya dibanjiri keringat. Dia membesarkan pupil mata yang terkena
kibasan angin. Perasaan yang dideranya kini membingungkan. Dia terlalu polos.
Tiba-tiba
Noval berlari menghampirinya. “lo
hebat, Al! gue kasih empat jempol
buat lo!”.
Aldo
mengerutkan dahinya. “ini artinya apa? Aku ditolak atau diterima?”.
“ini
artinya lo harus deketin dia, ambil
hatinya”. Sahut Noval. Aldo terdiam. Mulutnya mulai melebar. Dia tersenyum
sendiri teringat kejadian konyol tadi.
Noval
bergegas mengajak Aldo keluar, refreshing.
Mereka menyusuri jalan dengan membawa sepeda kembarnya. Inilah liburan yang
paling mnyenangkan.
Diantara
kerumunan orang, Noval menarik rem secepat kilat. Mendadak berhenti. Dia
menuntun sepeda dengan langkah pasti, kemudian disandarkannya pada tiang
listrik dekat barisan motor. Setapak
jalan dilaluinya.
“Berjuanglah!
Demi cinta apapun harus dilakukan termasuk merubah penampilan lo!”. Saran Noval sambil menarik tangan
Aldo. Sesampai di depan danau, mereka duduk. Perjalanan cukup melelahkan.
“Nah,
sekarang gue permak lo!”. Noval
meraih tas ransel kecil, dikeluarkannya peralatan-peralatan berbentuk aneh.
Tajam dan lancip. “Sini, biar lo jadi
cakep!”. Bujuk Noval menarik paksa, hingga posisi Aldo berpindah disampingnya.
“Cinta
memang nggak pandang fisik, tapi
setidaknya penampilan lo sesuai
zaman. Ini zaman modern, sob?...”.
Aldo
membatin. “Hidup gue ya hidup gue, bukan urusan lo?”. Hahaha, Aldo mengikuti gaya Noval dalam hatinya.
“Malah
bengong?...”.
Aldo
meringis.
Dengan
lincah Noval asyik memainkan gunting. Tangannya menari-nari dikepala Aldo. Alat
itu memberantas ketebalan rambut milik Aldo, hingga menyisikan beberapa kepalan
saja.
“Lihat?...”.
Noval menyodorkan cermin, disuruhnya melihat pantulan wajahnya seusai permainan
alat ala dirinya.
Aldo
menatap lamat-lamat rambutnya yang baru. Gaya sisiran mencirikhaskan bahwa dia
anak remaja gaul. Model dan gaya rambut Leonardo
d’caprio ditirukan dirambut berantakannya. Meski ini bukan impiannya, tapi
tidak da yang salah dengan penampilannya sekarang. Justru lebih keren dari
siapapun.
“Hmm..
ternyata aku bisa cakep”. Gumamnya. “makasih ya, sob?...”. ucap Aldo seketika.
Noval
duduk kembali. “oh ya, lo masih ingat
tempat ini?...”. tanya Noval lirih
“tentu”.
Jawab Aldo. Suasana hening.
Persahabatan
didanau, pertemuan dibawah pohon dan mencintai diatas kursi. Ingatan Aldo
merujuk pada Vita. Seorang cewek yang pernah mengisi jalan hidupnya dan
hari-hari Noval. Indah sekali saat itu masih terukir. Namun kini jadi kenangan
yang tak mungkin terulang lagi. Andai waktu dapat diputar, tak ada hasrat untuk
saling melepaskan. Tiga sahabat yang telah terjalin tujuh tahun lamanya.
“Al,
gue besok mau berkunjung ke rumah
Vita. Biar gue sendiri ya?”. Kata
Noval yang membangunkan lamunan masalalu.
Aldo
menganggukkan kepalanya, dia termenung.
Dipagi
hari awan hitam sudah menyelimuti langit. Tidak ada mentari yang bersinar
seperti halnya perasaan Aldo. Dia gundah, jantungnya berdegup kencang.
Kegelisahan menerpa perjalanannya yang baru kali ini tidak ditemani Noval. Itulah
ikatan persahabatan, serasa ada yang kurang bila tidak bersama.
“Aldo?...”.
sapa cowok yang berseragam mirip dengannya.
Aldo
mendongak
“Bener
ini Aldo?..”. herannya. “sumpah! Hampir aja gue
nggak ngenalin lo!”. Lanjut cowok
itu. Ya, Reza terkagumi. Akhirnya mereka berjalan bareng ke kelas. Semua mata
bertanya-tanya siapa cowok yang jalan sama Reza. Sesekali Aldo merasakan jadi
idola cewek, pasalnya dia dulu kuper dan nggak
gaul. Tapi kini dia menggantikan mentari, siswa teladan yang berubah jadi
pangeran sempurna. Otak oke, tampang juga oke.
Setiba
didepan pintu kelas XI Bahasa 1. Berulang kali matanya melirik ke suatu tempat.
“dimana dia? Kenapa jam segini belum keliatan?”. Herannya dalam hati
“dari
tadi lo liatin XI IPS 1, nyariin Mey
ya?”. Celutuk Reza yang ternyata merhatiin tingkah Aldo. “ kayaknya dia nggak
masuk, coba aja tanya sama temennya”. Lanjut Reza. Kalau dipikir, ide Reza ada
benarnya juga.
Bel
pulang bordering
Aldo
berlari menuju kelas Meyka. Terlihat sudah pada bubaran. Seisi ruangan hampir
kosong hanya tinggal satu orang. “Maaf Meyka sudah pulang?...”. tanya Aldo
kepada seorang cewek berambut kriting, matanya gelap dan wajahnya susah senyum.
“Sudah!
Dia pulang ke langit!”. Jawabnya ketus. Cewek itu seperti bukan kodratnya. Dia
aneh dan tidak memiliki sopan santun.
Tiba-tiba
dering HP Aldo mengagetkannya. Dilihatnya lima huruf menyusun kata dilayar,
segera Aldo mengangkatnya.
“Al,
Meyka ada disini?”. Kata Noval singkat, dan dia menutup telepon tanpa ucapan
salam.
Aldo
heran ada perasaan takut bergeming dalam pikirannya. Saat ini Noval sedang di
rumah peristirahatan terakhir Vita. Kenapa Meyka juga disana? Ribuan pertanyaan
berkecamuk dihatinya.
Dengan
cepat Aldo bergegas mengambil kunci mobil dan dia mengendarai tanpa kendali.
Penasarannya yang hebat, dia menelvon balik Noval.
“Ada
apa sebenarnya, Val?...”.
Menunggu
lama, matanya lekat-lekat. Dia semakin cemas. Airmatanya perlahan jatuh
tercecer berhamburan. Aldo merasakan hal aneh telah terulang lagi. Kejadian
ketika bersama Vita.
“tadi
pagi Meyka kecelakaan, dan siang ini dimakamkan”.
Pandangannya
kosong, seluruh tulangnya terkapar. Napasnya tersengal. Matanya meronta tajam.
Aldo tak kuasa dengan keadaan itu. Tiba-tiba penyakit lamanya kambuh. Setengah badannya
kaku, darahnya menyeruak ke otak, dan jantungnya bergenderang kencang. Aldo
tidak bisa lagi mengendalikan mobil. Dengan cepat truk besar melintas, mobil
yang ditumpanginya terbanting keluar jalur dan terbakar.
Post a Comment