xmlns:fb='http://ogp.me/ns/fb#' Percobaan Michelson-Morley

Blogger

Alam untuk Indonesia

Social Bookmarking

Percobaan Michelson-Morley

|| || || Leave a comments
sebuah teori terpadu yang disebut teori elektromagnetik. Namun teori yang dikukuhkan pada 1865 tersebut masih mengganggu banyak fisikawan masa itu. Sumber gangguan tersebut adalah keberadaan eter sebagai zat perantara gelombang elektromagnetik. Eter sebagai medium rambat gelombang elektromagnetik mempunyai sifat yang sangat sulit dibayangkan secara fisika. Sebagai perantara cahaya (gelombang transversal), eter semestinya berkelakuan seperti zat padat. Akan tetapi, sepertinya tidak masuk akal juga jika cahaya harus dirambatkan dalam zat padat sehingga saat itu diandaikan saja bahwa eter itu bersifat sangat halus. Kendati masih samar-samar, para fisikawan menerima begitu saja ide eter tersebut. Mereka sulit menerima kenyataan bila ada gelombang tanpa medium. Dalam konteks persoalan ini, kelajuan cahaya c menjadi masalahnya. Kita ambil pengandaian dengan pengukuran kecepatan bunyi di udara memanfaatkan transformasi Galileo. Misalkan saja, kita mengukur kecepatan suara di udara sambil diam dan mendapat nilai 330 m/s. Tapi ketika kita mengukurnya sambil bergerak dengan kecepatan 20 m/s mendekati sumber suara, akan didapatkan nilai yang berbeda, yaitu 350 m/s. Nilai kecepatan suara tergantung pada gerakan sumber maupun pengamat. Dalam perumusan lain, kecepatan suara tergantung pada kerangka acuan yang dipakai. Apakah hal yang sama terjadi pada cahaya? Seandainya benar berarti jika pengamat bergerak terhadap eter, maka ia akan mendapati nilai c yang berbeda. Tahun 1887, Albert A. Michelson (1952-1931) bersama rekannya Edward Morley (keduanya dari negeri “Paman Sam”) menemukan suatu cara untuk menyelidiki ketergantungan kecepatan cahaya terhadap pengamat. Dengan memanfaatkan interferensi cahaya, mereka yakin bisa mengetahui perubahan nilai kecepatan cahaya secara sangat teliti. Perbedaan sekecil 1 per 1010 pun katanya masih bisa diukur dengan perangkat buatan mereka. Alat yang mereka buat itu dinamakan interferometer. Sampai sekarang, metode ini masih dimanfaatkan untuk mempelajari sifat interferensi gelombang (cahaya). Di dalam rangkaian interferometer, terdapat 2 buah cermin yang diletakkan saling tegak lurus. Di bagian tengahnya, terdapat sebuah cermin separo perak (beam splitter) yang jika diletakkan pada sudut 45O terhadap cermin 1 (fixed mirror) dan cermin 2 (moveable mirror) dapat membagi sinar datang menjadi 2 bagian secara tegak lurus. Salah satu sinar akan mengarah ke cermin 1, sedangkan yang lainnya mengarah ke cermin 2. Untuk meyakinkan hasil tersebut, mereka juga mencoba mengukur pergeseran pola interferensi yang terbentuk pada layar seperti inset dalam gambar 4. Namun tetap saja hasilnya nihil. Ketika eksperimen dilakukan pada musim yang berbeda setiap tahunnya dan pada lokasi yang berbeda, kesimpulannya selalu identik: tidak diperoleh pergeseran pola interferensi. Hasil eksperimen ini tentu saja membuat semua ilmuwan saat itu terheranheran, termasuk Michelson sendiri. Sebagai fisikawan klasik, ia bahkan menganggap percobaannya sia-sia. Tapi mau diulang berkali-kali pun hasilnya tetap sama, kecepatan cahaya tidak berubah. Tidak salah lagi, kecepatan cahaya seharusnya tidak tergantung pada kerangka acuan. Kecepatan cahaya harus dianggap sebagai sesuatu yang tetap untuk setiap pengamat dan tentu saja seharusnya eter itu tidak ada. Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2415105-eksperimen-michelson-morley/#ixzz2yzIPXBmV
/[ 0 comments Untuk Artikel Percobaan Michelson-Morley]\

Post a Comment