xmlns:fb='http://ogp.me/ns/fb#' Cerpen II

Blogger

Alam untuk Indonesia

Social Bookmarking

Cerpen II

|| || || Leave a comments

PERTEMUAN
Mentari pagi menghangatkan belahan bumi di bagian selatan. Dalam sapaannya, Ibu sudah pulang dari Pasar dengan membawa banyak belanjaan. Entah ada apa hari ini, hingga Ibuku bergegas melawan kerumunan hanya untuk mendapatkan barang yang biasanya tidak pernah dibelinya.
“Hari ini ada pesta ya Bu?...”. tanyaku kepada Ibu. Ibu menggelengkan kepala itu berarti tanggapanku salah. “… Emm, atau ada banyak pesanan makanan ya Bu?..” lanjutku. Ibu tetap menggelengkan kepala. Tak ada satupun kata yang terlontar dari mulutnya, akupun semakin penasaran. “Lantas ada apa Bu?” tanyaku sedikit memaksa.
Ibu menghela napas panjang. Dia menatapku tajam seolah kecewa tentang ingatanku yang selalu kecil.  “Eka, apa kamu lupa hari ini tanggal berapa?” tanya balik Ibu dengan nada tinggi.
 “Ini tanggal 25 agustus Bu” jawabku singkat. Ibu menggelengkan kepalanya lagi seakan benar-benar kecewa dengan jawabanku. Ibu masuk ke dapur. Jari jemariku menghitung waktu kebelakang dan kedepan berharap mengetahui apa yang sedang terjadi hari ini.  Oh tidak!
Aku berlari. “Ibu, aku ingat! Hari ini adalah hari Ulang tahun pernikahan Ibu dan Ayah. Maaf  Bu Aku sempat lupa”. Kuraih tangan Ibu dan berada didekapannya. Aku memeluk erat Ibu sembari berkata. “Apa Ayah akan  datang?” Ibu terdiam. Memang sudah menjadi adat dirumah ini. Setiap tanggal 25 Agustus ia selalu memasak banyak makanan kesukaan keluarga, berharap Ayah akan menepati janjinya untuk pulang dan berkumpul bersama kami seperti dulu. Tapi sudah 7 tahun Ayah pergi dan 7 tahun itu pula Ibu selalu setia menunggunya. Seingatku, hari senin pagi  tepatnya 7 tahun yang lalu ketika aku menjelang berangkat sekolah Ayah berpamitan kepada kami untuk bekerja ke Ibukota  dan berjanji akan pulang di hari ulang tahun perkawinannya. Tapi semua itu hanya angan kosong bagi kami. Apalagi Eko, saudara tuaku. Dia sangat membenci Ayah, karena  dia menganggap bahwa Ayah telah membohongi dan meninggalkan keluarga kami. Maklumlah semenjak Ayah pergi dia harus putus sekolah untuk bekerja menghidupi aku dan Ibu. Akupun juga demikian, tapi aku tak mungkin membenci Ayahku.
“Eka?.. Eka?..”. terdengar suara Ibu memanggilku, dengan segera aku menghampirinya.
“Bantu Ibu mengupas kentang?”. Ibu membeikan Aku pekerjaan. Bergegas kusegera melaksanakan kewajiban sebagai seorang anak. “Kamu tahu tidak Eka? Kalau sekarang Ibu sedang memasak makanan kesukaan Ayahmu dan pastinya kamu dan kakakmu juga suka!!”. Aku hanya tersenyum pada Ibu. Dia begitu sayang sama Ayahku, tapi kenapa keberadaan laki-laki itu tidak diketahui oleh kami.
“Hmm… bau apa ini? Harum sekali, Ibu masak apa?” Tiba-tiba Eko masuk ke dapur. Dengan iringan langkah lunglai bak tubuhnya berjejal kusut menghampiri sumber aroma itu.
Aku menatapnya lekat-lekat sembari menggelengkan kepala. “Oh, sudah bangun?” sindirku kesal. Eko berbeda satu tahun lebih dulu keluar dari rahim Ibu. Seharusnya dia kakakku, tapi Aku tidak nyaman memanggilnya kak Eko. Aku dan dia memiliki tinggi yang sama malahan selisih 5 cm dari Aku.
“Kok banyak sekali masakannya memang ada apa?” lanjut Eko penasaran.
“Kamu lupa? Kan kamu mau dinikahkan!!...”. ledekku.
“Hehe… amin.. justru aku yang akan lebih dulu menikahkanmu!..”. sahutnya sambil memelet. Dia membalas ejekanku dengan sempurna, hingga Aku tidak lagi bisa menepisnya.
“Sudah.. jangan bercanda terus!.. kamu tidak kerja Eko?”. Kata Ibu yang mendinginkan suasana.
 “Tidak, Bu… Hari inikan hari Ahad, Eka saja libur masak Aku tidak?...”. Terkadang Ibu memang sering lupa, kalau Aku dan Eko bekerja ditempat yang beda tapi hari liburnya pasti sama. Jadi kalau ada Aku dirumah, Eko juga dirumah.
Rasa penasaran Eko menjadi boomerang. “Memang ada apa Bu masak banyak?” tanya Eko lagi. Dia lebih parah dari aku.
Sekian kalinya Ibu menggelengkan kepala. “Kamu juga lupa ya, hari ini kan hari ulang tahun perkawinan Ibu dan Ayah, dan Ayah pasti akan pulang”. Terang Ibu meyakinkan tanggapannya.
Eko mulai tersihir. “Cuiih!!!!....”. Dia memuntahkan dengan sengaja makanan yang ada dimulutnya. “Ibu kenapa sih masih saja menunggu si pembohong itu?.. Dia tidak akan pernah kembali lagi pada kita bu!!...” ucapan itu seakan waktu terhenti sejenak.
“Jangan pernah lagi Ibu mengingat pembohong itu! Dia yang menyebabkan Aku dan Eka putus sekolah! Dia juga yang menyebabkan kehidupan kita seperti sekarang ini!!....” kemarahan Eko berlanjut. “…dan aku tidak sudi memanggil dia ayahku!!” suasana jadi hening. Airmata mulai bercucuran deras saling berjatuhan ke bawah.
“Eko, sudahlah!!.. Kamu jangan membentak Ibu! Ibu tidak salah!!...”. Aku mencoba menjadi benteng penghalang bara api yang membara di hati Eko.
“Tapi, bagaimanapun dia tetap Ayahmu, nak?...”. jelas Ibu.
“Cukup bu!!!... aku tidak mau lagi mendengar tentang dia!!...” braakk!!! Eko keluar dari rumah dengan tendangan tangannya yang hampir merobohkan pintu depan.
“Ya Allah kenapa anakku sangat membenci Ayahnya? Ampunilah Aku dan keluargaku!!..” Ibu menitihkan cairan bening dipipinya.
“Sudahlah bu.. Ibu kayak tidak tahu sifat Eko! Dia itu memang keras kepala bu!..” Ucapku lirih berharap bisa menenangkan cuaca mendung dihati Ibu. Ini bukan pertama kali, jadi aku punya bekal pengalaman untuk kasus seperti ini.
 “Iya, Ibu paham. Tapi sampai kapan keluarga kita seperti ini?...”. Aku hanya terdiam karena akupun tidak tahu kapan ini akan berakhir. Setiap tanggal 24 Agustus pasti ada yang menangis dan marah, Aku bosan melihat keadaan ini. Tapi apa yang bisa aku lakukan, aku tidak tahu bagaimana dan dimana ayahku sekarang.
***
Tiga tahun yang lalu waktu Eko dan Pak Joko berusaha mencari Ayah ke Jakarta dengan bekal seadanya karena ketika itu Ibu sedang sakit parah, dengan membawa foto Ayah yang sudah hamper tidak dikenal lagi oleh Eko dan Pak Joko menelusuri Ibukota. Disaat sedang istirahat di warteg pinggir jalan, Pak Joko melihat seorang pria turun dari mobil dengan seorang wanita yang berpenampilan seperti orang kaya dan mobilnyapun mewah. Pak Joko sempat ragu kalau itu adalah Kharmin Ayah Eko tapi walau bagaimanapun tetap saja Pak Joko mengenalinya karena dia adalah teman Ayah Eko sejak kecil.
          “Ko, Eko!!!....” sambil menepuk bahu Eko dan menunjuk rumah mewah.
“Ada apa Pak?...”. Eko memusatkan pandangan pada apa yang ditunjuk Pak Joko.
“Itu Ayahmu, Ko!!!...”. kata Pak Joko sepintas
Eko gelagapan. “Mana Pak?..” matanya celingukan mencari batang hidung seorang ayah.
 “Itu yang keluar dari mobil!..” jelas Pak Joko.
 “Oh.. ya!!! Ayo cepat!!”. Sambil berlari mereka menghampiri rumah berlantai tiga itu dengat cat pepohonan yang indah.
Langkah kaki mereka dihadang oleh orang berseragam putih hitam yang berdiri tepat di depan gerbang rumah itu. “Mau apa kalian?...”. cegat satpam yang sedang berjaga.
 “Kami mau bertemu Pak Kharmin, Pak?...”. jawab Pak Joko. “Iya pak, saya ingin bertemu dengan Ayah saya”. Sahut Eko bahagia karena sudah menemukan Ayahnya.
Mendengar suara rebut itu, wanita yang tadinya bersama Pak Kharmin ingin tahu. “Pak Satpam siapa mereka?...”.
Pria botak berbadan tegap itu akhirnya menjelaskan maksud dari kedatangan dua laki-laki berpakaian serba kusut itu kepada sang wanita. Kemudian dia mempersilahkan Eko dan Pak Joko masuk ke rumah itu. Panorama yang mengindahkan dinding-dinding bercat cerah tidak seterang ucapannya “Siapa kalian dan ada apa?..” tanya wanita itu dengan sinis.
 “Saya Joko dan ini Eko. Kami disini mau mencari Kharmin, ayah dari Eko”. Jawab Pak Joko. “Iya bu saya mencari Ayah saya yang sudah lama tidak pulang kerumah”. lanjut Eko.
Wanita itu menyandarkan kepalanya di kursi. Dia terlihat santai dengan penjelasan ini. “Tapi, disini tidak ada yang namanya Kharmin”. Jawabnya menahan ketawa seperti menyaksikan kelucuan. Padahal tidak ada yang lucu.
Eko dan Pak Joko terkejut. Mana mungkin yang tadi dilihatnya itu bukan Kharmin. Tiba-tiba ada seorang Pria keluar dari rumah. Dengan cepat Eko memeluknya. “Ayah.. akhirnya aku bertemu dengan Ayah, Ibu sakit dirumah yah.. Ibu ingin bertemu dengan Ayah?..” Semakin erat pelukannya.
Sontak kejadian aneh terjadi. “Lepaskan Aku!!..” Pria itu mendorong Eko hingga terjatuh. “Aku bukan Ayahmu!! Dan aku tidak kenal Kalian!! Cepat keluar dari rumahku!!” teriaknya keras tiba-tiba.
“Kharmin!!! Ini aku Joko temanmu dan ini Eko anakmu!!” Sahut Pak Joko sambil berdiri. “Ayah!!.. Ibu butuh Ayah!!...” Eko merengek-rengek seperti anak kecil, dia tidak menyangka jika Pria itu adalah Ayahnya yang tidak mengenalnya.
 “Pak, ini suami saya, namanya Romi. Mungkin Bapak salah orang”. Sanggah wanita itu.
“Sekarang kalian pergi dari rumah saya! Dasar gembel!!...”. Tak terduga bila kata-kata kasar itu terucap langsung dari Kharmin.
Pak Joko menarik Eko keluar pagar. “Ayo Ko kita pulang!” ajaknya memaksa. “Tidak, Pak! Aku tidak akan pulang tanpa membawa Ayah untuk Ibu!”. Pak Joko semakin keras menariknya. “Ayo Ko!!!!....”.
“Tidak… Ayah, Ibu sakit dirumah! Pulanglah Yah kami merindukanmu!” keluh Eko yang masih merangkak didepan pagar. Pak Joko membujuk Eko sekali lagi. “Ayo Ko ayo pulang!!!” sambil menangis dalam hati. Akhirnya mereka pulang tanpa membawa hasil. Sesampainya dirumah mereka tidak mengatakan hal itu pada Inah, Ibu Eko.
Tibalah didepan sebuah rumah kayu yang beralaskan dinding bangunan. “Gimana Ko? Apa kamu menemukan Ayah?”  tanya Eka yang kebetulan dia berdiri didepan jendela. Eko terdiam.
Eko berjalan pelan menuju kamar Ibu. “Buk..”. Eko mencium tangan Ibunya. Airmata berjatuhan.
“Gimana nak? Apa kamu menemukan Ayahmu?...” Ibu terlihat lemah.
Wajah Eko pucat dan tirus. Pelupuk matanya mengembang. “Ibu..”. dengan menangis Eko memeluk erat Ibunya yang sedang berbaring diranjang.
“Gimana Pak Joko?...” tanyanya lagi. Pak Joko menggelengkan kepala. “Kenapa nak? Apa terjadi sesuatu?..” Ibu mengelus punggung Eko. Aku terbawa arus, airmata ini menetes deras melihat keluargaku yang sedang dilanda kesedihan.
“Eko cuma sedih karena kami tidak menemukan Kharmin”. Sahut Pak Joko. Tapi didalam hati Eko menangis karena melihat kenyataan bahwa Ayah mengkhianati Ibunya dan tidak mengakuinya sebagai anak. Sungguh ini sangat menyakitkan. Pak Joko sudah sepakat untuk tidak memberitahu Ibunya tentang yang sebenarnya karena mereka takut bila penyakit Ibunya emakin parah. Oleh sebab itu, Eko sangat membenci Ayah, dimatanya Ayah sudah tidak ada.
Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, aku masih melihat Ibu didepan sambil melihat jalan. “Ibu?”. sapaku dengan lembut.
Ibu memalingkan wajahnya dari luar ke arahku. “Eh, Eka.. Ibu sedang menunggu Ayahmu”. Matakupun berlinang ketika Ibu berkata seperti itu.
 “Tapi bu inikan sudah malam, tidak baik untuk kesehatan Ibu! Lagipula Eko bisa marah jika melihat Ibu diluar!”. Bujukku.
Ibu tersenyum tipis. “Ibu mengerti, pasti kamu dan Eko membencinya, tapi walau bagaimanapun dia tetap Ayahmu nak!”. Dan lagi mendengar kata itu hatiku sangat sedih kenapa Ayah tega meninggalkan Ibu.
“Eko mana Ka?..” tiba-tiba Ibu bertanya padaku.
 “Katanya dia mau keluar sebentar, bu ayo kita masuk!”
Perlahan Ibu melangkahkan ke dalam, tapi sepertinya dia masih ragu dan berharap Ayah akan datang malam ini. Tiba-tiba terdengar suara kaki yang berjalam dan ucapkan salam. “Assalamu’alaikum…” sapa orang itu.
 “Wa’alaikumsalam..” sahutku dan Ibu. “Ayahmu nak?...” teriak Ibu mengagetkanku. Ibu langsung berlari keluar akupun penasaran dan berlari mengejar Ibu. Kulihat Ibu sudah berhadapan dengan seorang pria yang berpenampilan kumuh dan berambut putih. “Sudah lama aku menantimu dan akhirnya kamu kembali juga Mas..”. tanpa kusadari Ibu berkata seperti itu layaknya bahwa pria itu adalah suaminya. Terdiam, sunyi untuk sesaat.
Suasana hening seketika berlalu. “Maafkan aku de, aku telah mengkhianatimu aku mungkin sudah tidak pantas untuk dimaafkan tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku sayang kamu dan anak kita”. Terang pria tua itu seakan dia tanpa menanggung dosa. Apa!! dibenakku Dia adalah orang yang aku dan Eko benci yang juga dirindukan oleh Ibu.
Perlahan aku memicingkan telinga, dengan langkah lirih aku meraih lubang kecil dibelakang pintu. Tapi ternyata tanganku usil, tanpa sadar aku menjatuhkan vas bunga didekatku.“Eka? Benarkah itu kau nak?..” Aku hanya terdiam.
Selang beberapa detik tiba-tiba terdengar suara keras Eko. “Assalamu’alaikum.. Eh, ada tamu, siapa bu?...” Eko berjalan mendekati ruang tamu untuk mencium tangan Ibunya. Eko tercengang saat menatap Pria itu. “Anda!!!...”. teriaknya. “Kenapa Anda kesini! Belum puas anda menghancurkan masa depanku, Eka dan membuat susah hidup kami!!..” Jelas Eko dengan nada marah.
 “Eko!!!..” Ibu berteriak sambil berdiri. Mendengar itu, aku berlari menghampiri Ibu. Aku memeluknya erat.
 “Bu, dia tidak pernah menganggap kita, dia datang kesini mungkin sudah jatuh miskin dan ditinggal keluarganya, bu!!” Eko menambahkan seakan merubah suasana semakin panas.
“Maafkan Ayah nak!” kata ayah dengan suara serak.
 “Apa katamu? Bukankah kamu tidak punya anak seperti aku ha!!!...”. Perasaan Eko tidak tenang hingga dia meluapkan segalanya. “Ayahku sudah tidak ada! Dia sudah meninggal 7 tahun yang lalu!”
Ibu segera menghentikannya, terpaksa Ibu menampar Eko. “Dengarkan penjelasan Ayahmu!”. Tidak pernah kulihat sebelumnya Ibu semarah itu.
 “Apa kamu ingin Ibu mati  jantungan gara-gara omongan kamu nak! Jawab!!” Ayah ikut memarahi Eko. Aku dan Eko hanya terdiam. “Ayah memang salah nak! Ayah telah meninggalkan kalian tanpa kabar dan dulu tidak mengakuimu sebagai anak. Kini Ayah telah tua seluruh harta Ayah telah dirampas oleh istri Ayah dan kini Ayah pulang untuk Kalian”. Jelas Ayah menyesal.
Tanpa menunggu waktu. Eko memang sudah terlanjur sakit hati. Sedalam palung laut hingga emosinya selalu terpancing jika berhadapan dengan orang yang sudah bikin hancur hatinya dan keluarganya. “Persetan!!!!!...” teriak Eko sambil melangkah kedalam kamar.
Ibu mengelus dada melihat sikap Eko yang masih membenci Ayahnya. “Maafkan Eko, Mas.. mungkin dia masih kaget dengan kedatanganmu”. Pria itu tersenyum. Dia sangat kumuh dan kusut, aku terus berada dibelakang Ibu. “Mari Mas makan.. aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu”. Dengan langkah bersama, Ayah dan Ibu masuk ke ruang makan tampak pancaran sinar kebahagiaan di wajah Ibu. Ya mungkin sudah suratan takdir dari Yang Maha Kuasa.
“Hmm, masakanmu ternyata tidak berubah dek, masih jadi nomor satu”. Ayah mulai merayu Ibu.
 “Bu, kamar Ayah sudah siap”. Bisikku pelan pada Ibu.
Malam ini Ibu tidur denganku karena dirumah yang kecil ini hanya ada tiga tempat tidur. Sudah tengah malam Ibu kelihatan belum tidur mungkin Ibu sangan bahagia karena Ayah telah pulang bagi Eko adalah mimpi terburuk semasa hidupnya. Sempat kupikirkan begitu lembutnya hati seorang Ibu. “Terimakasih dek, kau telah memaafkanku”. Kata Ayah tadi ketika sebelum tidur. “Sudahlah Mas, yang lalu biarlah berlalu. Kita buka dengan lembaran baru” ucap Ibu dengan santai.
Burung-burung pagi berterbangan disekeliling rumah kami, hangatnya mentari kini telah terasa. Aktivitas kami tidak berubah. “Dasar tua Bangka nggak tau malu! Sudah numpang nggak bangun-bangun!!” teriak keras Eko sampai aku dan Ibu langsung menghampirinya.
 “Ngomong apa kamu Ko! Kamu ya nggak usah bikin keributan lagi!!” tegur Ibu.
“Eko, kenapa kamu seperti kesurupan gini!!” celutukku kesal.
“Siapa yang cari keributan? Aku atau tua bangka ini?” kata Eko. Dengan spontan Ibu mengarahkan tangannya, dia menampar lagi Eko, suasananyapun menjadi mencekam. Tiba-tiba Eko mengambil gelas yang berisi air dimeja dan langsung disiramkan ke muka Ayah yang masih terlelap. “Jangan!!!!...” aku dan Ibu berteriak di waktu yang sama, berharap mencegahnya.
 “Ibu lihat sendirikan! Sudah disiram dia tetap tidak mau bangun, dasar!!”
“Cukup!!!” kata Ibu sambil meneteskan airmata.
Aku menatap ayah dengan tajam. “Bu, Ayah tidak bergerak” kataku setelah melihat Ayah. Dengan segera Ibu meraba hati dan jantung Ayah. “Kang Mas???” kemudian Ibu pingsan dan Eko membawaya ke ruang tamu. Warga yang mendengar teriakan Ibu langsung berdatangan. Dan ternyata Ayah kami yang selama ini dirindukan oleh Ibu juga dirindukan oleh sang Kholiq. Takdir memang menyakitkan, menyesalah Eko karena tak pernah membuka pintu maaf bagi Ayah.





/[ 0 comments Untuk Artikel Cerpen II]\

Post a Comment