PERTEMUAN
Mentari
pagi menghangatkan belahan bumi di bagian selatan. Dalam sapaannya, Ibu sudah
pulang dari Pasar dengan membawa banyak belanjaan. Entah ada apa hari ini,
hingga Ibuku bergegas melawan kerumunan hanya untuk mendapatkan barang yang
biasanya tidak pernah dibelinya.
“Hari
ini ada pesta ya Bu?...”. tanyaku kepada Ibu. Ibu menggelengkan kepala itu
berarti tanggapanku salah. “… Emm, atau ada banyak pesanan makanan ya Bu?..”
lanjutku. Ibu tetap menggelengkan kepala. Tak ada satupun kata yang terlontar
dari mulutnya, akupun semakin penasaran. “Lantas ada apa Bu?” tanyaku sedikit
memaksa.
Ibu
menghela napas panjang. Dia menatapku tajam seolah kecewa tentang ingatanku
yang selalu kecil. “Eka, apa kamu lupa
hari ini tanggal berapa?” tanya balik Ibu dengan nada tinggi.
“Ini tanggal 25 agustus Bu” jawabku singkat.
Ibu menggelengkan kepalanya lagi seakan benar-benar kecewa dengan jawabanku. Ibu
masuk ke dapur. Jari jemariku menghitung waktu kebelakang dan kedepan berharap
mengetahui apa yang sedang terjadi hari ini.
Oh tidak!
Aku
berlari. “Ibu, aku ingat! Hari ini adalah hari Ulang tahun pernikahan Ibu dan
Ayah. Maaf Bu Aku sempat lupa”. Kuraih
tangan Ibu dan berada didekapannya. Aku memeluk erat Ibu sembari berkata. “Apa
Ayah akan datang?” Ibu terdiam. Memang
sudah menjadi adat dirumah ini. Setiap tanggal 25 Agustus ia selalu memasak
banyak makanan kesukaan keluarga, berharap Ayah akan menepati janjinya untuk
pulang dan berkumpul bersama kami seperti dulu. Tapi sudah 7 tahun Ayah pergi
dan 7 tahun itu pula Ibu selalu setia menunggunya. Seingatku, hari senin pagi tepatnya 7 tahun yang lalu ketika aku
menjelang berangkat sekolah Ayah berpamitan kepada kami untuk bekerja ke
Ibukota dan berjanji akan pulang di hari
ulang tahun perkawinannya. Tapi semua itu hanya angan kosong bagi kami. Apalagi
Eko, saudara tuaku. Dia sangat membenci Ayah, karena dia menganggap bahwa Ayah telah membohongi
dan meninggalkan keluarga kami. Maklumlah semenjak Ayah pergi dia harus putus
sekolah untuk bekerja menghidupi aku dan Ibu. Akupun juga demikian, tapi aku
tak mungkin membenci Ayahku.
“Eka?..
Eka?..”. terdengar suara Ibu memanggilku, dengan segera aku menghampirinya.
“Bantu
Ibu mengupas kentang?”. Ibu membeikan Aku pekerjaan. Bergegas kusegera
melaksanakan kewajiban sebagai seorang anak. “Kamu tahu tidak Eka? Kalau
sekarang Ibu sedang memasak makanan kesukaan Ayahmu dan pastinya kamu dan
kakakmu juga suka!!”. Aku hanya tersenyum pada Ibu. Dia begitu sayang sama
Ayahku, tapi kenapa keberadaan laki-laki itu tidak diketahui oleh kami.
“Hmm…
bau apa ini? Harum sekali, Ibu masak apa?” Tiba-tiba Eko masuk ke dapur. Dengan
iringan langkah lunglai bak tubuhnya berjejal kusut menghampiri sumber aroma
itu.
Aku
menatapnya lekat-lekat sembari menggelengkan kepala. “Oh, sudah bangun?”
sindirku kesal. Eko berbeda satu tahun lebih dulu keluar dari rahim Ibu.
Seharusnya dia kakakku, tapi Aku tidak nyaman memanggilnya kak Eko. Aku dan dia
memiliki tinggi yang sama malahan selisih 5 cm dari Aku.
“Kok
banyak sekali masakannya memang ada apa?” lanjut Eko penasaran.
“Kamu
lupa? Kan kamu mau dinikahkan!!...”. ledekku.
“Hehe…
amin.. justru aku yang akan lebih dulu menikahkanmu!..”. sahutnya sambil
memelet. Dia membalas ejekanku dengan sempurna, hingga Aku tidak lagi bisa
menepisnya.
“Sudah..
jangan bercanda terus!.. kamu tidak kerja Eko?”. Kata Ibu yang mendinginkan
suasana.
“Tidak, Bu… Hari inikan hari Ahad, Eka saja
libur masak Aku tidak?...”. Terkadang Ibu memang sering lupa, kalau Aku dan Eko
bekerja ditempat yang beda tapi hari liburnya pasti sama. Jadi kalau ada Aku
dirumah, Eko juga dirumah.
Rasa
penasaran Eko menjadi boomerang. “Memang ada apa Bu masak banyak?” tanya Eko
lagi. Dia lebih parah dari aku.
Sekian
kalinya Ibu menggelengkan kepala. “Kamu juga lupa ya, hari ini kan hari ulang
tahun perkawinan Ibu dan Ayah, dan Ayah pasti akan pulang”. Terang Ibu
meyakinkan tanggapannya.
Eko
mulai tersihir. “Cuiih!!!!....”. Dia memuntahkan dengan sengaja makanan yang
ada dimulutnya. “Ibu kenapa sih masih saja menunggu si pembohong itu?.. Dia
tidak akan pernah kembali lagi pada kita bu!!...” ucapan itu seakan waktu
terhenti sejenak.
“Jangan
pernah lagi Ibu mengingat pembohong itu! Dia yang menyebabkan Aku dan Eka putus
sekolah! Dia juga yang menyebabkan kehidupan kita seperti sekarang ini!!....” kemarahan
Eko berlanjut. “…dan aku tidak sudi memanggil dia ayahku!!” suasana jadi
hening. Airmata mulai bercucuran deras saling berjatuhan ke bawah.
“Eko,
sudahlah!!.. Kamu jangan membentak Ibu! Ibu tidak salah!!...”. Aku mencoba
menjadi benteng penghalang bara api yang membara di hati Eko.
“Tapi,
bagaimanapun dia tetap Ayahmu, nak?...”. jelas Ibu.
“Cukup
bu!!!... aku tidak mau lagi mendengar tentang dia!!...” braakk!!! Eko keluar
dari rumah dengan tendangan tangannya yang hampir merobohkan pintu depan.
“Ya
Allah kenapa anakku sangat membenci Ayahnya? Ampunilah Aku dan keluargaku!!..”
Ibu menitihkan cairan bening dipipinya.
“Sudahlah
bu.. Ibu kayak tidak tahu sifat Eko! Dia itu memang keras kepala bu!..” Ucapku
lirih berharap bisa menenangkan cuaca mendung dihati Ibu. Ini bukan pertama
kali, jadi aku punya bekal pengalaman untuk kasus seperti ini.
“Iya, Ibu paham. Tapi sampai kapan keluarga
kita seperti ini?...”. Aku hanya terdiam karena akupun tidak tahu kapan ini
akan berakhir. Setiap tanggal 24 Agustus pasti ada yang menangis dan marah, Aku
bosan melihat keadaan ini. Tapi apa yang bisa aku lakukan, aku tidak tahu
bagaimana dan dimana ayahku sekarang.
***
Tiga
tahun yang lalu waktu Eko dan Pak Joko berusaha mencari Ayah ke Jakarta dengan
bekal seadanya karena ketika itu Ibu sedang sakit parah, dengan membawa foto
Ayah yang sudah hamper tidak dikenal lagi oleh Eko dan Pak Joko menelusuri
Ibukota. Disaat sedang istirahat di warteg pinggir jalan, Pak Joko melihat
seorang pria turun dari mobil dengan seorang wanita yang berpenampilan seperti
orang kaya dan mobilnyapun mewah. Pak Joko sempat ragu kalau itu adalah Kharmin
Ayah Eko tapi walau bagaimanapun tetap saja Pak Joko mengenalinya karena dia
adalah teman Ayah Eko sejak kecil.
“Ko, Eko!!!....” sambil menepuk bahu Eko dan menunjuk rumah
mewah.
“Ada
apa Pak?...”. Eko memusatkan pandangan pada apa yang ditunjuk Pak Joko.
“Itu
Ayahmu, Ko!!!...”. kata Pak Joko sepintas
Eko
gelagapan. “Mana Pak?..” matanya celingukan mencari batang hidung seorang ayah.
“Itu yang keluar dari mobil!..” jelas Pak
Joko.
“Oh.. ya!!! Ayo cepat!!”. Sambil berlari
mereka menghampiri rumah berlantai tiga itu dengat cat pepohonan yang indah.
Langkah
kaki mereka dihadang oleh orang berseragam putih hitam yang berdiri tepat di
depan gerbang rumah itu. “Mau apa kalian?...”. cegat satpam yang sedang
berjaga.
“Kami mau bertemu Pak Kharmin, Pak?...”. jawab
Pak Joko. “Iya pak, saya ingin bertemu dengan Ayah saya”. Sahut Eko bahagia
karena sudah menemukan Ayahnya.
Mendengar
suara rebut itu, wanita yang tadinya bersama Pak Kharmin ingin tahu. “Pak
Satpam siapa mereka?...”.
Pria
botak berbadan tegap itu akhirnya menjelaskan maksud dari kedatangan dua
laki-laki berpakaian serba kusut itu kepada sang wanita. Kemudian dia
mempersilahkan Eko dan Pak Joko masuk ke rumah itu. Panorama yang mengindahkan
dinding-dinding bercat cerah tidak seterang ucapannya “Siapa kalian dan ada
apa?..” tanya wanita itu dengan sinis.
“Saya Joko dan ini Eko. Kami disini mau
mencari Kharmin, ayah dari Eko”. Jawab Pak Joko. “Iya bu saya mencari Ayah saya
yang sudah lama tidak pulang kerumah”. lanjut Eko.
Wanita
itu menyandarkan kepalanya di kursi. Dia terlihat santai dengan penjelasan ini.
“Tapi, disini tidak ada yang namanya Kharmin”. Jawabnya menahan ketawa seperti
menyaksikan kelucuan. Padahal tidak ada yang lucu.
Eko
dan Pak Joko terkejut. Mana mungkin yang tadi dilihatnya itu bukan Kharmin.
Tiba-tiba ada seorang Pria keluar dari rumah. Dengan cepat Eko memeluknya.
“Ayah.. akhirnya aku bertemu dengan Ayah, Ibu sakit dirumah yah.. Ibu ingin
bertemu dengan Ayah?..” Semakin erat pelukannya.
Sontak
kejadian aneh terjadi. “Lepaskan Aku!!..” Pria itu mendorong Eko hingga
terjatuh. “Aku bukan Ayahmu!! Dan aku tidak kenal Kalian!! Cepat keluar dari
rumahku!!” teriaknya keras tiba-tiba.
“Kharmin!!!
Ini aku Joko temanmu dan ini Eko anakmu!!” Sahut Pak Joko sambil berdiri.
“Ayah!!.. Ibu butuh Ayah!!...” Eko merengek-rengek seperti anak kecil, dia
tidak menyangka jika Pria itu adalah Ayahnya yang tidak mengenalnya.
“Pak, ini suami saya, namanya Romi. Mungkin
Bapak salah orang”. Sanggah wanita itu.
“Sekarang
kalian pergi dari rumah saya! Dasar gembel!!...”. Tak terduga bila kata-kata
kasar itu terucap langsung dari Kharmin.
Pak
Joko menarik Eko keluar pagar. “Ayo Ko kita pulang!” ajaknya memaksa. “Tidak,
Pak! Aku tidak akan pulang tanpa membawa Ayah untuk Ibu!”. Pak Joko semakin
keras menariknya. “Ayo Ko!!!!....”.
“Tidak…
Ayah, Ibu sakit dirumah! Pulanglah Yah kami merindukanmu!” keluh Eko yang masih
merangkak didepan pagar. Pak Joko membujuk Eko sekali lagi. “Ayo Ko ayo
pulang!!!” sambil menangis dalam hati. Akhirnya mereka pulang tanpa membawa
hasil. Sesampainya dirumah mereka tidak mengatakan hal itu pada Inah, Ibu Eko.
Tibalah
didepan sebuah rumah kayu yang beralaskan dinding bangunan. “Gimana Ko? Apa
kamu menemukan Ayah?” tanya Eka yang
kebetulan dia berdiri didepan jendela. Eko terdiam.
Eko
berjalan pelan menuju kamar Ibu. “Buk..”. Eko mencium tangan Ibunya. Airmata
berjatuhan.
“Gimana
nak? Apa kamu menemukan Ayahmu?...” Ibu terlihat lemah.
Wajah
Eko pucat dan tirus. Pelupuk matanya mengembang. “Ibu..”. dengan menangis Eko
memeluk erat Ibunya yang sedang berbaring diranjang.
“Gimana
Pak Joko?...” tanyanya lagi. Pak Joko menggelengkan kepala. “Kenapa nak? Apa
terjadi sesuatu?..” Ibu mengelus punggung Eko. Aku terbawa arus, airmata ini
menetes deras melihat keluargaku yang sedang dilanda kesedihan.
“Eko
cuma sedih karena kami tidak menemukan Kharmin”. Sahut Pak Joko. Tapi didalam
hati Eko menangis karena melihat kenyataan bahwa Ayah mengkhianati Ibunya dan
tidak mengakuinya sebagai anak. Sungguh ini sangat menyakitkan. Pak Joko sudah
sepakat untuk tidak memberitahu Ibunya tentang yang sebenarnya karena mereka
takut bila penyakit Ibunya emakin parah. Oleh sebab itu, Eko sangat membenci
Ayah, dimatanya Ayah sudah tidak ada.
Waktu
menunjukkan pukul 20.00 WIB, aku masih melihat Ibu didepan sambil melihat
jalan. “Ibu?”. sapaku dengan lembut.
Ibu
memalingkan wajahnya dari luar ke arahku. “Eh, Eka.. Ibu sedang menunggu
Ayahmu”. Matakupun berlinang ketika Ibu berkata seperti itu.
“Tapi bu inikan sudah malam, tidak baik untuk
kesehatan Ibu! Lagipula Eko bisa marah jika melihat Ibu diluar!”. Bujukku.
Ibu
tersenyum tipis. “Ibu mengerti, pasti kamu dan Eko membencinya, tapi walau
bagaimanapun dia tetap Ayahmu nak!”. Dan lagi mendengar kata itu hatiku sangat
sedih kenapa Ayah tega meninggalkan Ibu.
“Eko
mana Ka?..” tiba-tiba Ibu bertanya padaku.
“Katanya dia mau keluar sebentar, bu ayo kita
masuk!”
Perlahan
Ibu melangkahkan ke dalam, tapi sepertinya dia masih ragu dan berharap Ayah
akan datang malam ini. Tiba-tiba terdengar suara kaki yang berjalam dan ucapkan
salam. “Assalamu’alaikum…” sapa orang itu.
“Wa’alaikumsalam..” sahutku dan Ibu. “Ayahmu
nak?...” teriak Ibu mengagetkanku. Ibu langsung berlari keluar akupun penasaran
dan berlari mengejar Ibu. Kulihat Ibu sudah berhadapan dengan seorang pria yang
berpenampilan kumuh dan berambut putih. “Sudah lama aku menantimu dan akhirnya
kamu kembali juga Mas..”. tanpa kusadari Ibu berkata seperti itu layaknya bahwa
pria itu adalah suaminya. Terdiam, sunyi untuk sesaat.
Suasana
hening seketika berlalu. “Maafkan aku de, aku telah mengkhianatimu aku mungkin
sudah tidak pantas untuk dimaafkan tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku sayang
kamu dan anak kita”. Terang pria tua itu seakan dia tanpa menanggung dosa. Apa!!
dibenakku Dia adalah orang yang aku dan Eko benci yang juga dirindukan oleh
Ibu.
Perlahan
aku memicingkan telinga, dengan langkah lirih aku meraih lubang kecil
dibelakang pintu. Tapi ternyata tanganku usil, tanpa sadar aku menjatuhkan vas
bunga didekatku.“Eka? Benarkah itu kau nak?..” Aku hanya terdiam.
Selang
beberapa detik tiba-tiba terdengar suara keras Eko. “Assalamu’alaikum.. Eh, ada
tamu, siapa bu?...” Eko berjalan mendekati ruang tamu untuk mencium tangan
Ibunya. Eko tercengang saat menatap Pria itu. “Anda!!!...”. teriaknya. “Kenapa
Anda kesini! Belum puas anda menghancurkan masa depanku, Eka dan membuat susah
hidup kami!!..” Jelas Eko dengan nada marah.
“Eko!!!..” Ibu berteriak sambil berdiri.
Mendengar itu, aku berlari menghampiri Ibu. Aku memeluknya erat.
“Bu, dia tidak pernah menganggap kita, dia
datang kesini mungkin sudah jatuh miskin dan ditinggal keluarganya, bu!!” Eko
menambahkan seakan merubah suasana semakin panas.
“Maafkan
Ayah nak!” kata ayah dengan suara serak.
“Apa katamu? Bukankah kamu tidak punya anak
seperti aku ha!!!...”. Perasaan Eko tidak tenang hingga dia meluapkan
segalanya. “Ayahku sudah tidak ada! Dia sudah meninggal 7 tahun yang lalu!”
Ibu
segera menghentikannya, terpaksa Ibu menampar Eko. “Dengarkan penjelasan
Ayahmu!”. Tidak pernah kulihat sebelumnya Ibu semarah itu.
“Apa kamu ingin Ibu mati jantungan gara-gara omongan kamu nak!
Jawab!!” Ayah ikut memarahi Eko. Aku dan Eko hanya terdiam. “Ayah memang salah
nak! Ayah telah meninggalkan kalian tanpa kabar dan dulu tidak mengakuimu sebagai
anak. Kini Ayah telah tua seluruh harta Ayah telah dirampas oleh istri Ayah dan
kini Ayah pulang untuk Kalian”. Jelas Ayah menyesal.
Tanpa
menunggu waktu. Eko memang sudah terlanjur sakit hati. Sedalam palung laut
hingga emosinya selalu terpancing jika berhadapan dengan orang yang sudah bikin
hancur hatinya dan keluarganya. “Persetan!!!!!...” teriak Eko sambil melangkah
kedalam kamar.
Ibu
mengelus dada melihat sikap Eko yang masih membenci Ayahnya. “Maafkan Eko,
Mas.. mungkin dia masih kaget dengan kedatanganmu”. Pria itu tersenyum. Dia
sangat kumuh dan kusut, aku terus berada dibelakang Ibu. “Mari Mas makan.. aku
sudah menyiapkan makanan kesukaanmu”. Dengan langkah bersama, Ayah dan Ibu
masuk ke ruang makan tampak pancaran sinar kebahagiaan di wajah Ibu. Ya mungkin
sudah suratan takdir dari Yang Maha Kuasa.
“Hmm,
masakanmu ternyata tidak berubah dek, masih jadi nomor satu”. Ayah mulai merayu
Ibu.
“Bu, kamar Ayah sudah siap”. Bisikku pelan
pada Ibu.
Malam
ini Ibu tidur denganku karena dirumah yang kecil ini hanya ada tiga tempat
tidur. Sudah tengah malam Ibu kelihatan belum tidur mungkin Ibu sangan bahagia
karena Ayah telah pulang bagi Eko adalah mimpi terburuk semasa hidupnya. Sempat
kupikirkan begitu lembutnya hati seorang Ibu. “Terimakasih dek, kau telah
memaafkanku”. Kata Ayah tadi ketika sebelum tidur. “Sudahlah Mas, yang lalu
biarlah berlalu. Kita buka dengan lembaran baru” ucap Ibu dengan santai.
Burung-burung
pagi berterbangan disekeliling rumah kami, hangatnya mentari kini telah terasa.
Aktivitas kami tidak berubah. “Dasar tua Bangka nggak tau malu! Sudah numpang
nggak bangun-bangun!!” teriak keras Eko sampai aku dan Ibu langsung
menghampirinya.
“Ngomong apa kamu Ko! Kamu ya nggak usah bikin
keributan lagi!!” tegur Ibu.
“Eko,
kenapa kamu seperti kesurupan gini!!” celutukku kesal.
“Siapa
yang cari keributan? Aku atau tua bangka ini?” kata Eko. Dengan spontan Ibu
mengarahkan tangannya, dia menampar lagi Eko, suasananyapun menjadi mencekam.
Tiba-tiba Eko mengambil gelas yang berisi air dimeja dan langsung disiramkan ke
muka Ayah yang masih terlelap. “Jangan!!!!...” aku dan Ibu berteriak di waktu
yang sama, berharap mencegahnya.
“Ibu lihat sendirikan! Sudah disiram dia tetap
tidak mau bangun, dasar!!”
“Cukup!!!”
kata Ibu sambil meneteskan airmata.
Aku
menatap ayah dengan tajam. “Bu, Ayah tidak bergerak” kataku setelah melihat
Ayah. Dengan segera Ibu meraba hati dan jantung Ayah. “Kang Mas???” kemudian
Ibu pingsan dan Eko membawaya ke ruang tamu. Warga yang mendengar teriakan Ibu
langsung berdatangan. Dan ternyata Ayah kami yang selama ini dirindukan oleh
Ibu juga dirindukan oleh sang Kholiq. Takdir memang menyakitkan, menyesalah Eko
karena tak pernah membuka pintu maaf bagi Ayah.
Post a Comment