III.5.
Navigasi
Ruang Tertutup
III.5.1.
Pengertian
Navigasi
tertutup merupakan cara untuk membuat
plotting jalur secara detail dan lebih akurat selain dengan cara resection.
Kelebihan dari navigasi tertutup adalah tidak terpengaruh dengan cuaca maupun
keadaan, dan tingkat keakurasiannya yang tinggi. Navigasi tertutup menggunakan
sistem shooter dan stationer, dimana shooter mengukur jarak, arah, dan sudut
elevasi antara shooter dengan stationer. Sedangkan kerugiannya adalah
membutuhkan banyak waktu.
III.5.2.
Alat-alat
yang dibutuhkan
Adapun
alat-alat yang dibutuhkan dalam navigasi tertutup adalah:
Ø Kompas
Kompas
digunakan untuk mengukur arah, antara shooter dan stationer
Ø Klinometer
Klinometer
digunakan untuk mencari perbedaan elevasi dan jarak datar atau jarak sebenarnya
Ø Meteran
Meteran
digunakan untuk mengukur jarak terukur
III.5.3.
Langkah-langkah
Navigasi Ruang Tertutup
Adapun
langkah-langkah dalam navigasi tertutup adalah:
1. Melakukan
resection terlebih dahulu, dan langsung plotting pada peta.
2. Ukur
jarak antara shooter dan stationer
3. Ukur arah
dengan kompas antara shooter dan stationer
4. Ambil
sudut elevasi antara shooter dengan stationer
5. Catat
data tersebut.
III.5.4.
Pengolahan
Data
Pengolahan
data dari Navigasi Ruang tertutup menggunakan :

z
y
θ
x
z = jarak
terukur
x =
jarak datar
y =
perbedaan ketinggian
θ =
sudut elevasi
dimana
kita mencari jarak pada peta atau x dengan menggunakan θ dan y yaitu
menggunakan rumus cos θ .z . Lalu keudian diplot
pada peta.
IV.1.
PENDAHULUAN
Sebuah
definisi SAR dapat diartikan secara umum adalah suatu misi penyelamatan untuk
menyelamatkan jiwa sehingga dalam pergerakan harus berpegang pada 3C yaitu :
cepat, cermat dan cekatan. Waktu yang sia-sia ataupun yang tidak efektif dalam
pencarian akan mengakibatkan kerugian bagi korban.
Suatu misi SAR
akan dilakukan bila telah terjadi laporan kehilangan. Dari sini tenaga-tenaga
pencari mulai memfokuskan diri dengan mencari keterangan yang lebih lengkap
sambil mencari peta daerah yang bersangkutan. Pencarian informasi bisa
melibatkan pihak kepolisian ataupun klub-klub pecinta alam yang telah banyak
tersebar di Indonesia terutama klub-klub yang berada di lokasi pencarian.
Berita yang diterima haruslah seakurat mungkin termasuk data awal pendakian,
lokasi terakhir terlihat, perlengkapan yang dibawa dan yang penting adalah data
korban itu sendiri sehingga memudahkan tim pencari untuk menganalisa data.
Dikenal Sebuah filosofi dalam SAR, yang bias disingkat sebagai LAST
Dikenal Sebuah filosofi dalam SAR, yang bias disingkat sebagai LAST
L : Merupakan Kependekan dari Locate, yaitu ketika korban dinyatakan
hilang, tim SAR harus bisa menemukan posisi korban
A : Merupakan kependekan dari Acces, yaitu ketika korban telah
ditemukan, tim SAR harus bisa mendapatkan cara untuk mencapai tempat korban
S : Merupakan kependekan dari Stabilize, yaitu ketika sudah sampai di
tempat korban tim SAR dan korban masih bisa diselamatkan, tim SAR harus bisa
memberikan pertolongan pertama (P3K) kepada korban
T : Merupakan kependekan dari
Transport, ketika sudah diberi
pertolongan, tim SAR harus bisa mengevakuasi korban.
Beberapa
pengetahuan yang berkaitan dengan filosofi di atas adalah :
Unsur
Pengetahuan
a.
Locate (menentukan lokasi) : Pengetahuan
tentang data peristiwa, keadaan korban, & keadaan medan.
b.
Acces (mencari
korban) : Ketrampilan
mendaki gunung, rock climbing, hidup di
alam bebas, mencari jejak, dan navigasi darat.
c.
Stabilize : Pengetahuan P3K, Gawat Darurat.
d.
Transport :
Ketrampilan mendaki gunung, rock climbing,
hidup di alam bebas, mencari jejak, dan navigasi darat.
IV.2.
SEARCH
IV.2.1. Organisasi SAR di Indonesia
a.
Pimpinan Badan SAR Indonesia (BASARI)
adalah Menteri Perhubungan yang bertanggungjawab kepada Presiden RI.
b.
Pusat Koordinasi SAR Nasional di bawah
Badan SAR Nasional (BASARNAS).
c.
Pusat koordinasi rescue terdiri dari 4
(empat) KKR (Kantor Komando Rescue), yaitu :
1). KKR
I di Jakarta
2). KKR
II di
Surabaya
3). KKR III di Ujung Pandang
4). KKR IV di Biak
IV.2.2. Bagan Organisasi Misi SAR
Minimal Umum
|
S.R.U
|
S.R.U S.R.U S.R.U
|
![]() O.S.C
S.R.U S.R.U S.R.U
|
Diperluas

S.C






S.M.C
S.M.C




O.S.C O.S.C O.S.C O.S.C
S.R.U S.R.U S.R.U S.R.U S.R.U S.R.U S.R.U S.R.U
S.C :
SAR
Coodinator : Dijabat oleh seorang pejabat (biasanya Bupati atau kepala
Polisi) yang karena fungsi dan wewenangnya sangat berguna bagi operasi SAR
dalam wilayah tanggungjawab KKR.
S.M.C :
SAR
Mission Coordinator : Pimpinan SAR secara langsung ; merencanakan serta
mengkoordinasikan kegiatan SAR. Melaksanakan manajemen SAR serta berbagai
kegiatan lain guna lancarnya kegiatan SAR.
O.S.C : On
Scene Commander : Ditunjuk oleh SMC untuk melakukan koordinasi dan
pengaturan misi SAR di tempat kejadian, serta melapor secara berkala pada SMC
sampai operasi SAR dinyataka selesai.
S.R.U : Search
Rescue Unit : Regu pencari yang secara nyata melakukan operasi SAR. Wewenang terbatas pada tugas-tugas yang
diberikan oleh OSC/SMC, serta melapor secara berkala dan berkonsultasi mengenai
kemajuan dan pelaksanaan tugas pencarian.
Segala
kegiatan SAR terdiri dari empat unsur, yang dapat dijadikan ajang untuk
menentukan ketrampilan tertentu yang dibutuhkan bagi operasi SAR
IV.2.3. Tahap SAR
1). Tahap
keragu-raguan : Menyadari bahwa suatu keadaan telah terjadi dan perlu
mengambil suatu tindakan.
2). Tahap
tindakan awal : Tanggap bahwa suatu musibah telah terjadi dan berusaha
mengumpulkan berbagai keterangan yang berhubungan dengan musibah.
3). Tahap
perencanaan : Setelah terkumpul berbagai informasi, menganalisa serta
mengevaluasi keadaan secara menyeluruh serta membuat rencana pencarian awal.
4). Tahap
operasi : Melaksanakan kegiatan
operasi SAR sesuai dengan yang telah direncanakan, sambil secara berkala
menganalisa dan mengevaluasi masukan-masukan dari lapangan, sampai operasi SAR
mencapai tujuan dan dinyatakan selesai.
5). Tahap
laporan : Membuat laporan kegiatan SAR
secara menyeluruh serta memberikan ulasan dan rekomendasi bagi pelaksanaan SAR,
untuk kepentingan di masa mendatang
.
IV.2.4. Perencanaan dan Strategi SAR
1.
Perencanaan diawali dengan pengumpulan
berbagai informasi dan data tentang peristiwa/musibah yang telah terjadi dan
dapat diperoleh dari :
a.
Informasi tentang terjadinya musibah, al
: ...
5 W + 1 H
b.
Informasi tentang korban secara
menyeluruh.
c.
Informasi tentang keadaan medan, cuaca,
peta wilayah topografi, analisa medan dsb. Bisa didapatkan informasi dari
penduduk sekitar, polisi hutan, petugas PHPA, pendaki berpengalaman, dan saksi
mata.
d.
Informasi mengenai tersedianya berbagai
fasilitas penunjang bagi kelancaran operasi SAR, al : tanaga personel SAR,
waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan operasi SAR, keadaan politik serta
pemanfaatannya untuk menunjang operasi SAR, logistik, sarana komunikasi, dan
sarana mendirikan base camp.
2.
Strategi pencarian diawali dengan
menentukan Search Area, yang pada
dasarnya ada empat metode pendekatan, yaitu :
a.
Metode Teoritis : yaitu dengan
melingkari daerah pencarian dengan jarak tertentu berdasarkan perkiraan jarak
tempuh korban dari titik awal diketahui hingga korban terakhir berada (point
last seen /PLS) – titik terakhir tampak).
b.
Metode Statistika : yaitu mempelajari
kejadian berdasarkan statistik dari peristiwa SAR di masa lalu. Sayang sekali,
metode ini kurang efektif di Indonesia, karena catatan statistik hampir-hampir
tak ada atau tak pernah dibuat dan peristiwa SAR sangat jarang.
c.
Metode Subyektif : yaitu berdasarkan
pengalama luas dari berbagai pihak yang pernah mengikuti kegiatan SAR, serta
kenal akan daerah pencarian, sehingga pendapat dan petunjuk mereka dapat
dipakai sebagai panutan dalam operasi SAR.
d.
Metode Matson : yaitu setelah menentukan
beberapa ‘search area’ skala prioritas ditentukan dari hasil pilihan mayoritas
dari beberapa tenaga ahli SAR (3 atau 4 orang).
Contoh
SA
I SA II SA III SA IV
1.
Ahli SAR I 20 % 40 % 10 % 30
%
2.
Ahli SAR II 20 % 60 % 10 % 10
%
3.
Ahli SAR III 30 % 55 % 10 % 10
%
4.
Ahli SAR IV 30 % 40 % 10 % 20
%
100
% 190 % 40 % 70 %
Dari
contoh tersebut skala prioritas menentukan Search Area (SA) hasilnya adalah
: 1. SA II; 2. SA I;
3. SA IV; 4. SA III
IV.2.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola pencarian :
1.
Ketepatan penentuan posisis
musibah/korban, yaitu menentukan Point
Last Seen (PLS = titik terakhir tampak), Most Probable Place (MPP = daerah kemungkinan terbesar).
2.
Tolok ukur sukar mudahnya sasaran yang
diketahui.
3.
Luas serta bentuk daerah pencarian.
4.
Medan di daerah pencarian.
5.
Cuaca di/menuju daerah pencarian.
6.
Kuantitas serta kualitas SRU yang
tersedia.
7.
Jarak yang perlu ditempuh SRU yang
tersedia.
8.
Kemampuan peralatan bantu navigasi di
daerah musibah.
9.
Dukungan logistik di daerah pencarian.
10.
Kualitas dari SMC dan OSC beserta
staffnya.
IV.2.6. Teknik Pencarian
1). Confinement, (membatasi ruang gerak) :
Pada tahap awal pencarian, kita dapat melakukan dengan
membatasi ruang gerak atau ruang jelajah korban. Tujuannya adalah agar korban
terjebak di daerah tertentu sampai daerah tersebut selesai dilakukan pencarian
atau sampai korban keluar dari daerah tersebut sehingga diketemukan oleh Tim
Pencari. Metode yang biasa dipakai :
a.
Trail
Blocks (Razia pada jalan setapak) : Tim-tim kecil dikirim untuk
menjaga jalur-jalur setapak sekitar daerah pencarian untuk menjaga kemungkinan
korban melalui daerah tersebut.
b.
Road
Block (Razia pada jalan keluar) : di sini masyarakat dapat
dimintai bantuan untuk melakukan pengawasan kemungkinan korban melalui daerah
mereka.
c.
Lock
Outs (Mengadakan pengintaian) : dilakukan dari tempat yang
agak tinggi. Tim Pencari dapat melakukan kegiatan yang memancing perhatian
korban, antara lain : teriak, menuip peluit, membuat asap (api unggun).
d.
Camp In, adalah
sejenis Lock Out & Trail Blocks dimana Tim Pencari mendirikan perkemahan
darurat atau sementara sambil berfungsi sebagai Station relay serta kebutuhan
lainnya yan diperlukan untuk menunjang operasi SAR.
e.
Track
Traps (Jalur jebakan) : jalur setapak ataupun tempat tertentu
yang kemungkinan besar akan dilalui korban karena tempat tersebut secara
alamiah (dan naluri) akan dipilih untuk dilewati korban. Antara lain jalur air,
mata air, gua, tempat agak datar dan sebagai. Tim Pencari dapat membuat jebakan
buatan dengan memnggemburkan tanah sekitar jalur dan sesekali memeriksa apakah
ada telapak kaki korban tertera disana.
f.
String
Line, adalah pembatas buatan berupa jalur benang yang ditarik
mengikuti jalur tertentu yang diharapkan akan membatasi ruang gerak korban
serta bila diketemukan oleh korban, ia akan dituntun menuju tempat tertentu
antara lain Tim Pencari, jalan setapak, camp in, dsb.
|
Contoh Pemasangan
String Line & Marker
|
|
BENANG
|
|
MARKER
|
|
STRING LINE
|
|
JALUR SETAPAK
|
|
JALUR SETAPAK
|
|
|
|
JALAN KELUAR
|
|
SAR
|
|
CAMP-IN
|
|
Contoh Marker
|
![]() |
2). Detection (deteksi) :
Adalah usaha untuk mencari korban atau benda yang jatuh
atau sengaja ditinggal korban. Metode inilah yang paling sering dilakukan dan
paling banyak memerlukan tenaga pencari (SRU). Metode deteksi terbagi atas tiga
jenis :
a.
Type I Search (pencarian type satu)
Melakukan
pencarian secara cepat pada daerah-daerah yang dicurigai, juga sering disebut
sebagai “Blitch Team” (tim kilat)
atau “Recona Issance” (recon). Tim
cukup terdiri antara 3 sampai 5 personel agar dapat bergerak leluasa dan
cepat.
b.
Type II Search (pencarian type dua)
Juga
disebut “Open Grid Search” (pencarian
grid renggang) atau penyapuan renggang.
Tujuannya
adalah melakukan pencarian sistimatis secara cepat pada suatu daerah pencarian
yang luas dengan metode penyapuan, sehingga menghasilkan kemampuan yang optimal
walau mempergunakan waktu dan tenaga yang minimal. Tim terdiri dari 4 sampai 6 orang yang
berjalan berbanjar dengan jarak antar personel antara 10 s/d 20 m. Pimpinan tim SRU harus menjaga arah kompas
serta jarak antar personel, agar pencarian terarah dan tidak tumpang tindih.
c.
Type III Search (pencarian type tiga)
Juga
disebut “Close Grid” (pencarian grid rapat) atau penyapuan
rapat.
Tujuannya
adalah melakukan pencarian sistimatis secara agak lambat pada daerah yang lebih
sempit serta melakukan penelitian lebih cermat. Tim pencari bisa terdiri dari
antara 5 sampai 10 orang yang berjalan berbanjar dengan jarak antar
personel 3 s/d 5 m.
3). Tracking (pelacakan) :
Adalah suatu cara pencarian dengan mengikuti jejak atau
benda-benda yang terjatuh atau sengaja dibuat korban. Tim harus mempunyai
kemampuan melacak yang tinggi seperti:
membaca jejak, medan, peta kompas, mengerti maksud dan tujuan korban, makna
dari benda-benda yang terjatuh dan sengaja ditinggal korban dsb.
4). Evakuasi Korban
Yaitu baik dalam keadaan hidup atau meninggal. Bila
korban dalam keadaan hidup tetapi memerlukan pertolongan kesehatan, personil
harus betul-betul memiliki kemampuan P3K, karena kalau menangani akan
mengakibatkan korban bertambah parah atau bahkan koit. Bila korban dalam
keadaan meninggal maka SRU tidak perlu tergasa-gesa atau mengambil tindakan
yang justru membahayakan keamanan Tim SRU baik moril maupun fisik.
Beberapa Pola Pencarian yang dapat dipergunakan bila personil
SRU sangat terbatas, antara lain :
1.
|
B
|
|
A
|
![]() |
|
A
|
|
B
|
Track 2.
Creeping

3. Square
4. Sector
5. Paralel
![]() |
Open
Grid Search (Penyapuan Renggang)
|
X
|
|
15 m
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
A
|
|
D
|
|
C
|
|
E
|
|
B
|
|
15 m
|
Keterangan :
1.
A dan B, personel paling ujung kiri
memasang marker (catatan petunjuk lapangan), atau string line atau ribbon.
2.
C, petugas kompas yang selalu memeriksa
bahwa arah pencarian sesuai dengan arah kompas.
3.
X, pemimpin SRU, yang mondar – mandir
sekitar barisan sambil memeriksa arah jarak personel terjaga dan melihat
situasi medan sekitar, apa perlu ada perubahan arah atau sistem pencarian.
4.
Bila alat komunikasai cukup, maka
idealnya X, A, B, masing –masing memegang sebuah HT.
Close
Grid Serch (Penyapuan Rapat)
|
4 m
|
|
4 m
|
|
4 m
|
|
Arah Penyapuan
|
![]() |
A B C D E F G H I
Keterangan :
1.
Jarak antara personel 3 s/d 5 meter.
2.
A dan I, petugas memasang marker (CPL),
string line (ribbon).
3.
E, pimpinan SRU.
4.
A, E, atau I, E, membawa HT.
Contoh wilayah Penyapuan
A string
line
B
|
Ribbon
|
|
X
|
![]() |
|
X
Awal penyapuan
akhir penyapuan
Keterangan :
X : CPL (catatan petunjuk lapangan).
: Ribbon, terbuat dari potongan tali rafia atau pita yang di pasang
secara interval, sebagai batas wilayah.
A – B :
Rentang benang atau string line, yang
ditarik sepanjang wilayah pencarian sebagai tanda pembatas wilayah.
IV.2.7. Beberapa Tugas Utama SRU
1.
Melaksanakan tugas yang diberikan oleh
SMC dan OSC. SRU wajib patuh akan tugas yang diberikan padanya oleh SMC atau
OSC. Bila keadaan menghendaki adanya perubahan maka hanya dapat dilakukan
setelah konsultasi serta disetujui oleh SMC atau OSC. Penyimpangan atau melawan
wewenang SMC atau OSC sama sekali tidak di benarkan dan SMC atau OSC wajib
menarik kembali SRU yang tak disiplin.
2.
Melaksanakan prosedur pencarian secara
benar. Berbagai petunjuk pelaksanaan tugas harus dilaksanakan secara seksama
dengan kewaspadaan, keseksamaan, kesadaran dan ketelitian yang baik.
3.
Melapor segala kegiatan secara berkala
pada SMC atau OSC pada waktu yang di tetepkan sambil berkonsultasi mengenai
berbagai keperluan guna kelancaran serta ketepatan usaha dan sistem pencarian,
antara lain rambu ini dapat berupa :
a.
Rambu tanda :
-
String Lina (berikut marker petunjuk
arah)
-
Ribbon (ikatan pita atau tali rafia)
b. Rambu
tertulis :
-
|
S A R
1500 mdpl
|
|
S A R
2000 mdpl
|
![]() |
Petunjuk ketinggian suatu tempat.
-
Petunjuk arah ke suatu tempat.
|
Camp 2 40 m
|
|
AIR 75 m
|
-
Catatan petunjuk lapangan atau CPL, (
lihat contoh terlampir), yang berisi:
·
Tanggal, no regu, jumlah anggota.
·
Keterangan tugas.
·
Keterangan tugas yang dilakukan.
·
Petunjuk tempat – tempat yang berbahaya
(tanah longsor, sarang tawon, tebing, dsb)
·
Petunjuk tempat – tempat tertentu (mata
air, tempat bivak, dsb)
·
Petunjuk tempat diketemukan jejak, tanda
– tanda dsb, yang diperkirakan milik korban.
·
Petunjuk tempat diketemukan benda –
benda yang jelas milik korban.
·
Keterangan tambahan yang ditambahkan
pada CPL oleh regu berikutnya yang melewati tempat terdapatnya CPL. Keterangan
tambahan ini dapat ditambahkan bila dianggap perlu oleh SRU guna melengkapi
keterangan yang sudah ada.
4.
Memberikan pertolongan pertama pada
korban bila diperlukan. Pertolongan harus diberikan dengan pengetahuan serta
kesadaran kemanusiaan yang tinggi agar tercapai makna dari maksud menolong.
5.
Melaksanakan evakuasi korban, baik dalam
keadaan sehat, kesehatan yang rendah dan buruk, atau dalam keadaan telah
meninggal dunia atau jenazah telah membusuk berat.
6.
Dapat melakukan hubungan komunikasi
radio dengan baik dan jelas sesuai prosedur standar operasi radio (standart operation procedures) yaitu
mengadakan komunikasi dengan HT. Juga mengerti kode – kode yang telah
disepakati bersama untuk dipergunakan dalam keadaan darurat.
7.
Membuat laporan kerja secara tertulis
bila diminta oleh SMC atau OSC.
IV.2.8. Perlengkapan Wajib SRU
Selain membawa perlengkapan standar menjelajah rimba dan
gunung, anggota SAR perlu membawa beberapa perlengkapan yang di kategorikan
sebagai perlengkapan wajib bila ingin bergabung dalam suatu operasi SAR.
Perlengkapan itu berupa :
1.
Perorangan
a.
Ponco atau jas hujan
b.
Pisau tebas
c.
Peluit
d.
Tempat air atau veldpless
e.
Senter beserta bolam serta baterei
cadangan
f.
Makanan untuk 4 hari (bila mengikuti SAR
selama 3 hari). Usahakan makanan cadangan untuk 1 hari serta membawa makanan
kecil berupa permen, coklat, dan biskuit. Juga membawa madu, sekoteng, multi
vitamin untuk keadaan darurat
2.
Regu
a.
Tenda
b.
Peta, kompas, altimeter, penggaris busur
(aprotaktor)
c.
Peralatan masak, kompor & bahan
bakar, rantang masak
d.
Peralatan rock climbing
e.
HT (peralatan komunikasi)
f.
Benang (untuk string line) 4 kelos @ 500
m
g.
Tali rafia 500 gram
h.
Obat-obatan & P3K
i.
Jerigen air 5 liter
j.
Senter besar atau lampu penerangan
IV.3. RESCUE
IV.3.1.
Lokasi Musibah
Operasi pertolongan dengan kegiatan – kegiatan antara
lain
a.
Briefing
b.
Pengarahan tim penolong ( Rescue Tim )
dan dropng bagi korban.
Pertolongan di lokasi musibah dan
penggantian tim bila perlu.
c.
Evakuasi
d.
Debriefing.
Briefing pada dasarnya sama dengan untuk
operasi pertolongan yaitu SMC harus menjelaskan situasi, keaadaan cuaca,
lintasan yang harus ditempuh, tugas tim, komunikasi instruksi koordinasi,
rencana evakuasi, droping aman, fasilitas lain dan kemungkinan penggantian tim
serta pelaksanaan tugas – tugas yang menyangkut masalah medis.
Operasi pertolongan dapat langsung
dilakukan oleh SRU pencari, tetapi bila tidak memungkinkan maka unit penolong/
rescue harus sudah disiagakan dan segera dapat dikirim kelokasi musibah.
Pengiriman rescue tim kelokasi musibah sebelum obyek ditemukan tidak
disarankan/ tidak efekitf. SMC harus dapat memperhitungkan waktu yang
diperlukan bagi unit – unit penolong mencapai lokasi musibah terutama bila
medannya sulit dilalui.
SRU yang pertama tiba dilokasi musibah
harus melakukan usaha pertolongan pertama terhadap korban musibah. Sedangkan
SRU yang datang kemudian akan membantu tugas – tugas selanjutnya. Dalam hal ini
maka setiap anggota SRU sebaiknya dilengkapi dengan pertolongan pertama yang
bersifat medis teknis.
Usaha untuk memindahkan korban dari
lokasi musibah ketempat lain yang lebih baik (ketempat penampungan rumah sakit)
dinamakan evakuasi. Evakuasi dapat dilakukan melalui udara, darat maupun laut.
Dalam hal ini diperlukan adanya :
a.
Tenaga personil yang memiliki
pengetahuan lapangan dan medan teknis.
b.
Peralatan pertolongan ( tandu, tali,
jangkar, sling, alat – alt medis dan sebagainya.
c.
Alat transportasi, pesawat, helikopter,
kapal, ambulance dll
Memindahkan korban dengan peralatan
darurat dan cara – cara yang sangat sederhana tetapi aman perlu diketahui oleh
setiap SRU, khususnya SRU yang bertugas didarat, dimana helikopter, ambulance
tidak mungkin mencapai lokasi tersebut.
IV.3.2.
Dropping
Disamping dilakukan baik untuk keperluan
korban maupun SRU, disamping ini berupa pengiriman peralatan pertolongan, obat
– obatan, makanan dan yang lain. Untuk obat – obatan dan makanan telah
dirancang cara pengedropan melalui udara dengan menggunakan helibox (kotak
khusus dengan desain sayap/ baling – baling dibagian atasnya, lihat contoh
dilapangan)
IV.3.3.
Pembagian
Tugas
Dengan dilakukannya penerahan korban
kepada instansi yang lebih berwenang di tempat penampungan maka selesai tugas
SRU. Berbeda tugas akhir, SMC akan melakukan debriefing kemudian pengembalian
unsur dan penyiagaan kembali dari SRU.
IV.3.4.
Evakuasi
IV.3.4.1.
Umum
Pelayanan medis teknis dilokasi musibah
( PPGD ) tidak akan banyak berarti bila tidak diketahui tindakan selanjutnya
yaitu cara memindahkan subyek (mengevakuasi subyek )
Hal – hal yang harus dilakukan bila kita
berhasil menemukan subyek adalah :
·
Memberikan sesegera mungkin pertolongan
pertama bila diperlukan.
·
Memberi keyakinan kepada subyek bahwa ia
akan selamat, karena telah berhasil ditemukan dan akan ditolong.
·
Melapor posko atau kepada base camp
tentang kondisi subyek dan lokasi ditemukannya.
·
Bila memungkinkan mencari/ memilih
lokasi untuk penempatan alat transportasi ( helikopter/ ambulance ).
·
Memilih lintasan bila harus dilakukan
evakuasi lewat darat.
·
Memperhatikan keadaan cuaca dan kondisi
medan.
Dalam melaksanakan pemindahan subyek
perlu diperhatikan kondisi subyek, yakni melakukan penilaian apakah korban
mungkin dipindahkan segera saat itu atau tidak, kaena setiap korban harus
diperbaiki dulu keadaan umumnya untuk dapat dievakuasi.
Pada dasarnya kondisi subyek dapat digolongkan menjadi tiga kategori :
·
Cidera, subyek membutuhkan pertolongan
karena kesulitan itu diluar kemampuannya untuk dapat mengatasinya sendiri.
·
Cidera ringan/ gangguan ringan yang
hanya membutuhkan sedikit bantuan.
·
Subyek telah meninggal dunia.
Sebagai tim penolong (rescue team )
biasanya bila dianggap perlu sejak dari base camp (posko) dilengkapi dengan
tandu. Persoalan pertama yang dihadapi adalah bagaimana caranya menempatkan
subyek diatas tandu dengan benar sehingga tidak menambah cidera artinya aman
dalam proses evakuasi. Persyaratan yang harus diperhatikan dalam memindahkan
subyek yang mengalami cidera/ musibah kealat transportasi yang akan digunakan
dalam evakuasi adalah sebagai berikut :
·
Keadaan subyek stabil
·
Jalan nafas dijamin terbuka
·
Memantau denyut nadi dan paru – paru.
·
Tidak boleh memindahkan subyek sebelum
diketahui secara pasti keadaanya.
IV.3.4.2.
Cara
Membawa Subyek
Setelah semua persiapan selesai dan siap untuk dievakuasi, kita perlu
memperhatikan beberapa hal :
1.
Peralatan pendukung
Dalam evakuasi, peralatan pendukung yang sering
dibutuhkan antara lain:
■
Tali ( kermantel atau sejenisnya )
■
Tandu ( jenis tandu tergantung medan )
■
Peralatan khusus lainnya ( pal medis atau
pal lainnya )
2.
Lintasan yang dilewati.
Seperti kita ketahui bahwa keadaan alam di Indonesia sangat bervariasi
yakni berhutan rapat, rawa, tebing lembah dan sungai. Untuk itu kita sebagai
insan SAR harus memepunyai pengetahuan dan keterampilan dalam melintas atau
mengevakuasi subyek pada segala jenis medan dengan aman, baik dan dirasakan
nyaman oleh subyek. Bila dalam mengevakuasi dapat dilakukan dijalan setapak dan
tidak terlalu terjal mungkin tidak terlalu banyak masalah yang dihadapi.
Apabila dalam evakuasi tersebut cukup banyak tim penolong ( rescue team 8 – 10 orang ) maka evakuasi dapat dilakukan
dengan cepat dan nyaman bagi subyek. Dalam situasi seperti ini beberapa anggota
tim diminta terlebih dahulu didepan tandu untuk merintis jalan, bila didalam
anggota tim terdapat anggota yang mempunyai kualifikasi ahli medis maka anggota
tersebut di tunjuk sebagai ketua rombongan.
IV.3.4.3.
Evakuasi
Di Medan Yang Sulit
Prinsip dalam mengevakuasi subyek di lam bebas adalah si subyek harus tetap
merasa aman dan nyaman sampai ketempat penampungan (base ). Umtuk itu kita
sebagi anggota tim penolong harus selalu mengingat prinsip diatas walau
menghadapi medan yang sulit seperti apapun. Medan yang dianggap sulit dalam
kegiatan evakuasi dan memerlukan teknik dan keterampilan khusus adalah medan –
medan seperti dibawah ini ;
a.
Medan dengan kemiringan 10 0
– 60 0.
b.
Lembah
c.
Sungai
d.
Tebing
e.
Daerah labil
KSMPA TITIK
NOL
JURUSAN TEKNIK
UNIVERSITAS
JENDERAL SOEDIRMAN
Sekretariat : Sekber Kampus
Blater, Purbalingga
Laporan Data Peristiwa SAR Darat
LAND SAR INSIDENT DATA REPORT
A. Formulir ini perlu diisi
bersamaan dengan Formulir “ Biodata Korban “ .
B. Harap mengisi secara lengkap,
jelas dan rapi.
1. Dilaporkan Oleh
2.1.
Nama (lengkap).................................... :........
2.2.
Panggilan ............................................. :
.......
2.3.
Tempat/Tgl lahir.................................. :
.......
2.4.
Alamat (lengkap)............................. :
Jl.........
RT/RW
: .......................................................................
Kelurahan
: .......................................................................
Kecamatan : .......................................................................
Kota :
.......................................................................
2.5.
Alamat lain yang mudah dihubungi :
2.6.
Tempat/Tgl/Jam laporan dibuat :
2.7.
Cara penyampaian laporan :
1. Wawancara langsung
2. Melalui orang kedua
3. ...........................................
2.8.
Tempat/Tgl/Jam laporan pertama kali disampaikan, dan kepada siapa?
.......................................................................................
2.9.
Tindakan pertama apa yang sedang dilakukan ?
2. Jelaskan bentuk/sifat musibah.
2.1.
Gawatnya musibah..................................... :
......................................................................
2.2.
Tempat musibah atau arah perjalanan orang/kelompok yang hilang
2.3.
Jumlah korban yang cedera/hilang :
Nama Korban Umur Kelamin Jenis Musibah
1. ............................. ....... ............... ................... ..............................
2. .............................. ............... ................... ..............................
3. .............................. ............... ................... ..............................
4. .............................. ................ ................... ..............................
2.4.
Apakah yang mendorong pelapor bahwa ia yakin suatu musibah (kecelakaan
/orang hilang) telah terjadi .............................
2.5.
Posisi terakhir, tanggal dan jam diketahui korban berada.
2.6.
Keadaan cuaca / medan sewaktu terjadi musibah.
2.7.
Makanan / minuman yang masih di ketahui di bawa korban.
.......................................................................................................
2.8.
Perlengkapan yang masih dibawa korban. .......
.......................................................................................................
2.9.
Kondisi fisik korban. .........................................
2.10.
Kondisi mental korban. ....................................
2.11.
Apakah korban kenal / berpengalaman menjelajah di daerah terjadinya
musibah ? bila ya, jelaskan daerah / rute mana saja yang pernah dilalui /
dikenal korban. ........................................................
2.12.
Apakah korban memiliki ketrampilan / pengalaman menjelajah, mendaki, survival,
dsb. Jelaskan ..........................................
2.13.
Sebutkan nama kota, kecamatan, kelurahan, desa yang terdekat dengan
musibah.
:.......................................................................................................
2.14.
Jelaskan cara termudah untuk dapat mencapai desa terdekat dengan musibah
serta kendaran jenis apa yang dapat mencapai desa tersebut.
2.15.
Jelaskan secara terperinci urutan terjadinya musibah / peristiwa, mulai
dari awal keberangkatan, terjadinya musibah (berpisah dengan korban) kepastian
terjadinya musibah, hingga melapor adanya musibah. Sebutkan pula waktu / jam
setiap tahap jalannya musibah / peristiwa. .....
.......................................................................................................
Pelapor
Dicatat
Oleh :
Nama : ...................................
Jabatan : ...................................
Alamat : ...................................
Klasifikasi laporan :
Asli / tangan kedua / ...............................................
Lampiran :
1. ................ halaman
2. Bio Data Korban
...................................................
BIO DATA KORBAN
( BDK )
A. Sebelum mewawancarai pemberi
keterangan, harap peringatan untuk memberi keterangan yang sebenarnya,
seadanya, tanpa menyembunyikan sesuatu.
B. Keterangan BDK diperoleh dari :
rekan seperjalanan korban, teman, keluarga, senior, guru dsb
C. BDK wajib dibaca / dimiliki oleh
SMC, OSC, dan SRU.
1. IDENTITAS KORBAN :
1.1. Nama lengkap : ..................................................................
1.2. Panggilan :
..................................................................
1.3. Jenis kelamin : ..................................................................
1.4. Tempat / tgl Lahir : ..................................................................
1.5. Agama : ..................................................................
1.6. Jumlah Saudara : ..................................................................
1.7. Anak ke : ..................................................................
1.8. Tempat Tinggal : ..................................................................
1.9. Golongan Darah : ..................................................................
1.10.
Alamat.......................................... :
Jl. / Gg
Kelurahan
:...................................................................
Kecamatan
:...................................................................
Kota : ..................................................................
1.11.
Nama Ayah............................................... :
Pekerjaan : ..................................................................
1.12.
Nama Ibu................................................... :
Pekerjaan
: ..................................................................
1.13.
Wali........................................................... :
Pekerjaan
Wali : ..................................................................
1.14.
Alamat Orang Tua / Wali : Jl. / Gg...........
1.15.
Kelurahan ................................................. :
Kecamatan
................................................................... :
Kota : ..................................................................
1.16.
Pekerjaan Korban .................................... :
Alamat
Kerja ................................................................... :
2. CIRI – CIRI PRIBADI KORBAN :
2.1. Berat / Tinggi : ........................... kg. /
........................ meter.
2.2. Kulit : ..................................................................
2.3. Rambut :
Warna : ..................................................................
Ciri : Lurus / Keriting /
Berombak / ...............
Mode : ..................................................................
2.4. Mata / Alis : ..................................................................
2.5. Ciri Khusus di Muka ................................................................ :
2.6. Ciri Khusus di Badan ............................................................... :
2.7. Lain – lain : ..................................................................
3. PENYAKIT / CACAT FISIK KORBAN
bila ada. (a.l kacamata, buta ayam, maag, asma, lever, malaria, gula, ayan,
penyakit ketinggian, bekas operasi dll.)
.............................................................................................................
4. SIFAT / KEPRIBADIAN KORBAN
1. Kemauan keras 5.
Tenang 9. Santai 13. Solider
2. Manja 6. Gugupan 10.
Pemarah 14. Egois
3. Sifat memimpin 7. Berani/nekad 11. Pendiam 15. Periang
4. Ikut-ikutan 8. Penakut 12. Cerewet 16. Serius
Lain-lain : ....................................................................................
........................................................................................
4.1. Sifat / Kelakuan korban
sebelum musibah : ..........................
5. PENGETAHUAN / KETRAMPILAN KORBAN
5.1. Apakah korban pernah mengikuti
pendidikan a.l : Pramuka, Pencinta Alam, Mendaki Gunung, Survival, SAR, Bila
iya, di mana dan kapan.
5.2. Apakah korban anggota/pernah
anggota club/Organisasi Pencinta Alam ?
6. PENGALAMAN KORBAN
6.1. Apakah korban sudah biasa
berkelana / mendaki ? : ..............
6.2. Pernah berkelana / mendaki kemana
saja ? dan kapan ? : ......
6.3. Apakah korban pernah berkelana /
mendaki disekitar daerah SAR ini ?
6.4. Bila Ya, kapan dan di daerah /
tempat mana saja ?..................
7. PERLENGKAPAN KORBAN ( keterangan
tentang pakaian/peralatan yang dibawa korban harap diperinci secara cermat
tentang : jenis, bentuk, ukuran, warna, merk, motif, logo/gambar, tulisan,
bahan dsb )
Biodata korban : halaman 3
7.1. Pakaian Atas .................... :
( kaos, kemeja, jaket, rompi dll. )
7.2. Pakaian Bawah : ( Jeans, celana panjang, celana
pendek, kulot dll )
7.3. Pakaian Hangat : ......................................................................
7.4. Pakaian dalam : ......................................................................
7.5. Pakaian Ganti : .......................................................................
7.6. Sepatu dan bentuk sol ............................................................... :
7.7. Kaos kaki :........................................................................
7.8. Ikat Pinggang :........................................................................
7.9. Sarung tangan :........................................................................
7.10.
Lain-lain ( kacamata, jam tangan, sapu tangan, syal, kacu, kalung,
anting-anting, cincin, lencana, kancing dsb. )
7.11.
Pisau ( golok, komando, lipat dsb ) :..
7.12.
Tempat minum / veld vless................. :
7.13.
Ponco / jas hujan................................. :
7.14.
Ransel / carrier..................................... :
7.15.
Tas, tas pinggang dsb.......................... :
7.16.
Senter, lentera, lilin............................. :
7.17.
Batu baterai dll......................................
7.18.
Topi / pet / baret dll............................. :
7.19.
Kompas/peta/altimeter........................ :
7.20.
Rokok/korek/pipa dll.......................... :
7.21.
Ballpoint/pinsil/buku dll.................... :
7.22.
Dompet ( apa saja isinya ? )................ :
7.23.
Sleeping bag/selimut/sarung............... :
7.24.
Tenda/Bivak......................................... :
7.25.
Kamera, film, teropong, kaset dll : .....
7.26.
Lain-lain ( PPPK, Sisir, Obat, Sikat gigi, Odol, Pembalut wanita dll ) :
......................................................................................................
7.27.
Peralatan makan/masak ( piring, sendok, mangkok, kompor, rantang dll ) :
..................................................................................................
7.28.
MAKANAN yang dibawa korban ( Diperinci jenis, merk, kemasan, jumlah)
................................................................ Penuntun
................................................................ Beras, gula, susu, kopi, roti, sup-
Ermi,
biscuit, kacang, madu, dll.
8. KETERANGAN TAMBAHAN ( a.l
Hubungan keluarga akhir-akhir ini, pertengkaran, percintaan, kegagalan, mimpi,
firasat dsb. )
PERHATIAN : Bila jawaban dianggap sensitif, maka
sebaiknya dicatat tersendiri di kertas lain dan diklasifikasi sebagai RAHASIA.
Hanya boleh dibaca oleh SMC, OSC, dan staf SMC. Hindari dari umum dan pers.
..................................................................................................................
..................................................................................................................
PERHATIAN :
1. Bila pencatatan Biodata korban
diterima dari beberapa pihak, catatlah pada kertas tersendiri mengikuti nomor
urut sesuai “Formulir BDK”
2. Bagi jawaban yang telah terjawab
dan dianggap memuaskan, lengkapi saja. Catatlah nomer urut ( pada Formulir BDK
) sebelum mencatat jawabannya.
3. Catat secara jelas identitas
“pemberi laporan” a.l bila rekan korban, bagaimana hubungannya, bila keluarga,
apakah hubungannya.
PENCATAT
LAPORAN PEMBERI LAPORAN
1. Nama : ................................. .....
2. Jabatan : ................................. .....
3. Alamat / : .................................
Telepon ................................. .....
4. Tempat / tgl / jam :...................................................................
Klasifikasi laporan
: Tangan pertama / kedua dsb...........
Lampiran.......................................................... : lembar
Lembar








Post a Comment