Take Nothing
But Picture
Leave Nothing But Foot print
Kill Nothing But Time
Break Nothing But Ego
DELAPAN PRINSIP BERKEGIATAN DI ALAM BEBAS (ORAB)
Dalam berkegiatan di alam bebas ada beberapa hal yang
harus kita pegang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan :
1. Rencanakan
dengan baik perjalanan yang akan dilakukan sehingga dapat menghindari
permasalahan sebelum timbul.
2. Jaga volume suara
seminimal mungkin, termasuk suara dari peralatan yang kita bawa.
3. Segala sesuatu yang kita
bawa harus kita bawa pulang.
4. Yang tidak bisa kita bawa
pulang harus dibuang secara baik.
5. Tinggalkan tanah seperti keadaan semula.
6. Usahakan untuk menggunakan tempat-tempat yang sudah
sering digunakan, misalnya tempat camp, tempat membuat api, tempat mengambil
air, tempat membuang hajat dan lain-lain.
7. Bila tidak ada tempat yang sudah sering
digunakan, usahakan akibat yang ditimbulkan seminimal mungkin.
8. Jangan
mempopulerkan tempat yang baru.
Delapan hal
tersebut di atas sepertinya susah sekali untuk dilaksanakan tetapi sebagai
wujud tanggung jawab sebagi orang yang berkegiatan di alam bebas kita harus
dapat menerapkannya dalam kegiatan kita.
MOUNTAINEERING
“Seorang pendaki adalah seorang yang mencari bebasnya
hidup di alam, menjadi penghuni mandiri di alam, menerima kewajiban serta hak
dan tuntutannya”
Pada 15 oktober 1982, UIAA
menyatakan beberapa prinsip yang juga terkandung dalam “Deklarasi Kathmandu”
mengenai kegiatan pendakian gunung yang isinya :
Tim Ekspedisi harus:
1. Menghormati
regulasi negara tuan rumah. Dalam artian sebelum memasuki negara lain, tim
ekspedisi telah mengetahui ketentuan dan peraturan pendakian dari negara tuan
rumah baik dari segi peralatan dan perlengkapan yang ditetapkan. Tim ekspedisi
harus menyiapkan segala aspek dan kebutuhan yang dibutuhkan dalam perjalanan.
2. Menjunjung
Deklarasi Kathmandu 1982
3. Menjaga
dan merawat sportivitas dengan semangat murni Alpinisme dengan menyatakan bahwa
tim ekspedisi akan:
·
Menggunakan logistik dan taktik yang
sejalan dengan evolusi modern pendakian Himalayan.
·
Menghindari penggunaan finansial dan
material secara berlebihan dari proporsi target.
·
Menolak menggunakan obat-obatan pemicu
stamina buatan, walaupun untuk mencapai kesuksesan.
4. Apapun
taktik dan strategi yang digunakan, selalu utamakan keselamatan, terutama
keselamatan para pengangkat barang (Sherpa) dan anggota tim dari negara tuan
rumah.
5. Memastikan
anggota ekspedisi dari negara tuan rumah memiliki peranan yang cukup dalam
aktivitas tekhnikal ekspedisi untuk memulai atau melanjutkan ekspedisi.
6. Setelah
ekspedisi selesai, berikan informasi mengenai perkembangan, masalah yang
dihadapi, hasil yang didapat dan informasi dokumenter dari ekspedisi secara
benar, objektif dan tepat.
7. Menghindari
pernyataan yang merubah atau melebih-lebihkan fakta yang ada dilapangan,
terutama untuk kebutuhan publisitas di artikel manapun, termasuk media.
8. Membuktikan
solidaritas dan kebersamaan, tidak hanya pada antar sesama tim saja, tapi juga
pada penduduk lokal dan tim ekspedisi lain yang membutuhkan bantuan.
9. Menjaga
dan menghormati perlengkapan dan peralatan tim ekspedisi lain dan menghindari
menggunakan peralatan tim lain tanpa seijin mereka.
10.
Pada akhirnya, dengan semangat Deklarasi
Kathmandu, turun gunung dengan selamat.
II.2.1.
Jenis Perjalanan
(Pendakian)
1.
Hill
Walking
2.
Scrambling
3.
Climbing
Pendakian yang memerlukan
teknik pendakian, peralatan teknis perlu untu pengaman.
Climbing ada dua macam :
1.
Rock climbing; pendakian pada tebing
batu
2.
Snow and Ice climbing; pendakian pada es dan
salju
4.
Mountaineering
Gabungan dari 1,
2 dan 3 di atas. Bisa memakan waktu berhari-hari bahkan bermingu-minggu,
seperti ekspedisi ke Himalaya.
II.2.2.
Klasifikasi Pendakian
Ada banyak macam klasifikasi dalam
pendakian, namun yang umum dan biasa dipakai pada Mountaineering berdasarkan
pada Sierra Club (hanya pada tingkat kesulitan medan yang dihadapi)
a. Class 1 : Berjalan Tegak, tidak diperlukan
perlengkapan khusus
b. Class 2 : Dibutuhkan perlengkapan kaki yang memadai
karena medan,
sedikit
bertambah sulit, tangan mulai digunakan sebagai pembantu.
c.
Class 3 : Medan
semakin curam sehingga diperlukan teknik pendakian
tertentu, tali
pengaman belum digunakan.
d. Class 4 : Kesulitan bertambah, dibutuhkan tali
pengamnan dan piton
untuk pengaman
(anchor).
e.
Class 5 : Rute yang
dilalui semakin sulit, tapi peraltan masih berfungsi
sebagai pengaman.
f.
Class 6 : Medan atau
tebing tidak lagi memberikan pegangan
pendakian sepenuhnya tergantung pada alat.
II.2.3.
Mount
Sickness
Mount sickness adalah penyakit-penyakit yang umum apabila kita berpergian
ke gunung. Contoh Mount Sickness yang sering terjadi adalah :
1.
Hypothermia
Hypotermia adalah menurunnya suhu tubuh secara drastis
Hypothermia dapat terjadi karena :
·
Bernafas
·
Penguapan dan keringat dari Paru-Paru
·
Kehujanan
·
Menyentuh Benda Dingin
·
Angin
Tanda – Tanda :
·
35º -
Semakin menggigil, denyut nadi dan tekanan darah mulai turun
·
35-33º - Pengambilan keputusan dan
pengendalian tubuh mulai kabur
·
32-26º - Berhenti menggigil, namun mulai
gelisah, sering meracau, ingatan setengah hilang, gerakan tersentak-sentak,
biji mata membesar
·
26-20º -
Otot kaku, denyut nadi melemah, tarikan nafas melemah
·
20-15º - Pingsan, biji mata tidak
merespon cahaya, kehilangan gerakan spontan
·
15-10º -
Koma gawat, suhu tubuh menurun dengan cepat
·
<10º - Meninggal
Penanganan Korban :
·
Korban jangan dibiarkan tidur
·
Beri minuman hangat dan manis
·
Ganti baju korban dengan yang hangat dan
kering
·
Beri pelindung agar tidak terkena hembusan
angin
·
Jangan baringkan korban di tanah
·
Masukkan korban ke Sleeping Bag
·
Masukkan botol penuh air hangat ke dalam
SB
Pencegahan : Lakukan Aklimitasasi terlebih dahulu
2.
Edema
Paru
Sepintas gejala-gejala edema paru
mirip dengan penyakit gunung yang akut (AMS; Acute Mountain Sickness).
Gejala-gejala tersebut adalah : Nafas terputus-putus (dada terasa terhimpit),
mual, tidak nafsu makan, batuk kering yang dilanjutkan dengan batuk berdahak,
dahak berdarah, denyut nadi sangat cepat (120 sampai 160 per menit), nafas
terdengar ribut (suara bergelembung dari dada), serta kuku, muka, dan bibir
kebiru-biruan). Segera turunkan penderita dari ketinggian. Bila penderita
kehilangan kesadaran disertai dengan gelembung busa putih atau merah jambu di
mulut atau hidung. Begitu gejala pertama muncul (pusing sekali dan batuk-batuk)
secepatnya lakukan evakuasi dengan membawa korban ketempat yang lebih rendah.
Sebelum melakukan pendakian sebaiknya
lakukan proses Aklimatisasi terlebih dahulu.
3.
Penyakit
yang disebabkan oleh Panas
Tubuh biasanya
dapat mempertahankan suhunya dalam cuaca panas maupun dingin dengan cara
berkeringat, bernafas, gemetar/menggigil dan menggeser aliran darah diantara
kulit dan organ dalam. Tetapi suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan
kelainan panas. Kedaruratan panas terdiri dari 3 keadaan (diurutkan berdasarkan
beratnya):
·
Heat cramps
·
Heat exhaustion
·
Heatstroke.
Jika tidak
segera diatasi, heat cramps bisa menyebabkan heat exhaustion, yang selanjutnya
bisa berkembang menjadi heatstroke.
Resiko terjadinya kelainan panas meningkat pada:
Resiko terjadinya kelainan panas meningkat pada:
·
Kelembaban yang tinggi (yang menyebabkan berkurangnya efek
pendinginan oleh keringat)
·
Pemakaian tenaga yang kuat dalam waktu lama (yang menyebabkan
bertambahnya panas yang dihasilkan oleh otot).
PENYEBAB
Penyebabnya bisa berupa:
Penyebabnya bisa berupa:
·
Suhu atau kelembaban yang tinggi
·
Dehidrasi (kehilangan cairan tubuh)
·
Olah raga yang berat atau lama
·
Pakaian yang bertumpuk-tumpuk
·
Pemakaian alkohol
·
Obat-obatan (misalnya diuretik, neuroleptik, fenotiazin dan
antikolinergik)
·
Penyakit jantung dan pembuluh darah
·
Kelainan fungsi kelenjar keringat.
GEJALA
Heat Cramps
Heat Cramps
Heat Cramps
(Kram Karena Panas) adalah kejang otot hebat akibat keringat berlebihan, yang
terjadi selama melakukan aktivitas pada cuaca yang sangat panas. Heat cramps
disebabkan oleh hilangnya banyak cairan dan garam (termasuk natrium, kalium dan
magnesium) akibat keringat yang berlebihan, yang sering terjadi ketika
melakukan aktivitas fisik yang berat. Heat cramps sering terjadi pada pekerja
manual, seperti pekerja di ruang mesin, pekerja pengolah baja dan pekerja
pertambangan. Heat cramps seringkali secara tiba-tiba mulai timbul di tangan,
betis atau kaki; terasa sangat nyeri. Otot menjadi keras, tegang dan sulit
untuk dikendurkan. Heat cramps bisa dicegah atau diobati dengan meminum minuman
atau memakan makanan yang mengandung garam.
Heat Exhaustion
Heat Exhaustion (Kelelahan Karena Panas) adalah suatu keadaan yang terjadi akibat terkena/terpapar panas selama berjam-jam, dimana hilangnya banyak cairan karena berkeringat menyebabkan kelelahan, tekanan darah rendah dan kadang pingsan.
Suhu yang
sangat panas bisa menyebabkan hilangnya banyak cairan melalui keringat,
terutama selama melakukan kerja fisik atau olah raga berat. Bersamaan dengan
cairan, garam (elektrolit) juga hilang sehingga terjadi gangguan
sirkulasi darah dan fungsi otak. Akibatnya terjadi heat exhaustion.
Gejala utama
adalah kelelahan, kelemahan dan kecemasan yang meningkat, serta badan basah
kuyup karena berkeringat.
Jika berdiri, penderita akan merasa pusing karena darah terkumpul di dalam pembuluh darah tungkai, yang melebar akibat panas.
Denyut jantung menjadi lambat dan lemah, kulit menjadi dingin, pucat dan lembab, penderita menjadi linglung. Hilangnya cairan menyebabkan berkurangnya volume darah, menurunnya tekanan darah dan bisa menyebabkan penderita pingsan.
Jika berdiri, penderita akan merasa pusing karena darah terkumpul di dalam pembuluh darah tungkai, yang melebar akibat panas.
Denyut jantung menjadi lambat dan lemah, kulit menjadi dingin, pucat dan lembab, penderita menjadi linglung. Hilangnya cairan menyebabkan berkurangnya volume darah, menurunnya tekanan darah dan bisa menyebabkan penderita pingsan.
Heatstroke
Heatstroke adalah suatu keadaan yang bisa berakibat fatal, yang terjadi akibat terpapar panas dalam waktu yang sangat lama, dimana penderita tidak dapat mengeluarkan keringat yang cukup untuk menurunkan suhu tubuhnya. Jika terjadi dehidrasi dan dan penderita tidak dapat mengeluarkan keringat yang cukup untuk mendinginkan tubuhnya, maka suhu tubuh bisa meningkat sampai pada tingkat yang berbahaya, sehingga terjadi heatstroke. Penyakit tertentu, misalnya skleroderma dan fibrosis kistik, menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk mengeluarkan keringat sehingga menyebabkan meningkatnya resiko heatstroke.
Heatstroke bisa terjadi begitu cepat dan tidak selalu didahului oleh tanda-tanda seperti sakit kepala, perasaan berputar (vertigo) maupun kelelahan.
Pembentukan keringat biasanya berkurang, tetapi tidak selalu. Kulit teraba panas, tampak merah dan biasanya kering. Denyut jantung meningkat dan bisa mencapai 160-180 kali/menit (normal 60-100 kali/menit).
Laju pernafasan juga biasanya meningkat, tetapi tekanan darah jarang berubah.
Suhu tubuh (sebaiknya diukur dengan termometer yang dimasukkan ke dalam rektum) meningkat sampai 40-41° Celsius, menyebabkan perasaan seperti terbakar. Penderita bisa mengalami disorientasi (bingung) dan bisa mengalami penurunan kesadaran atau kejang.
Jika tidak segera diobati, heatstroke bisa menyebabkan kerusakan yang permanen atau kematian. Suhu 41° Celsius adalah sangat serius, 1° diatasnya seringkali berakibat fatal. Kerusakan permanen pada organ dalam (misalnya otak) bisa segera terjadi dan sering berakhir dengan kematian.
DIAGNOSA
Biasanya diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya.
PENGOBATAN
Pengobatan yang utama adalah menggantikan cairan (rehidrasi dan garam yang hilang. Cairan dan garam yang hilang melalui keringat bisa digantikan dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang agak asin, misalnya jus tomat yang diberi garam atau kaldu daging yang dingin. Minuman yang diperjualbelikan juga ada yang mengandung ekstra garam (misalnya Gatorade). Jika memang harus melakukan kegiatan di dalam lingkungan yang panas,sebaiknya minum banyak cairan dan dinginkan kulit dengan membasahinya dengan air dingin. Jika korban sadar, berikan sedikit-sedikit minuman bergaram (dibuat dengan menambahkan 1 sendok teh garam ke dalam 0,9 L air). Berikan setengah cangkir setiap 15 menit. Jika tidak ada minuman bergaram, bisa diberikan air putih saja. Kadang cairan diberikan melalui infus. Akan lebih baik bila korban dipindahkan ke ruangan yang dingin dan dibaringkan mendatar atau dengan posisi kepala yang lebih rendah. Basahi kulit korban dengan pakaian basah atau langsung dengan air dan gunakan kipas angin untuk menurunkan suhu tubuhnya. Jangan gunakan obat gosok yang mengandung alkohol. Berikan kompres dingin pada leher, selangkangan dan ketiak korban. Untuk kram otot, berikan minuman bergaram dan pijat-pijat otot yang terkena secara lembut dan perlahan sampai mengendur. Setelah rehidrasi, korban seringkali segera pulih total. Jika setelah pengobatan tekanan darah tetap rendah dan denyut nadi tetap lambat selama lebih dari 1 jam, maka perlu dicurigai adanya kelainan yang lain. Heatstroke merupakan suatu keadaan gawat darurat dan harus segera dilakuan tindakan penyelamatan. Jika penderita tidak dapat segera dibawa ke rumah sakit, sebaiknya dibungkus dengan seprei atau pakaian dingin, rendam atau siram dengan air dingin atau dinginkan dengan es batu. Di rumah sakit, suhu tubuh dipantau terus menerus untuk menghindari pendinginan yang berlebihan. Penderita mungkin perlu mendapatkan obat-obatan untuk mengatasi kejang. Setelah mengalami heatstroke, dianjurkan untuk menjalani tirah baring selama beberapa hari. Suhu tubuh mungkin akan turun naik secara abnormal selama beberapa minggu.
PENCEGAHAN
· Hindari aktivitas berat di
dalam lingkungan yang sangat panas atau di dalam ruangan yang sirkulasinya
buruk
·
Dalam cuaca panas, gunakanlah pakaian yang longgar dan ringan
· Jika memungkinkan,
sering-seringlah beristirahat dan berlindung di tempat yang teduh
·
Hindari tempat yang panas
·
Minum air banyak-banyak
·
Hindari panas yang berlebihan jika:
ü sedang mengkonsumsi
obat-obatan yang menyebabkan terganggunya pengaturan suhu tubuh
ü anda seorang yang obes
ü anda berusia lanjut
·
Berolah
raga secara bertahap dan tingkatkan asupan air dan garam.
II.2.3.
SISTEM PENDAKIAN
1. Himalayan Style
Sistem dengan rute yang
panjang,biasanya pendaki terdiri dari beberapa kelompok,sistem ini dimana
dengan berhasilnya satu orang pendaki sampai puncak saja sudah di anggap
berhasil,biasanya digunakan untuk ekspedisi atau suatu misi, seperti penancapan
bendera merah putih di puncak himalaya,walau hanya satu orang yg berhasil
menancapkan
2. Alpine Syle
Sistem pendakian dianggap berhasil
apabila seluruh anggota mencapai puncak, seperti upaca 17 agustus di puncak.
II.2.4.
Tipe – Tipe Gunung Api :
1. Berdasarkan Bentuknya
Stratovolcano
Tersusun dari batuan hasil letusan
dengan tipe letusan berubah-ubah sehingga dapat menghasilkan susunan yang
berlapis-lapis dari beberapa jenis batuan, sehingga membentuk suatu kerucut
besar (raksasa), kadang-kadang bentuknya tidak beraturan, karena letusan
terjadi sudah beberapa ratus kali Gunung Merapi merupakan jenis ini.
Perisai
Tersusun dari batuan aliran lava yang
pada saat diendapkan masih cair, sehingga tidak sempat membentuk suatu kerucut
yang tinggi (curam), bentuknya akan berlereng landai, dan susunannya terdiri
dari batuan yang bersifat basaltik. Contoh bentuk gunung berapi ini terdapat di
kepulauan Hawai
Cinder Cone
Merupakan gunung berapi yang abu dan
pecahan kecil batuan vulkanik menyebar di sekeliling gunung. Sebagian besar
gunung jenis ini membentuk mangkuk di puncaknya. Jarang yang tingginya di atas
500 meter dari tanah di sekitarnya.
Kaldera
Gunung berapi jenis ini terbentuk
dari ledakan yang sangat kuat yang melempar ujung atas gunung sehingga
membentuk cekungan. Gunung Bromo merupakan jenis ini..
Gejala gunung api yang akan meletus
§
mata air menjadi panas
§
pohon – pohon menjadi layu
§
gempa – gempa setempat ( sekitar gunung
)
§
Binatang hutan menjauhi tempat tersebut.
Bahaya
pendakian gunung api/ yang masih aktif
§
menjelang puncak batuannya mudah
longsor.
§
Terdapat gas beracun, perlu menentukan
rute perjalanan dan menghindari tempat – tempat gas beracun
berkumpul
§
Bila tiba – tiba aktif maka akan keluar
lava, awan panas.
Foto010.jpg)
Foto013.jpg)
Post a Comment