xmlns:fb='http://ogp.me/ns/fb#' Pengetahuan Alam Indonesia I

Blogger

Alam untuk Indonesia

Social Bookmarking

Pengetahuan Alam Indonesia I

|| || || Leave a comments
ETIKA KEGIATAN ALAM BEBAS









Take Nothing But Picture

Leave Nothing But Foot print
Kill Nothing But Time
Break Nothing But Ego

DELAPAN PRINSIP BERKEGIATAN DI ALAM BEBAS (ORAB)

Dalam berkegiatan di alam bebas ada beberapa hal yang harus kita pegang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan :
1.  Rencanakan dengan baik perjalanan yang akan dilakukan sehingga dapat menghindari permasalahan sebelum timbul.
2.  Jaga volume suara seminimal mungkin, termasuk suara dari peralatan yang kita bawa.
3.  Segala sesuatu yang kita bawa harus kita bawa pulang.
4.  Yang tidak bisa kita bawa pulang harus dibuang secara baik.
5.  Tinggalkan tanah seperti keadaan semula.
6.  Usahakan untuk menggunakan tempat-tempat yang sudah sering digunakan, misalnya tempat camp, tempat membuat api, tempat mengambil air, tempat membuang hajat dan lain-lain.
7.  Bila tidak ada tempat yang sudah sering digunakan, usahakan akibat yang ditimbulkan seminimal mungkin.
8.  Jangan mempopulerkan tempat yang baru.

Delapan hal tersebut di atas sepertinya susah sekali untuk dilaksanakan tetapi sebagai wujud tanggung jawab sebagi orang yang berkegiatan di alam bebas kita harus dapat menerapkannya dalam kegiatan kita.


MOUNTAINEERING

“Seorang pendaki adalah seorang yang mencari bebasnya hidup di alam, menjadi penghuni mandiri di alam, menerima kewajiban serta hak dan tuntutannya”
Secara bahasa arti kata Mountaineering adalah teknik mendaki gunung. Ruang lingkup kegiatan Mountaineering sendiri meliputi kegiatan sebagai berikut :
Kode Etik Mountaineering

Pada 15 oktober 1982, UIAA menyatakan beberapa prinsip yang juga terkandung dalam “Deklarasi Kathmandu” mengenai kegiatan pendakian gunung yang isinya :
Tim Ekspedisi harus:
1.     Menghormati regulasi negara tuan rumah. Dalam artian sebelum memasuki negara lain, tim ekspedisi telah mengetahui ketentuan dan peraturan pendakian dari negara tuan rumah baik dari segi peralatan dan perlengkapan yang ditetapkan. Tim ekspedisi harus menyiapkan segala aspek dan kebutuhan yang dibutuhkan dalam perjalanan.
2.     Menjunjung Deklarasi Kathmandu 1982
3.     Menjaga dan merawat sportivitas dengan semangat murni Alpinisme dengan menyatakan bahwa tim ekspedisi akan:

·        Menggunakan logistik dan taktik yang sejalan dengan evolusi modern pendakian Himalayan.
·        Menghindari penggunaan finansial dan material secara berlebihan dari proporsi target.
·        Menolak menggunakan obat-obatan pemicu stamina buatan, walaupun untuk mencapai kesuksesan.

4.     Apapun taktik dan strategi yang digunakan, selalu utamakan keselamatan, terutama keselamatan para pengangkat barang (Sherpa) dan anggota tim dari negara tuan rumah.
5.     Memastikan anggota ekspedisi dari negara tuan rumah memiliki peranan yang cukup dalam aktivitas tekhnikal ekspedisi untuk memulai atau melanjutkan ekspedisi.
6.     Setelah ekspedisi selesai, berikan informasi mengenai perkembangan, masalah yang dihadapi, hasil yang didapat dan informasi dokumenter dari ekspedisi secara benar, objektif dan tepat.
7.     Menghindari pernyataan yang merubah atau melebih-lebihkan fakta yang ada dilapangan, terutama untuk kebutuhan publisitas di artikel manapun, termasuk media.
8.     Membuktikan solidaritas dan kebersamaan, tidak hanya pada antar sesama tim saja, tapi juga pada penduduk lokal dan tim ekspedisi lain yang membutuhkan bantuan.
9.     Menjaga dan menghormati perlengkapan dan peralatan tim ekspedisi lain dan menghindari menggunakan peralatan tim lain tanpa seijin mereka.
10.                        Pada akhirnya, dengan semangat Deklarasi Kathmandu, turun gunung dengan selamat.


II.2.1.                        Jenis Perjalanan (Pendakian)
1.          Hill Walking
Hill walking atau yang lebih dikenal sebagai hiking adalah sebuah kegiatan mendaki daerah perbukitan atau menjelajah kawasan bukit yang biasanya tidak terlalu tinggi dengan derajat kemiringan rata-rata di bawah 45 derajat. Dalam hiking tidak dibutuhkan alat bantu khusus, hanya mengandalkan kedua kaki sebagai media utamanya. Tangan digunakan sesekali untuk memegang tongkat jelajah (di kepramukaan dikenal dengan nama stock atau tongkat pandu) sebagai alat bantu. Jadi hiking ini lebih simpel dan mudah untuk dilakukan.
2.          Scrambling
Dalam pelaksanaannya, scrambling merupakan kegiatan mendaki gunung ke wilayah-wilayah dataran tinggi pegunungan (yang lebih tinggi dari bukit) yang kemiringannya lebih ekstrim (kira-kira di atas 45 derajat). Kalau dalam hiking kaki sebagai ‘alat’ utama maka untuk scrambling selain kaki, tangan sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang atau membantu gerakan mendaki. Karena derajat kemiringan dataran yang lumayan ekstrim, keseimbangan pendaki perlu dijaga dengan gerakan tangan yang mencari pegangan. Dalam scrambling, tali sebagai alat bantu mulai dibutuhkan untuk menjamin pergerakan naik dan keseimbangan tubuh.
3.          Climbing
Pendakian yang memerlukan teknik pendakian, peralatan teknis perlu untu pengaman.
Climbing ada dua macam :
1.            Rock climbing; pendakian pada tebing batu
2.            Snow and Ice climbing; pendakian pada es dan salju
4.            Mountaineering
Gabungan dari 1, 2 dan 3 di atas. Bisa memakan waktu berhari-hari bahkan bermingu-minggu, seperti ekspedisi ke Himalaya.

II.2.2.                        Klasifikasi Pendakian
Ada banyak macam klasifikasi dalam pendakian, namun yang umum dan biasa dipakai pada Mountaineering berdasarkan pada Sierra Club (hanya pada tingkat kesulitan medan yang dihadapi)
a.     Class 1   : Berjalan Tegak, tidak diperlukan perlengkapan khusus
b.     Class 2   : Dibutuhkan perlengkapan kaki yang memadai karena medan,
sedikit bertambah sulit, tangan mulai digunakan sebagai pembantu.

c.      Class 3   : Medan semakin curam sehingga diperlukan teknik pendakian
tertentu, tali pengaman belum digunakan.
d.     Class 4   : Kesulitan bertambah, dibutuhkan tali pengamnan dan piton
untuk pengaman (anchor).
e.      Class 5   : Rute yang dilalui semakin sulit, tapi peraltan masih berfungsi
sebagai pengaman.
f.       Class 6   : Medan atau tebing tidak lagi memberikan pegangan
 pendakian sepenuhnya tergantung pada alat.


II.2.3.                        Mount Sickness
Mount sickness adalah penyakit-penyakit yang umum apabila kita berpergian ke gunung. Contoh Mount Sickness yang sering terjadi adalah :
1.          Hypothermia
Hypotermia adalah menurunnya suhu tubuh secara drastis
Hypothermia dapat terjadi karena :
·        Bernafas
·        Penguapan dan keringat dari Paru-Paru
·        Kehujanan
·        Menyentuh Benda Dingin
·        Angin
Tanda – Tanda :
·        35º -    Semakin menggigil, denyut nadi dan tekanan darah mulai turun
·        35-33º - Pengambilan keputusan dan pengendalian tubuh mulai   kabur
·        32-26º - Berhenti menggigil, namun mulai gelisah, sering meracau, ingatan setengah hilang, gerakan tersentak-sentak, biji mata membesar
·        26-20º -  Otot kaku, denyut nadi melemah, tarikan nafas melemah
·        20-15º - Pingsan, biji mata tidak merespon cahaya, kehilangan gerakan spontan
·        15-10º -  Koma gawat, suhu tubuh menurun dengan cepat
·        <10º -     Meninggal

Penanganan Korban :
·              Korban jangan dibiarkan tidur
·              Beri minuman hangat dan manis
·              Ganti baju korban dengan yang hangat dan kering
·              Beri pelindung agar tidak terkena hembusan angin
·              Jangan baringkan korban di tanah
·              Masukkan korban ke Sleeping Bag
·              Masukkan botol penuh air hangat ke dalam SB

Pencegahan : Lakukan Aklimitasasi terlebih dahulu
2.          Edema Paru
Sepintas gejala-gejala edema paru mirip dengan penyakit gunung yang akut (AMS; Acute Mountain Sickness). Gejala-gejala tersebut adalah : Nafas terputus-putus (dada terasa terhimpit), mual, tidak nafsu makan, batuk kering yang dilanjutkan dengan batuk berdahak, dahak berdarah, denyut nadi sangat cepat (120 sampai 160 per menit), nafas terdengar ribut (suara bergelembung dari dada), serta kuku, muka, dan bibir kebiru-biruan). Segera turunkan penderita dari ketinggian. Bila penderita kehilangan kesadaran disertai dengan gelembung busa putih atau merah jambu di mulut atau hidung. Begitu gejala pertama muncul (pusing sekali dan batuk-batuk) secepatnya lakukan evakuasi dengan membawa korban ketempat yang lebih rendah.
Sebelum melakukan pendakian sebaiknya lakukan proses Aklimatisasi terlebih dahulu.
3.          Penyakit yang disebabkan oleh Panas
Tubuh biasanya dapat mempertahankan suhunya dalam cuaca panas maupun dingin dengan cara berkeringat, bernafas, gemetar/menggigil dan menggeser aliran darah diantara kulit dan organ dalam. Tetapi suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kelainan panas. Kedaruratan panas terdiri dari 3 keadaan (diurutkan berdasarkan beratnya):

·        Heat cramps
·        Heat exhaustion
·        Heatstroke.

Jika tidak segera diatasi, heat cramps bisa menyebabkan heat exhaustion, yang selanjutnya bisa berkembang menjadi heatstroke.

Resiko terjadinya kelainan panas meningkat pada:
·        Kelembaban yang tinggi (yang menyebabkan berkurangnya efek pendinginan oleh keringat)
·        Pemakaian tenaga yang kuat dalam waktu lama (yang menyebabkan bertambahnya panas yang dihasilkan oleh otot).

PENYEBAB
Penyebabnya bisa berupa:
·        Suhu atau kelembaban yang tinggi
·        Dehidrasi (kehilangan cairan tubuh)
·        Olah raga yang berat atau lama
·        Pakaian yang bertumpuk-tumpuk
·        Pemakaian alkohol
·        Obat-obatan (misalnya diuretik, neuroleptik, fenotiazin dan antikolinergik)
·        Penyakit jantung dan pembuluh darah
·        Kelainan fungsi kelenjar keringat.

GEJALA
Heat Cramps
Heat Cramps (Kram Karena Panas) adalah kejang otot hebat akibat keringat berlebihan, yang terjadi selama melakukan aktivitas pada cuaca yang sangat panas. Heat cramps disebabkan oleh hilangnya banyak cairan dan garam (termasuk natrium, kalium dan magnesium) akibat keringat yang berlebihan, yang sering terjadi ketika melakukan aktivitas fisik yang berat. Heat cramps sering terjadi pada pekerja manual, seperti pekerja di ruang mesin, pekerja pengolah baja dan pekerja pertambangan. Heat cramps seringkali secara tiba-tiba mulai timbul di tangan, betis atau kaki; terasa sangat nyeri. Otot menjadi keras, tegang dan sulit untuk dikendurkan. Heat cramps bisa dicegah atau diobati dengan meminum minuman atau memakan makanan yang mengandung garam.

Heat Exhaustion

Heat Exhaustion (Kelelahan Karena Panas) adalah suatu keadaan yang terjadi akibat terkena/terpapar panas selama berjam-jam, dimana hilangnya banyak cairan karena berkeringat menyebabkan kelelahan, tekanan darah rendah dan kadang pingsan.
Suhu yang sangat panas bisa menyebabkan hilangnya banyak cairan melalui keringat, terutama selama melakukan kerja fisik atau olah raga berat. Bersamaan dengan cairan, garam (elektrolit) juga hilang sehingga terjadi gangguan sirkulasi darah dan fungsi otak. Akibatnya terjadi heat exhaustion.
Gejala utama adalah kelelahan, kelemahan dan kecemasan yang meningkat, serta badan basah kuyup karena berkeringat.
Jika berdiri, penderita akan merasa pusing karena darah terkumpul di dalam pembuluh darah tungkai, yang melebar akibat panas.
Denyut jantung menjadi lambat dan lemah, kulit menjadi dingin, pucat dan lembab, penderita menjadi linglung. Hilangnya cairan menyebabkan berkurangnya volume darah, menurunnya tekanan darah dan bisa menyebabkan penderita pingsan.


Heatstroke

Heatstroke adalah suatu keadaan yang bisa berakibat fatal, yang terjadi akibat terpapar panas dalam waktu yang sangat lama, dimana penderita tidak dapat mengeluarkan keringat yang cukup untuk menurunkan suhu tubuhnya. Jika terjadi dehidrasi dan dan penderita tidak dapat mengeluarkan keringat yang cukup untuk mendinginkan tubuhnya, maka suhu tubuh bisa meningkat sampai pada tingkat yang berbahaya, sehingga terjadi heatstroke. Penyakit tertentu, misalnya skleroderma dan fibrosis kistik, menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk mengeluarkan keringat sehingga menyebabkan meningkatnya resiko heatstroke.
Heatstroke bisa terjadi begitu cepat dan tidak selalu didahului oleh tanda-tanda seperti sakit kepala, perasaan berputar (vertigo) maupun kelelahan.
Pembentukan keringat biasanya berkurang, tetapi tidak selalu. Kulit teraba panas, tampak merah dan biasanya kering. Denyut jantung meningkat dan bisa mencapai 160-180 kali/menit (normal 60-100 kali/menit).
Laju pernafasan juga biasanya meningkat, tetapi tekanan darah jarang berubah.
Suhu tubuh (sebaiknya diukur dengan termometer yang dimasukkan ke dalam rektum) meningkat sampai 40-41° Celsius, menyebabkan perasaan seperti terbakar. Penderita bisa mengalami disorientasi (bingung) dan bisa mengalami penurunan kesadaran atau kejang.
Jika tidak segera diobati, heatstroke bisa menyebabkan kerusakan yang permanen atau kematian. Suhu 41° Celsius adalah sangat serius, 1° diatasnya seringkali berakibat fatal. Kerusakan permanen pada organ dalam (misalnya otak) bisa segera terjadi dan sering berakhir dengan kematian.

DIAGNOSA
Biasanya diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya.

PENGOBATAN
Pengobatan yang utama adalah menggantikan cairan (rehidrasi dan garam yang hilang. Cairan dan garam yang hilang melalui keringat bisa digantikan dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang agak asin, misalnya jus tomat yang diberi garam atau kaldu daging yang dingin. Minuman yang diperjualbelikan juga ada yang mengandung ekstra garam (misalnya Gatorade). Jika memang harus melakukan kegiatan di dalam lingkungan yang panas,sebaiknya minum banyak cairan dan dinginkan kulit dengan membasahinya dengan air dingin. Jika korban sadar, berikan sedikit-sedikit minuman bergaram (dibuat dengan menambahkan 1 sendok teh garam ke dalam 0,9 L air). Berikan setengah cangkir setiap 15 menit. Jika tidak ada minuman bergaram, bisa diberikan air putih saja. Kadang cairan diberikan melalui infus. Akan lebih baik bila korban dipindahkan ke ruangan yang dingin dan dibaringkan mendatar atau dengan posisi kepala yang lebih rendah. Basahi kulit korban dengan pakaian basah atau langsung dengan air dan gunakan kipas angin untuk menurunkan suhu tubuhnya. Jangan gunakan obat gosok yang mengandung alkohol. Berikan kompres dingin pada leher, selangkangan dan ketiak korban. Untuk kram otot, berikan minuman bergaram dan pijat-pijat otot yang terkena secara lembut dan perlahan sampai mengendur. Setelah rehidrasi, korban seringkali segera pulih total. Jika setelah pengobatan tekanan darah tetap rendah dan denyut nadi tetap lambat selama lebih dari 1 jam, maka perlu dicurigai adanya kelainan yang lain. Heatstroke merupakan suatu keadaan gawat darurat dan harus segera dilakuan tindakan penyelamatan. Jika penderita tidak dapat segera dibawa ke rumah sakit, sebaiknya dibungkus dengan seprei atau pakaian dingin, rendam atau siram dengan air dingin atau dinginkan dengan es batu. Di rumah sakit, suhu tubuh dipantau terus menerus untuk menghindari pendinginan yang berlebihan. Penderita mungkin perlu mendapatkan obat-obatan untuk mengatasi kejang. Setelah mengalami heatstroke, dianjurkan untuk menjalani tirah baring selama beberapa hari. Suhu tubuh mungkin akan turun naik secara abnormal selama beberapa minggu.


PENCEGAHAN
·     Hindari aktivitas berat di dalam lingkungan yang sangat panas atau di dalam ruangan yang sirkulasinya buruk
·                    Dalam cuaca panas, gunakanlah pakaian yang longgar dan ringan
·     Jika memungkinkan, sering-seringlah beristirahat dan berlindung di tempat yang teduh
·                    Hindari tempat yang panas
·                    Minum air banyak-banyak
·                    Hindari panas yang berlebihan jika:
ü sedang mengkonsumsi obat-obatan yang menyebabkan terganggunya pengaturan suhu tubuh
ü anda seorang yang obes
ü anda berusia lanjut
·                    Berolah raga secara bertahap dan tingkatkan asupan air dan garam.

II.2.3.                        SISTEM PENDAKIAN
1.     Himalayan Style
Sistem dengan rute yang panjang,biasanya pendaki terdiri dari beberapa kelompok,sistem ini dimana dengan berhasilnya satu orang pendaki sampai puncak saja sudah di anggap berhasil,biasanya digunakan untuk ekspedisi atau suatu misi, seperti penancapan bendera merah putih di puncak himalaya,walau hanya satu orang yg berhasil menancapkan

2.     Alpine Syle
Sistem pendakian dianggap berhasil apabila seluruh anggota mencapai puncak, seperti upaca 17 agustus di puncak.




II.2.4.                        Tipe – Tipe Gunung Api :

1.     Berdasarkan Bentuknya
Stratovolcano
Tersusun dari batuan hasil letusan dengan tipe letusan berubah-ubah sehingga dapat menghasilkan susunan yang berlapis-lapis dari beberapa jenis batuan, sehingga membentuk suatu kerucut besar (raksasa), kadang-kadang bentuknya tidak beraturan, karena letusan terjadi sudah beberapa ratus kali Gunung Merapi  merupakan jenis ini.

Perisai
Tersusun dari batuan aliran lava yang pada saat diendapkan masih cair, sehingga tidak sempat membentuk suatu kerucut yang tinggi (curam), bentuknya akan berlereng landai, dan susunannya terdiri dari batuan yang bersifat basaltik. Contoh bentuk gunung berapi ini terdapat di kepulauan Hawai

Cinder Cone
Merupakan gunung berapi yang abu dan pecahan kecil batuan vulkanik menyebar di sekeliling gunung. Sebagian besar gunung jenis ini membentuk mangkuk di puncaknya. Jarang yang tingginya di atas 500 meter dari tanah di sekitarnya.

Kaldera
Gunung berapi jenis ini terbentuk dari ledakan yang sangat kuat yang melempar ujung atas gunung sehingga membentuk cekungan. Gunung Bromo merupakan jenis ini..

Gejala gunung api yang akan meletus

§   mata air menjadi panas
§   pohon – pohon menjadi layu
§   gempa – gempa setempat ( sekitar gunung )
§   Binatang hutan menjauhi tempat tersebut.
Bahaya pendakian  gunung api/ yang masih aktif
§   menjelang puncak batuannya mudah longsor.
§   Terdapat gas beracun, perlu menentukan rute perjalanan dan menghindari      tempat – tempat gas beracun berkumpul
§   Bila tiba – tiba aktif maka akan keluar lava, awan panas.


/[ 0 comments Untuk Artikel Pengetahuan Alam Indonesia I]\

Post a Comment