xmlns:fb='http://ogp.me/ns/fb#' Larangan Meminta Bantuan Kepada Arwah Rasul, Wali Atau Tokoh Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/spirituality/2416134-larangan-meminta-bantuan-kepada-arwah/#ixzz2ze37X0MW

Blogger

Alam untuk Indonesia

Social Bookmarking

Larangan Meminta Bantuan Kepada Arwah Rasul, Wali Atau Tokoh Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/spirituality/2416134-larangan-meminta-bantuan-kepada-arwah/#ixzz2ze37X0MW

|| || || Leave a comments
Meminta bantuan kepada arwah Rasul, wali atau tokoh-tokoh, ini bukan hanya menjadi kebiasaan dan keyakinan yang membudaya, tetapi bahkan dihidup-hidupkan sebagai kesenian budaya. Sehingga kegiatan itu betul-betul menyatu dan mendarah daging dalam jiwa dan keyakinan sebagian besar masyarakat. Dapat disaksikan dibanyak tempat adanya upacara-upacara serta kesenian-kesenian ritual yang berisi kegiatan syaithani ini. Bahkan dalam nyanyian-nyanyian dan senandungnya sering terdengar ungkapanungkapan seperti: "Al-madad, al-madad ya Rasul". Artinya: "Bantuan, bantuan wahai Rasul." Maksudnya meminta bantuan kepada Rasul yang telah wafat. Tentu ini adalah syirik akbar. Dan peringatan-peringatan maulid Nabi merupakan media yang subur untuk kegiatan-kegiatan semacam ini. Pujian-pujian kepada nabi yang disenandungkan sarat dengan isi kemusyrikan, misalnya: Wahai lmam para Rasul, wahai sandaranku, Engkau adalah pintu Allah dan gantunganku Begitu pula bait-bait sesudahnya yang berisi pujian berlebihan hingga mendudukan Rasulullah seperti Tuhan. Subhanallah `amma Yusyrikun. Kadang ada pula masyarakat yang datang ke kuburan tokoh, lalu katanya dapat berdialog dengan arwah tekoh tersebut untuk meminta bantuan. Padahal yang bersuara adalah jin (setan) dengan memyerupai suara tokoh dimaksud agar manusia terperosok dalam kekafiran. Sebenarnya dalam rangka melakukan ziarah kubur kepada para wali itu sah-sah saja asal niatnya tidak menjerumuskan dalam kemusyrikan. Bertawasullah untuk berdo’a kepada Allah di tempat yang dekat dengan Tuhan. Orang harus merasa takut terjerumus dalam kemusyrikan. Sebab orang terkadang menganggap baik terhadap sesuatu dan menyangka sebagai taqarrub kepada Allah, padahal sesuatu itu justru merupakan hal yang paling menjauhkan seseorang dari rahmat Allah, dan paling potensial mendatangkan murka Allah. Berdasarkan kisah di atas, juga dapat diambil kesimpulan bahwa istilah atau sebutan tidak membatasi hakikat suatu masalah. Sekalipun sekarang sebutan Dzatu anwath (sesuatu yang memiliki keramat) tidak dipakai misalnya, tetapi ternyata hakikat permasalahanya sama, maka tetap saja merupakan kemusyrikan. Orang yang musyrik tetap musyrik walaupun ia menamakan kemusyrikannya sebagai amalan wirid. Meminta-minta kepada orang mati, menyembelih untuk orang mati, bernadzar untuk orang mati dan sebagainya tetap syirik sekalipun kegiatan-kegiatan itu diistilahkan sebagai penghormatan atau sebagai ungkapan rasa cinta kepada nabi yang telah mati. Rasulullah murka dan menganggap permintaan shahabat akan Dzatu anwath, sama dengan permintaan Bani Israil kepada Musa akan berhala. Jadi jelas yang menjadikan ukuran bukan istilahnya, tetapi hakikatnya. Begitulah, hendaknya contoh-contoh tentang kemusyrikan di alas menjadi bahan kajian, bahwa bukan hanya itu saja bentuk kemusyrikan, tetapi bisa berkembang dalam berbagai bentuk lain. Yang jelas umat Islam harus berhati-hati dan berupaya keras untuk kembali mempelajari agamanya secara benar kemudian mengamalkannya secara benar supaya selamat dunia dan akhiratnya. Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/spirituality/2416134-larangan-meminta-bantuan-kepada-arwah/#ixzz2ze321eFX