xmlns:fb='http://ogp.me/ns/fb#' Ada Hikmah Di Balik Musibah

Blogger

Alam untuk Indonesia

Social Bookmarking

Ada Hikmah Di Balik Musibah

|| || || Leave a comments
Ada Hikmah Di Balik Musibah Musibah emang bisa bikin susah. Tapi jangan keterusan bikin hati gundah. Karena ternyata Allah SWT menyiapkan hikmah di baliknya. So, don’t worry and be happy. Kalau bisa memilih, tidak ada remaja yang bersedia menerima bencana. Mana ada rumahnya mau diacak-acak gelombang tsunami (tragedy Aceh 2004), mobilnya digulung tornado (Benua Eropa), atau orang-orang terkasihnya ditelan gempa tektonik apalagi kejadian Gunung Meletus. Itu semua bencana diluar kendali manusia yang mau tidak mau harus menerima untuk bisa memperbaiki keselamatan. Manusia itu tipikalnya memang senang sekali dengan yang namanya happyness. Pengennya berhura kesenangan untuk melampiaskan keadaan yang tidak sesuai hati. Jadi mahluk yang namanya musibah baru ditengok manusia ketika terpanggil. Disaat bencana itu muncul keberadaannya, semua berbondong-bondong mencari perlindungan untuk menyelamatkan jiwa dan raganya agar kelak bisa melakukan kesenangan lagi. Itupun terulang beberapa kali di daerah yang dihuni beda budaya ini. Tak heran jika waktunya ingat untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Tapi gimana bisa kita milih? Tahu-tahu gelombang tsunami sudah ada di depan mata. Atau gimana bisa nyelametin rumah kita kalau dalam sekejap mata tanah sudah belah karena hentakan gempa tektonik. Hidup itu terkadang memang nggak bisa memilih, semuanya sudah takdir yang tidak bisa dirubah. Inilah Ujian hidup ….. Hidup ini ternyata ada siklusnya; ada siang ada malam, ada mentari ada rembulan, dan ada tawa ada duka. Allah Swt. nggak hanya memberikan kesenangan hidup buat umat manusia, tapi juga menganugerahkan sesuatu yang bisa bikin manusia terhenyak lalu bercucuran air mata duka. Itu semua kata orang-orang alim dan soleh adalah sunnatullah. Sesuatu yang memang sudah ditakdirkan oleh Allah sebagai bagian kehidupan yang sudah pasti menimpa manusia. Misalnya, ada kelahiran ada juga kematian. Ketika ada bayi yang lahir, orangtuanya pasti bersorak gembira. Tapi ketika orang yang dikasihi meninggal, pastinya bersedih. Dan ternyata itu terjadi setiap saat dalam kehidupan kita. Nggak ada orang yang bisa menolak kelahiran dan kematian. Semua sudah ditakdirkan oleh Allah Swt. FirmanNya: “Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.”(QS Maryam [19]: 35) Tapi apa iya Allah SWT tega melihat mahlukNya menderita? Pasti tidak, tapi Allah SWT memang selalu memberikan yang namanya ujian hidup buat manusia yang beriman. Kalo ada manusia yang beriman, maka Allah SWT ingin tahu seperti apa keimanannya; seberapa besar itu, beneran atau palsu? Tinggi atau rendah? Allah Swt. berfirman: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS al-’Ankabuut [29]: 2) Ujian yang berupa musibah itu macam-macam bentuknya; mulai dari yang kecil sampai yang besar, seperti yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai daerah. Termasuk serangan si biadab Israel ke Palestina dan Libanon adalah ujian dari Allah untuk umatNya. Rasulullah saw. bersabda: “Tiada seorang muslim yang menderita kelelahan atau penyakit atau kesusahan hati, bahkan gangguan yang berupa duri melainkan semua kejadian itu akan berupa penebus dosa.” (HR Bukhari, Muslim) Tapi tidak semua orang tahan menghadapi ujian atau musibah, lalu bagaimana? Jangan khawatir. Semua ujian itu ternyata sudah diatur oleh Allah agar sesuai dengan kekuatan iman masing-masing. Allah menjelaskan dalam ayatNya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS al-Baqarah [2]: 286) Nabi saw. bersabda: “Ujian yang paling berat adalah bagi para nabi, kemudian berikutnya dan berikutnya, seseorang diuji (oleh Allah) sesuai kadar agamanya. Maka tidaklah musibah menimpa seseorang sehingga ia berjalan di atas bumi dan tidak ada dosa padanya.” (HR Bukhari) Pelajaran empati Orang-orang yang soleh juga mengatakan kalau hal seperti itu adalah cara cerdas dari Allah SWT untuk bikin manusia menikmati hidup. Maksudnya, kalau kita nggak pernah ngalamin yang namanya musibah, kita nggak bakal tahu cara bersyukur nikmat. Contohnya, kalau kita nggak pernah sakit gigi, kita mungkin suka lupa betapa nikmatnya punya gigi sehat yang bisa ngunyah makanan kesukaan kita. Jika benar lupa bahkan sengaja tidak gosok gigi jangan salahkan jika gigi tersebut akan berkarang dan rusak. Allah SWT telah menciptakan manusia dengan seutuh-utuhnya, dan seharusnya sebagai manusia yang hanya bisa menerima jadi setidaknya bisa merawat dan menjaga kesehatannya. Selain itu, dengan adanya bencana yang menimpa manusia, kita diajarkan untuk bisa berempati pada penderitaan orang lain. Turut merasakan derita orang lain, karena kita juga pernah mengalami penderitaan yang serupa. Mereka yang hidupnya selalu hedonis, selalu mikirin dan nyari kesenangan ragawi, rada susah diajak untuk berempati. Pasalnya, hidup abis untuk ngedugem en having fun. Dalam buku Kebun Hikmah, dikisahkan ada seorang wanita salehah yang gemar bersedekah. Tapi kebiasaannya itu justru ditentang oleh keluarganya. Sampai suatu ketika keluarganya memutuskan untuk tidak memberinya nafkah. Tujuannya memberi pelajaran supaya dia menghargai harta dan tidak banyak bersedekah. Akhirnya ia pun jatuh fakir. Melihat saudaranya menderita, keluarganya menjadi iba. Akhirnya mereka memberinya lagi nafkah berupa shirmah (unta berjumlah sekitar 20-30 ekor). Suatu ketika datang seorang pengemis yang mengiba-iba. Wanita itu langsung saja memberinya seluruh unta yang diberikan keluarganya karena ia pernah merasakan derita sebagai orang fakir. Subhanallah! Jadi di balik bencana – sekecil apapun itu – Allah ingin memberikan pesan yang indah; Mensyukuri nikmat yang ada dan berempati pada penderitaan orang lain.
/[ 0 comments Untuk Artikel Ada Hikmah Di Balik Musibah]\

Post a Comment