xmlns:fb='http://ogp.me/ns/fb#' Sejarah Reformasi

Blogger

Alam untuk Indonesia

Social Bookmarking

Sejarah Reformasi

|| || || Leave a comments
Di zaman reformasi ini, agama saja di reformasi orang (pemurnian-tajdid), kenapa kita tidak memurnikan sejarah. Kenapa kita harus mempertahankan dan mendukung “ajaran sesat” sejarah yang sudah jelas kebohongan, penipuannya dan menyesatkan itu. Kenapa kita masih mau diperbodoh oleh sejarah tanpa rasa kritis sedikitpun. Kenapa kita tidak melihat solusi lain yang juga sah, legal, halal dan terbukti mensejahterakan rakyat dinegara-negara lain seperti otonomi khusus, federal, kemerdekaan daerah atau apapun namanya, tetapi masih disebut negara Indonesia seperti yang berlaku di USA yang terdiri dari 50 negara bagian, Australia 6 negara bagian, Venezuela 23 negara bagian, UAE 7 negara bagian, Malaysia 13 negara bagian dan lain-lain yang lebih 75% negara didunia menganut sitem federal. Mereka masih tetap dengan bangganya mengatakan saya orang Amerika, Australia, dan sebagainya. Mereka tidak mengatakan saya orang negara bagian dsbnya. Ataukah kita sepakat rela, ridho, tawakal saja untuk selamanya sampai hari kiamat merasakan penderitaan, kesakitan dan penyiksaan ini. Padahal Tuhan telah menganugrahkan kita akal untuk berpikir realistis dan fleksibel mencari jalan dan cara yang lebih baik dan terbaik untuk kemakmuran bersama, untuk pembangunan bersama, untuk masa depan bersama. sehingga tidak terkesan bahwa negara ini hanya milik mereka, dibawah kuasa mereka dan kita-kita ini hanyalah menompang dan menjadi masyakarat kelas kedua di negara yang menjadi warisan nenek moyang kita ribuan tahun lamanya ini? Bukan negara seperti ini yang mau diperjuangkan oleh pahlawan Islam yang berjuang mati-matian sampai tetesan darah terakhir seperti Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai, Diponegoro, Cut Nyak Din, Raja Haji dll dan jutaan ummat Islam yang berjuang dengan mereka lainnya. 19 Mei 1998 Soeharto memanggil sembilan tokoh Islam seperti Nurcholis Madjid, Abdurachman Wahid, Malik Fajar, dan KH Ali Yafie. Dalam pertemuan yang berlangsung selama hampir 2,5 jam (molor dari rencana semula yang hanya 30 menit) itu para tokoh membeberkan situasi terakhir, dimana eleman masyarakat dan mahasiswa tetap menginginkan Soeharto mundur. Permintaan tersebut ditolak Soeharto. Ia lalu mengajukan pembentukan Komite Reformasi. Pada saat itu Soeharto menegaskan bahwa ia tak mau dipilih lagi menjadi presiden. Namun hal itu tidak mampu meredam aksi massa, mahasiswa yang datang ke Gedung MPR untuk berunjukrasa semakin banyak. Sementara itu Amien Rais mengajak massa mendatangi Lapangan Monumen Nasional untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional. 20 Mei 1998 Jalur jalan menuju Lapangan Monumen Nasional diblokade petugas dengan pagar kawat berduri untuk mencegah massa masuk ke komplek Monumen Nasional namun pengerahan massa tak jadi dilakukan. Pada dinihari Amien Rais meminta massa tak datang ke Lapangan Monumen Nasional karena ia khawatir kegiatan itu akan menelan korban jiwa. Sementara ribuan mahasiswa tetap bertahan dan semakin banyak berdatangan ke gedung MPR / DPR. Mereka terus mendesak agar Soeharto mundur. 21 Mei 1998 Di Istana Merdeka, Kamis, pukul 09.05 Soeharto mengumumkan mundur dari kursi Presiden dan BJ. Habibie disumpah menjadi Presiden RI ketiga. Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/politic/2415932-sejarah-reformasi/#ixzz2zXjggcU0
/[ 0 comments Untuk Artikel Sejarah Reformasi]\

Post a Comment