Social Bookmarking
Upaya Pengelolaan Sampah
Unknown || Thursday, April 17, 2014 || Lingkungan Hidup || Leave a comments
Sampai saat ini sampah masih menjadi permasalahan yang belum terpecahkan khususnya bagi kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan lain – lain. Permasalahan ini timbul terutama karena besarnya volume sampah, keterbatasan lahan untuk pembuangan akhir yang diiringi dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, dimana hal ini ditunjang pula oleh adanya teknis pengelolaan sampah yang masih konvensional.
Pengelolaan sampah perkotaan khususnya pada daerah pemukiman sampai saat ini umumnya dilakukan melalui tahapan kegiatan sebagai berikut, yaitu: pewadahan tercampur dari rumah tangga, pengumpulan sampah dari rumah-rumah ke LPS (meliputi depo atau landasan), pengangkutan sampah baik langsung dari sumbernya ke LPA (Lahan Pembuangan Akhir) atau dari LPS (Lahan Pembuangan Sementara) ke LPA, sampai pada pembuangan akhir sampah di LPA.
Permasalahan timbul karena umumnya pengumpulan sampah di LPS dilakukan secara tercampur, sedangkan pengangkutan sampah baik dari sumber maupun dari LPS ke LPA tidak dilakukan tiap hari. Timbunan sampah lebih dari dua hari ini yang menimbulkan bau tak sedap, lalat, dan lindi yang dapat meluber ke jalanan.
Hal di atas dapat disebabkan karena letak LPA yang sangat jauh dari LPS. Bahkan di kota – kota besar dimana cukup sulit untuk mencari lahan yang bisa dijadikan LPA, tidak jarang penempatan LPA harus dilakukan di pinggiran kota bahkan luar kota. Di Surabaya dimana wilayahnya terbagi atas 5 bagian (Surabaya Pusat, Utara, Barat, Timur, dan Selatan) penempatan LPA dilakukan di wilayah Surabaya bagian barat (LPA Benowo), karena masih tersedianya lahan yang cukup luas untuk pembangunan LPA dan letaknya yang berjauhan dengan daerah pemukiman. Hal ini menimbulkan masalah mengenai jauhnya jarak yang harus ditempuh untuk mengangkut sampah dari LPS khususnya di wilayah Surabaya Timur seperti kecamatan Sukolilo.
Untuk mengatasi permasalahan ini perlu dilakukan pengelolaan sampah lebih dekat ke sumbernya, hal ini diperkuat pula karena tanggung jawab Dinas Kebersihan Kota Surabaya hanya pada pengangkutan sampah dari LPS menuju LPA, sedangkan pengelolaan sampah dari masing – masing rumah tangga sampai pada LPS menjadi tanggung jawab masyarakat (RTRW Kota Surabaya 2013).
Secara garis besar, sampah perkotaan mengandung 10% (berat) bahan yang langsung dapat di daur-ulang (kertas, besi, kaleng,dsb), 50% bahan organik dan 40% residu. Dengan demikian maka 60% (berat) sampah dapat di daur ulang : 10% melalui penggunaan kembali, dan 50% melalui pengomposan (Anonim,1992). Data dari Dinas Kebersihan Kota Surabaya menyebutkan dari total volume sampah harian kota Surabaya, 79,19%-nya merupakan sampah yang berasal dari pemukiman .
Berdasarkan kenyataan di atas dilakukan upaya untuk mengatasi permasalahan sampah kota, yaitu dengan melakukan upaya daur ulang sampah organik dengan penekanan pada proses pengomposan. Dimana proses pengomposan ini merupakan salah satu kegiatan reduksi sampah yang dapat dilakukan di sumber sampah. Di Surabaya telah dilakukan beberapa kegiatan pengomposan skala komunal seperti yang dilakukan di Depo Karah dan Depo Bratang. Selain itu kegiatan pengomposan secara individu juga sudah dilakukan oleh sebagian warga yang berada di kelurahan Kalirungkut, Rungkut Kidul, Jambangan dan Menanggal.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka perencanaan kali ini akan mengelola sampah yang berasal dari pemukiman melalui pengomposan yang dilakukan untuk mereduksi timbunan sampah. Bayangkan yang terjadi bila 79,19% sampah perkotaan sudah tertangani sebanyak 50%, maka tiap harinya LPA Benowo akan menerima sampah kurang dari 8700 m3/hari (Dinas Kebersihan Kota Surabaya), bahkan timbunan sampah di LPS tidak akan menunggu sampai berhari-hari lagi.
Dipilihnya perumahan Semolowaru Indah sebagai obyek perencanaan dikarenakan, perumahan ini merupakan salah satu lokasi pemukiman teratur yang berada di wilayah Surabaya Timur yang mewakili jenis perumahan kelas menengah dengan kondisi masyarakat yang cenderung terbuka dan kooperatif. Hal ini dinilai akan memberikan pengaruh terhadap pencapaian keberhasilan kegiatan pengelolaan sampah.
Perencanaan pengelolaan sampah perumahan Semolowaru Indah ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu : volume timbulan sampah yang dikelola relatif sedikit, adanya reduksi volume sampah sebelum dibawa ke LPA sehingga menghemat biaya dan waktu pengangkutan sampah, adanya keterlibatan masyarakat yang cukup besar, serta kemudahan dan biaya yang relatif lebih murah dalam mengelola sampah.
Sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2415451-sebagai-contoh-pengolahan-sampah/#ixzz2zD4Hq8yI
Post a Comment