Sebuah pengalam telah terukir di tanah Karangkobar, Banjarnegara. Bancana Tanah Longsor yang telah terjadi menjadikan banyak bantuan untuk segera dilakukan di tahan ini, mulai dari bantuan logistik dan tenaga. Pada hari Jum'at bencana ini terjadi, dan kemudian hari Sabtu mulai berdiskusi terkait penyaluran bantuan dan hari Minggu berangkat ke Lokasi TKP. perencanaan yang kurang matang membuat banyak waktu yang terbuang.
Minggu, 14 Desember 2014 Presiden RI berkunjung, itulah penyebab utama macet di Banjarnegara. Tenaga yang seharusnya digunakan untuk menolong Banjarnegara malah terhambat di jalan selama berjam-jam. Berangkat memakai sepeda motor dengan jumlah 9 motor. dan sangat luar biasa karena banyak rintangan yang menghalangi setiap niat baik, sebagai Relawan Banjarnegara. Surat tugas dari organisasi Pecinta Alam menjadi penghalang utama untuk bisa masuk ke gerbang pertama, karena suratnya belum sempat dibuat dan disahkan.
setelah usai kunjungan Presiden, rintangan kedua adalah macatnya jalan. jalan utama ditutup sehingga dialihkan ke jalan lain. saat itu saya dan teman saya berarti berjumlah dua orang berpisah dengan rombongan, dan bertemu dengan mobil TNI Bandung, mencari tumpangan untuk bisa sampai ke lokasi. Alhasil mobil TNI berhenti di Posko TNI, ini adalah tempat baru yang tak dikenal sama sekali. setelah mencari info, ternyata itu adalah lokasi pengungsian warga. kemudian saya ikut mobil BRI yang akan menyalurkan subsidi air minum ke Posko Induk. Belum berhenti sampai disitu, ditengah jalan Mobil BRI transit ke Posko BRI yang lainnya.
Sungguh luar biasa pengalaman ini, selanjutnya saya dan teman saya di oper ke Mobil Basarnas, karena kebetulan Mobil Basarnas akan menuju ke Posko Induk. Dalam perjalanan lumayan melegakan, karena ditempat baru ini bertemu dengan orang baik hingga akhirnya tersambung lagi dengan rombongan.
Penempatan relawan laki-laki dan perempuan dibedakan, laki-laki sebagai Tim Sar pencari korban di TKP, sedangkan perempuan sebagai Tim Penyaji Gizi Makanan di Dapur Umum. selama tiga hari saya di Dapur Umum, memotong, memasak, membungkus makanan dengan jumlah ribuan tiap kali waktu makan. Sungguh tidak ada hentinya, ternyata pekerjaan di Dapur Umum sama beratnya menjadi Tim Sar. Banyak pengalaman dan kejadian yang bisa kuambil pelajaran. Mereka adalah orang-orang baru yang memiliki jasa untuk orang lain. Terkesan bisa berada bersama mereka, mengenal kisah mereka yang berjuang untuk sesama.

Post a Comment