"Layaknya seekor unta yang mati kehausan di tengah padang pasir | Padahal di punggungnya dia membawa air"
Perumpamaan ini sangat cocok menggambarkan kondisi negeri-negeri muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sumber daya alamnya melimpah ruah, kekayaannya tersebar di mana-mana, di dalam perut bumi, di lautan lepas, di tengah hutan yang luas, di gunung-gunung.
Ada emas, tembaga, batubara, gas, dan lain-lain, semuanya kita punya dalam jumlah sangat besar, yang merupakan karunia Allah SWT bagi penduduk negeri ini. Sayangnya, SDA yang melimpah itu tidak bisa dinikmati oleh rakyat sebagai pemiliknya yang sah. Jadi, meski di dalam perut buminya penuh kekayaan alam, tapi penduduk di atas buminya hidup dalam kemelaratan dan kesengsaraan...
MENGAPA?
Ini terjadi, karena air yang di punggung unta itu memang bukan untuk si unta. Itu adalah jatah minum majikannya.
Karena kekayaan alam negeri ini memang tidak dipergunakan untuk memakmurkan rakyatnya. Itu adalah jatah "sang majikan" asing.
Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus....
Asing akan leluasa berpesta....
Sementara rakyat sendiri semakin menderita...
Hentikan kontrak asing...
Ambil alih pengelolaan migas...
Gunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat...
Dikutip dari Ade Maulana Fadhilah
Post a Comment