Sebagai seorang Pecinta Alam harusnya memiliki dasar-dasar ilmu kepecintaalaman dengan baik dan benar penguasaannya sehingga ketika dituntut di lapangan untuk mempraktekkannya tidah kececeran. Dalam ruang lingkup yang kecil biasanya ada penjurusan devisi, diantaranya devisi Gunung Hutan, Rock Climbing dan Caving. Namun kali ini yang banyak dibahas adalah Rock Climbing. Seperti kata pepatah berjalan di medan vertikal lebih menantang daripada berjalan di medan horisontal. Apakah itu benar?
Bagi seorang cowok pasti benar, karena ketika dia sudah masuk di devisi Rock Climbing dia pasti memiliki kewajiban untuk memperdalam ilmu tentang RC. Sehingga wajar saja anak RC kebanyakan tubuhnya berbentuk Sispek dan bagus, karena menu makanan mereka adalah main wall/bolder/tebing. Beda halnya seorang cewek, untuk kaum hawa lebih susah mengkondisikan menjadi seorang anak RC, karen latar belakang cewek yang jarang ada yang mampu melakukan olahraga Pull-up. Dalam survei menyatakan memang kondisi cewek lebih susah dan berat untuk melakukan Pull-up daripada seorang cewek.
Menjadi seorang atlek RC pasti banyak yang mengagumi, karena cowok yang bisa berjalan dibidang vertikal ebanyakan memiliki nyali dan mental lebih besar daripada yang hidup di medan horisontal. Hal ini membuat seorang cewek selalu berfikir untuk kedepannya akan lebih baik. Di Indonesia terdapat banyak kompetisi yang diselenggarakan untuk mengembangkan kemampuan RC-nya sehingga banya lomba-lomba yang bertaraf Nasional untuk menguji mental mereka. Seperti contoh Lomba Panjat Dindig dengan kategori LEAD dan SPEED, dimana dua kategori ini menjadi familiar di dunia anak RC. Perlombaan yang hanya memakan waktu 15 menit ini kemudian harus dilatih berbulan-bulan untuk mendapatkan hasil terbaik.
Anak RC berbeda dengan anak GH dan Caving, mereka lebih menitik beratkan pada teknik peyelamatan/Vertical Rescue di medan miring. Siapa sangka bahwa kebanyakan anak RC menjadi idola para gadis yang mengidolakan tubuh Sispek, dan itu wajar terjadi.
Sumber:
Post a Comment